Presiden Joko Widodo bersama Menteri PUPR Basuki Hadimuljono meninjau konstruksi Bendungan Paselloreng di Desa Arajang Kecamatan Gilireng, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Pada periode 2015-2019 Kementerian PUPR menargetkan pembangunan 65 bendungan yang terdiri dari 49 bendungan baru dan 16 bendungan lanjutan.
Sebanyak delapan bendungan yang mulai dikerjakan 3-4 tahun lalu akan selesai tahun 2018. Delapan bendungan tersebut, yakni Bendungan Rotiklot di NTT, Bendungan Tanju, Mila di NTB, Bendungan Gondang dan Logung di Jawa Tengah, Bendungan Sei Gong di Batam, Bendungan Sindang Heula di Banten dan Bendungan Kuningan di Jawa Barat.
Untuk Bendungan Paselloreng progres konstruksinya sudah 73,3% dan ditargetkan selesai akhir Februari 2019. Kapasitas tampungnya 10 kali lebih besar dibandingkan Bendungan Raknamo yang diresmikan Presiden Jokowi awal 2018 lalu sebesar 13,5 juta m3 dan lima kali lebih besar dari Bendungan Kuningan yang berkapasitas 25 juta m3.
Bendungan multifungsi ini juga dimanfaatkan sebagai sumber air baku untuk empat kecamatan di Kabupaten Wajo sebesar 305 lt/detik, Konservasi Sumber Daya Air, pengendalian banjir Sungai Gilireng (1002 m3/detik), perikanan air tawar, pengembangan Pariwisata, dan potensi listrik 0,8MW.
Konstruksi bendungan telah dimulai Juni 2015 dan ditargetkan selesai lebih cepat empat bulan dari jadwal kontrak, yakni Juli 2019 menjadi selesai akhir Februari 2019. Untuk pengadaan lahan, dari luas yang dibutuhkan 1.849,88 ha, sudah dibebaskan 681,98 ha (36,87%) sisanya dalam proses penyelesaian pembayaran bertahap.
Konstruksi Bendungan Paselloreng dikerjakan oleh PT. Wijaya Karya – PT. Bumi Karsa, KSO (Kerjasama Operasi) dengan biaya Rp 736 miliar. Sementara sebagai konsultan supervisi adalah PT. Mettana, PT. Timor Konsultan, PT. Raya Konsultan KSO dengan nilai kontrak supervisi sebesar Rp 37,5 miliar.