Jokowi Tunjuk Empat Staf Khusus Komunikasi Baru, Untuk Apa?

News - Arys Aditya, CNBC Indonesia
15 May 2018 16:09
Total empat orang masuk sebagai Staf Khusus Komunikasi Presiden.
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Joko Widodo menambah empat orang staf khusus komunikasi.

Dua nama yang baru masuk ke lingkar istana sudah cukup dikenal publik yakni Dirjen Pembangunan Kawasan Desa Ahmad Erani Yustika dan VP Corporate Communications Telkomsel Adita Irawati.

Sementara itu, dua nama lainnya adalah Abdul Ghofarruzin dan Siti Dhzu Hayatin.


Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengungkapkan penambahan staf khusus itu didasarkan pada kebutuhan komunikasi kepresidenan yang semakin kompleks.

Keempat nama tersebut disebut Pram telah berhenti dari jabatan dan profesinya sebelum masuk ke istana.

"Keppres sudah ditandatangani dan berlaku. Nggak perlu dilantik. Sudah mulai kerja, kemarin koordinasi dengan Mensesneg dan saya. Administrasi manajerial di bawah Seskab," ungkap Pramono di Kompleks Istana Kepresidenan, Selasa (15/8/2018).

Adapun, Ahmad Erani merupakan dosen Universitas Brawijaya yang kemudian ditarik menjadi Dirjen Pembangunan Kawasan Pedesaan Kementerian Desa PDTT. Ahmad Erani terkenal sebagai ekonom INDEF yang fokus dalam ekonomi pertanian dan kewilayahan.

Pramono menuturkan penunjukan Erani karena latar belakang ekonomi yang mentereng. Sebagai mantan dirjen desa, lanjutnya, Erani juga sangat memahami persoalan dana desa.

"Dana desa sekarang Rp 60 triliun, dia pakar di bidang itu [dana desa]. Beliau memahami masalah dana desa sehingga diperlukan, selain berkaitan dengan ekonomi," tuturnya.

Sementara itu, Adita Irawati merupakan lulusan Universitas Gadjah Mada yang juga almamater dari Presiden Jokowi. Adita menghabiskan lebih dari 20 tahun karirnya dengan malang melintang di berbagai korporasi, seperti Indosat dan PT Penjaminan Infrastruktur sebelum menjabat sebagai Vice President Corporate Communications PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel).

Seskab menyebut penunjukan Adita lebih dilandasi untuk memperbaiki pola komunikasi di internal pemerintahan dan kementerian/lembaga.

"Kehumasan kita rata-rata di K/L pakai pola lama. Padahal di era medsos, butuh yg memahami medsos, membuat framing, membangun konten, apalagi medsos. Butuh orang yang ahli di bidang itu," ujarnya.



(ray/ray)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading