Sebuah ogoh-ogoh atau patung raksasa yang terbuat dari bambu dan kertas dalam budaya Bali diarak sambil diiringi tarian tradisional Pulau Dewata di Festival Ogoh-ogoh Ancol, Jakarta, Minggu (18/3/2018). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Ancol Ogoh-Ogoh Festival ini pertama kali diadakan di Taman Impian Jaya Ancol. Pawai ogoh-ogoh berskala besar seperti ini terakhir kali dilaksanakan tahun 2015 di kawasan Monumen Nasional (Monas). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Sebagai tempat wisata yang sarat dengan sarana hiburan, Ancol berusaha menghadirkan nilai-nilai edukasi dan menumbuhkan persatuan dalam keragaman budaya yang ada di Indonesia. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Ogoh-goh merupakan karya seni patung dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala atau roh jahat, yang merepresentasikan kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (Kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Festival ini diawali dengan parade ogoh-ogoh yang akan berjalan sepanjang pantai Ancol timur dimulai dari Kuburan Belanda (Ereveld), melintasi jajaran Pantai Lagoon menuju pantai Beachpool, dalam jarak kurang lebih 800 meter.
Festival yang bekerjasama dengan Parisada Hindu Darma Indonesia ini dimeriahkan oleh parade kolosal ogoh-ogoh, musik gamelan Baleganjur, dan ratusan penari tradisional Bali. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Tiap ogoh-ogoh diangkat oleh puluhan pria yang biasa disebut dalam bahasa Bali sebagai Penegen dan diringi dengan iringan musik gamelan khas bali, yaitu baleganjur, serta dikoreografikan dalam sebuah cerita berpadu dengan tari-tarian Bali. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)Â Â
Tradisi mengarak ogoh-ogoh di Bali dilaksanakan pada hari pengerupukan, atau sehari sebelum Hari Raya Nyepi. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)