Antara Hari Darmawan, Matahari dan Lippo

News - Raditya Hanung, CNBC Indonesia
10 March 2018 16:57
Antara Hari Darmawan, Matahari dan Lippo
Jakarta, CNBC Indonesia - Kabar duka menyelimuti industri ritel nasional, salah satu tokoh besar di industri ini, Hari Darmawan, meninggal dunia. Figur yang dulu dikenal sebagai pendiri Matahari meninggal dunia karena dugaan serangan jantung saat sedang beraktivitas.

Presiden Direktur PT Matahari Departemen Store Tbk (LPPF) Benjamin J. Mailool menyampaikan hal tersebut saat dihubungi CNBC Indonesia. "Bukan kecelakaan, mungkin itu heart attack," ungkap Benjamin ketika dihubungi CNBC Indonesia, Sabtu (10/3/2018).

Sejak pagi, memang beredar kabar bahwa Hari ditemukan meninggal karena kecelakaan di kawasan Sungai Ciliwung. Belum diketahui secara pasti bagaimana Hari bisa berada di lokasi.


Tim riset CNBC Indonesia dalam kesempatan ini mengulas bagaimana profil Hari Darmawan dan sejarah PT Matahari Department Store.

Melansir buku Prominent Indonesian Chinese: Biographical Sketches, Hari Darmawan lahir di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, pada tanggal 27 Mei 1940, dengan nama asli Tan Tjan Hok. Beliau merupakan putra dari Tan A Siong yang dikenal sebagai pengusaha keturunan Tionghoa di Makassar yang banyak bergelut di industri pertanian.

Hari Darmawan kecil menjadi saksi hidup bagaimana bisnis keluarganya bangkrut, dan bagaimana orang tuanya kembali menekuni usaha dari titik nol. Namun, di sisi lain, latar belakang kehidupan yang keras seolah menempa Hari Darmawan menjadi sosok yang tekun dan tidak mudah menyerah.

Setelah menyelesaikan pendidikan di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), beliau memutuskan untuk merantau dan mengadu nasib di Jakarta. Dalam pergulatannya di ibu kota, Hari Darmawan bertemu dan akhirnya menikah dengan putri pemilik toko "Mickey Mouse", sebuah department store kecil di Pasar Baru.

Ayah mertuanya kemudian menjual tokonya tersebut kepada Hari Darmawan. Di bawah tangan dingin Hari Darmawan, toko "Mickey Mouse" dapat berekspansi dengan cepat. Pada tahun 1968, beliau membeli department store terbesar di Pasar Baru yang bernama Toko "De Zon" (Bahasa Belanda, yang artinya "matahari"). Tak lama kemudian, Hari Darmawan mengganti nama tokonya menjadi "Matahari". Inilah cikal bakal PT Matahari Putra Prima Tbk saat ini.

Di tokonya, Hari Darmawan menjual berbagai macam kebutuhan sandang seperti pakaian dan celana yang kemudian disusun dalam beberapa bagian yang terpisah dalam bentuk counter. Sejak berdirinya, Toko Matahari terus menerus diserbu oleh pengunjung yang dikenal sebagai tempat belanja yang modern dan nyaman bagi orang-orang di Jakarta. Atas keberhasilannya tersebut, Matahari optimis untuk mengembangkan sayap dengan membuka Sinar Matahari di Bogor pada tahun 1980.

Mengutip biografiku.com, Matahari kemudian berkembang dengan pesat sebagai toko serba ada yang modern dan nyaris tanpa saingan pada tahun 1990-an. Masa itu dikenal sebagai masa keemasan dari Matahari Department Store.

Gencarnya pembangunan mal-mal baru di Jakarta membuat gerai gerai baru dari Matahari bermunculan. Pada tahun 1991, Hari Darmawan berekspansi dengan membuka Supermarket Super Bazaar. Supermarket ini kemudian berganti nama menjadi Matahari Supermarket pada tahun 2000.

Hingga kemudian muncul saingan besar yang bernama Ramayana Department Store milik Paulus Tumewu. Hari Darmawan lantas semakin agresif dalam mengembangkan Matahari.

Pada 1992, beliau kemudian menjual sejumlah sahamnya di lantai bursa dengan nama PT Matahari Putra Prima Tbk, dan berhasil mendapatkan dana sekitar Rp 400 miliar untuk membangun 1000 gerai baru. Sebagai tambahan, beliau juga bekerja sama dengan Leisure & Allied Industries dari Australia dalam membuka wahana bermain Timezone pada tahun 1994.

Pada tahun 1996, secara mendadak publik dibuat terkejut saat Hari Darmawan sepakat untuk menjual sebagian besar saham Matahari Department Store ke James Riady, seorang bankir muda putra dari Mocthar Riady, melalui Lippo Group. Dugaan yang muncul, langkah tersebut dilakukan karena Hari Darmawan terlilit utang dari Lippo Group dengan nilai mencapai Rp 1 triliun. Apalagi saat itu, bisnis Hari Darmawan juga ikut terdampak krisis moneter 1997-1998.

Sejak itu, Matahari dikuasai oleh Lippo Group, meskipun Hari Darmawan masih menjadi presiden direktur di Matahari hingga tahun 2001. Setelah melepaskan jaringan ritel Matahari, kini Hari Darmawan tinggal di Kawasan Cisarua, Bogor.

Pria yang pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) tersebut lebih memilih menjadi social entrepreneur. Beliau pun memutuskan membangun Taman Wisata Matahari (TWM) pada tahun 2007 di atas lahan seluas 16,5 ha, untuk menggerakkan roda perekonomian rakyat sekitar. Kini, luas taman TWM telah berkembang menjadi 40 ha.

Spin Off Asset MPPA ke LPPF
Pada tahun 2002, di bawah kuasa Lippo Group, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) memisahkan bisnis inti menjadi bisnis independen dengan alasan kemajuan perusahaan. Sejak saat itu Matahari memiliki dua lini bisnis besar, yakni Matahari Department Store dan Matahari Supermarket.

Kemudian, pada tahun 2004, Matahari Supermarket memperkenalkan nama baru yakni Hypermart. Hanya selang 2 tahun, Hypermart berekspansi agresif dengan membuka 23 gerai di seluruh Indonesia.

Pada akhirnya, pada tahun 2009, perseroan memutuskan untuk melakukan spin-off untuk membentuk sebuah entitas baru yakni PT Matahari Departmen Store Tbk, dan melakukan backdoor listing di Bursa Efek Indonesia lewat perusahaan afiliasi MPPA, yaitu PT Pacific Utama Tbk (LPPF) anak usaha dari PT Multipolar Tbk (MLPL).

Mengutip laporan tahunan MPPA, jumlah yang didivestasikan untuk PT Matahari Depatment Store mencapai Rp 7,2 triliun pada tahun 2010. Pada tahun 2012, MPPA selesai mendivestasikan seluruh aset/bisnis non-intinya. Sejak saat itu, MPPA dan LPPF sudah berdiri di kakinya masing-masing.

MPPA saat ini telah mengoperasikan lebih dari 290 gerai Hypermart di seluruh Indonesia. Sementara itu, LPPF telah memiliki jaringan ritel Matahari Department Store yang tersebar ke 151 toko di 70 kota berikut gerai online MatahariStore.com.

Hingga saat ini, Hari Darmawan tidak lagi tercatat sebagai pemegang saham Matahari Departemen Store. Namun Hari mulai membangun taman rekreasi Taman Wisata Matahari di daerah Cisarua, Puncak, Jawa Barat.

TIM RISET CNBC INDONESIA
(hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading