Proyek 600 Megawatt dibiayai sebagian oleh Bank Exim China dan pemerintah Uganda masing-masing sebesar 85% dan 15%.
Alat berat terlihat melintang di proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Karuma berkapasitas 600 megawatt yang sedang dibangun di Sungai Nil, Uganda. (REUTERS/ James Akena)
Truk kontraktor membawa para pekerja menuju lokasi konstruksi proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Karuma berkapasitas 600 megawatt yang sedang dibangun di Sungai Nil, Uganda. (REUTERS/ James Akena)
Proyek berkapasitas 600 Megawatt itu dibiayai oleh Bank Exim China bersama pemerintah Uganda dengan porsi masing-masing 85% dan 15%. Total biaya proyek adalah US$1,7 miliar (Rp 23,2 triliun) sementara biaya untuk komponen pembangkit dan transmisi masing-masing sebesar $1,3 miliar dan $400 juta. (REUTERS/ James Akena)
Pekerja kontraktor merakit baja untuk pembangunan proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Karuma berkapasitas 600 megawatt yang sedang dibangun di Sungai Nil. (REUTERS/ James Akena)
Proyek ini dimulai pada 2013 tahun lalu dan dijadwalkan berlangsung selama 60 bulan masa konstruksi. Sampai tahun ini proyek ini telah berjalan 50 bulan dan diperkirakan akan selesai Desember tahun ini. (REUTERS/ James Akena)
Seorang kontraktor mendorong gerobak material di terowongan di lokasi konstruksi proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Karuma berkapasitas 600 megawatt yang sedang dibangun di Sungai Nil, Uganda. (REUTERS/ James Akena)
Kontraktor merakit turbin proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Karuma 600 megawatt yang sedang dibangun di Sungai Nil, Uganda. (REUTERS/ James Akena)
Proyek berkapasitas 600 Megawatt ini dibiayai oleh Bank Exim China dan pemerintah Uganda masing-masing sebesar 85% dan 15%. (REUTERS/ James Akena)