Investasi di Indonesia, Takeda Life Sciences Bidik Pasar Regional

Teti Purwanti,  CNBC Indonesia
09 October 2026 16:21
President Director PT Takeda Life Sciences Andreas Gutknecht menyampaikan pemaparannya dalam acara Health Summit 2026 hadir dengan tema "The Rising of Indonesia's Healthcare Investment" di Menara Bank Mega, Jakarta, Kamis (8/10/2026). (CNBC Indonesia
Foto: President Director PT Takeda Life Sciences Andreas Gutknecht menyampaikan pemaparannya dalam acara Health Summit 2026 hadir dengan tema "The Rising of Indonesia's Healthcare Investment" di Menara Bank Mega, Jakarta, Kamis (8/10/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Kesehatan RI resmi menggandeng perusahaan biofarmasi global asal Jepang, Takeda untuk membangun ekosistem Produk Obat Derivat Plasma (PODP) di Indonesia. President Director PT Takeda Life Sciences, Andreas Gutknecht mengatakan Takeda bukanlah  pemain baru di Indonesia namun telah hadir selama 55 tahun, dengan komitmen untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Adapun investasi terbaru yang dilakukan adalah investasi tahap awal untuk membangun ekosistem plasma darah yang berkelanjutan di Indonesia.

"Indonesia merupakan contoh nyata dari situasi yang menguntungkan kedua belah pihak (win-win situation). Prioritas pemerintah Indonesia dan Takeda benar-benar sejalan. Sebagaimana disampaikan oleh Menteri Budi, Indonesia ingin membangun ketahanan kesehatan, khususnya dalam menjamin pasokan obat-obatan esensial yang diproduksi dari plasma darah," rinci Andreas dalam acara Health Summit yang digelar CNBC Indonesia di Jakarta, dikutip Jumat (9/10/2026).

Bukan cuma itu, Andreas melihat terjadi reformasi pada sektor kesehatan di Indonesia oleh karena itu, Takeda ingin mengambil keuntungan sebagai pelopor di Tanah Air. Namun dia memastikan bahwa investasi yang ditanamkan di Indonesia tidak hanya berorientasi pada pasar domestik, namun juga menjadi pasar regional.

"Kami tidak hanya berniat membangun fasilitas yang sepenuhnya berorientasi pada pasar domestik, tetapi juga mengembangkannya menjadi pusat regional yang sesungguhnya untuk pengumpulan plasma darah, manufaktur, ekspor, serta berbagai inovasi lainnya. Melalui investasi kami, Indonesia berpeluang memosisikan diri sebagai pusat manufaktur regional, bahkan internasional. Saya juga melihat situasi geopolitik, termasuk meningkatnya ketegangan di antara negara-negara berkekuatan besar, menempatkan Indonesia pada posisi yang baik untuk menjadi mitra terpercaya dalam jaringan pasokan global," jelas dia.

Secara jangka panjang, Andreas berharap investasi ini berjalan lancar dan bisa memasuki tahap selanjutnya sambil memperluas jaringan dan membangun pusat operasional bertaraf internasional. Selain itu, Andreas berharap bisa berhasil melatih tenaga kerja lokal sehingga mampu menjalankan operasional dengan standar keselamatan dan kualitas yang sangat tinggi.

"Yang paling penting, obat-obatan yang kami produksi benar-benar dapat menjangkau pasien," tegas dia.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (BGS) menyebut Indonesia kini sudah berhasil melakukan hilirisasi darah. Dia menjelaskan, salah satu masalah utama di sektor kesehatan saat ini adalah besarnya porsi impor alat kesehatan dan juga obat-obatan. Salah satu obat-obatan yang harganya mahal dan paling banyak diimpor antara lain adalah albumin dan IVIG. Keduanya merupakan produk turunan dari plasma darah.

Sayangnya, meski memiliki cadangan darah ke-4 terbesar di dunia, Indonesia masih ketergantungan pada impor albumin dan IVIG. Karena itu, Menkes melihat di sinilah pentingnya mendorong hilirisasi di bidang kesehatan.

"Kenapa kita tidak lakukan saja downstreaming?... Hilirisasi kan bukan hanya natural resources dalam bentuk ore, nickel ore, hilirisasi juga bisa datang dari blood (darah)," kata Budi.

Menurut Budi setelah sekian lama hanya mengandalkan impor, Indonesia sebentar lagi akan bisa memproduksi albumin sendiri setelah masuknya investasi senilai 300 juta dolar AS dari perusahaan Korea untuk membangun ekosistem pengolahan plasma darah pertama di Tanah Air. Mengingat kebutuhan dalam negeri yang tinggi, hilirisasi darah mutlak harus dilakukan.

Dia berharap program hilirisasi tersebut dapat mengundang investor lain untuk juga masuk dan berkontribusi dalam mengembangkan industri kesehatan di Indonesia.

Menkes sadar, dia tidak bisa hanya mengandalkan anggaran negara untuk membangun semua fasilitas tersebut. Karenanya, dia menjanjikan regulasi yang memberikan insentif kepada swasta agar tak ragu untuk berinvestasi di Indonesia.



(rah/rah) [Gambas:Video CNBC]

Most Popular
Features