Internasional

Peramal Krisis 2008 Beri Warning Bubble, Investasi Ini Bisa Ambruk

sef,  CNBC Indonesia
29 September 2026 19:55
NEW YORK, NY - NOVEMBER 23: Michael Burry attends "The Big Short" New York screening Ziegfeld Theater on November 23, 2015 in New York City.   Astrid Stawiarz/Getty Images/AFP (Photo by Astrid Stawiarz / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via
Foto: (Getty Images via AFP/ASTRID STAWIARZ)

Jakarta, CNBC Indonesia - Investor yang terkenal karena memprediksi krisis keuangan global 2008, Michael Burry, kembali menjadi sorotan. Kali ini, ia memperingatkan bahwa ledakan investasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) berpotensi berubah menjadi gelembung (bubble) yang bisa pecah lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.

Mengutip CNBC International, Senin (28/9/2026), Burry mengatakan dirinya mempercepat pandangannya mengenai risiko di sektor AI. Investor yang dikenal lewat taruhan besar melawan pasar properti Amerika Serikat (AS) sebelum krisis 2008 itu kini mengubah strategi investasinya terhadap sejumlah saham terkait AI.

Burry menyebut dirinya mulai beralih dari posisi short selling menjadi menggunakan opsi jual (put options) terhadap beberapa saham teknologi. Strategi tersebut memberikan peluang keuntungan apabila harga saham turun dalam periode tertentu.

"Dalam hal fundamental, saya mempercepat waktu perkiraan saya," tulis Burry dalam buletin investasinya. "Gelembung AI mungkin pecah lebih cepat daripada yang diperkirakan".

Burry juga mengungkapkan bahwa sebagian perubahan posisi investasi dilakukan untuk alasan pajak. Tetapi sebagian besar didorong oleh keyakinannya bahwa valuasi sejumlah perusahaan AI telah terlalu bergantung pada ekspektasi pertumbuhan yang tinggi.

Ia memperbesar posisi opsi jual terhadap sejumlah perusahaan, termasuk produsen chip Micron Technology, perusahaan infrastruktur AI Nebius, serta ETF semikonduktor iShares Semiconductor ETF (SOXX). Ia juga memperbarui posisi terhadap perusahaan perangkat lunak analitik data Palantir Technologies.

Belanja AI Tidak Berlanjut?

Dalam pandangannya, Burry mengutip riset dari perusahaan investasi Ares Management yang memperingatkan bahwa industri AI saat ini sangat bergantung pada asumsi belanja modal (capital expenditure) yang terus meningkat. Menurut laporan tersebut, masalah bisa muncul apabila pendapatan dari teknologi AI tidak mampu memenuhi ekspektasi investasi besar yang telah digelontorkan perusahaan.

Burry melihat jika perusahaan mulai meragukan potensi keuntungan dari investasi AI, sejumlah dewan direksi dapat mengubah strategi dan mengurangi belanja besar-besaran di sektor tersebut. Pandangan tersebut muncul ketika saham teknologi masih menjadi salah satu pendorong utama kenaikan pasar saham Amerika Serikat.

Siapa Michael Burry?

Nama Michael Burry dikenal luas setelah kisahnya diangkat dalam film "The Big Short". Ini menceritakan bagaimana ia bertaruh melawan pasar perumahan AS sebelum krisis finansial 2007-2009.

Saat itu, Burry melihat banyak kredit perumahan berisiko tinggi (subprime mortgage) yang dinilai terlalu mahal oleh pasar. Ia kemudian mengambil posisi yang berlawanan dengan mayoritas investor dan mendapatkan keuntungan besar ketika gelembung properti akhirnya pecah.

Kini, Burry kembali mengambil posisi berlawanan dengan arus utama pasar. Ia sebelumnya juga membandingkan kondisi pasar saham saat ini dengan periode menjelang pecahnya gelembung teknologi pada 1999-2000.

Meski demikian, saham teknologi tetap mencatatkan penguatan dan indeks Nasdaq Composite sempat mencapai rekor baru. Sejumlah saham yang menjadi target taruhan Burry juga masih berada di bawah level tertingginya, termasuk Micron yang tercatat turun sekitar 16% dari rekor harga dan Palantir sekitar 10% dari level tertingginya.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Video: Bos MI Bocorkan Racikan Investasi Saham - Reksa Dana Akhir 2026


Most Popular
Features