RS Abdi Waluyo Andalkan Teknologi untuk Diagnosa Pasien

Teti Purwanti,  CNBC Indonesia
24 September 2026 19:41
Konsultan Obstetri dan Ginekologi RS Abdi Waluyo, Sigit Pramono menyampaikan pemaparan dalam Road To CNBC Indonesia Awards 2026 kategori Best Healthcare di Jakarta, Kamis (24/9/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Konsultan Obstetri dan Ginekologi RS Abdi Waluyo, Sigit Pramono menyampaikan pemaparan dalam Road To CNBC Indonesia Awards 2026 kategori Best Healthcare di Jakarta, Kamis (24/9/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Departemen Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Abdi Waluyo, Sigit Pramono mengatakan bahwa saat ini medis tidak bisa lepas dari penggunaan teknologi, salah satunya AI. Menurutnya, teknologi sangat membantu tenaga medis untuk berbagai urusan, termasuk diagnosa agar bisa lebih cepat.

"Jadi diagnosa cepat, penanganan pasien juga lebih cepat, penjelasan ke pasien juga cepat. Jadi kita melakukan inform consent untuk step berikutnya itu sudah jelas. Dan juga untuk mengurangi biaya pemeriksaan lanjutan," ungkap dia dalam Road to CNBC Indonesia Awards 2026 Best Healthcare, Kamis (24/9/2025).

Apalagi di tengah perkembangan teknologi AI. Ia menuturkan, AI bisa mendiagnosa dan juga untuk terapetik dalam hal penggunaan alat-alat medis dan alat-alat bedah. Selain itu juga bisa meningkatkan presisi, meningkatkan patient safety, mengurangi komplikasi, recovery-nya lebih cepat, sehingga pasien bisa pulang.

"Dan yang kita inginkan juga less economic burden untuk pasien. Kita tahu bahwa zaman sekarang, zaman modern, mobilisasi pasien itu sangat tinggi. Mereka ingin datang, dapat diagnosa tepat, pengobatan tepat, pulang tanpa komplikasi. Kemudian mereka bisa up and about, bisa tugas ke sana kemari. Ya memang itu zaman yang modern ya, tidak bisa kita hindari," jelas Sigit.

Namun Sigit memastikan bahwa sesudah mendapatkan diagnosis yang tepat, tenaga kesehatan di Abdi Waluyo tetap melakukan evidence-based medicine. Yakni dengan memilih terapi yang terbaik untuk kondisi pasien, apalagi tidak dapat dipungkiri bahwa tiap pasien itu berbeda, dengan kultur pasien yang berbeda.

"Jadi pentingnya dalam evidence-based medicine ini, kita memang melakukan penerapan berdasarkan penelitian yang terakhir. Tergantung juga dari pengalaman klinikus, dan juga tergantung dari kultur pasien. Dan dengan penggunaan CT, CT Photon, dan MRI, yang penting kita mendapatkan diagnosa tepat, sehingga penanganan selanjutnya bisa cepat, tepat, dan akurat," pungkas Sigit.

(dpu/dpu) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Video: Amankan Penyaluran Kredit, Multifinance Manfaatkan Teknologi AI


Most Popular
Features