Ini Saran Pakar Keuangan Sebelum Ajukan Pinjaman di Pindar

Khoirul Anam,  CNBC Indonesia
13 August 2026 17:40
AdaKami
Foto: dok Istimewa

Jakarta, CNBC Indonesia - Pinjaman daring (pindar) kerap menjadi alternatif dalam mencari pinjaman dalam waktu cepat. Bahkan, tak sedikit dijadikan sebagai bantalan ekonomi untuk menjaga konsumsi dan cashflow.

Perencana Keuangan Profesional Rista Zwestika membeberkan beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum mengajukan pinjaman. Pertama adalah total pinjaman.

"Kalau kamu pinjem, totalnya berapa sih yang harus dikembalikan? Contoh, kalau saya pinjam 5 juta, dalam kurun waktu tadi 20-90 hari, kira-kira berapa harus saya kembalikan," ungkap dia dalam Peluncuran Kampanye Transparansi AdaKami, Kamis (13/8/2026).

Selanjutnya adalah tenor pengembalian pinjaman baik satu bulan, dua bulan, maupun tiga bulan. Kemudian jumlah cicilan yang perlu dibayar per bulan.

"Apakah jatuh temponya sebelum gajian? Atau jatuh temponya sesudah gajian? Yang agak repot kalau jatuh temponya sebelum gajian, makanya begitu ditagih, pusing kepalanya," tutur Rista.

Lalu besaran bunga pinjaman. Menurut dia sebaiknya jumlah bunga pinjaman tidak lebih besar daripada pokoknya yang dipinjam.

Terakhir adalah gagal bayar. Peminjam perlu memperhatikan risiko jika terjadi gagal bayar.

"Jadi banyak hal yang harus kita perhatikan sebelum berutang. Nggak asal main cepet cair, nggak asal main pengen banyak," ungkap dia.

Rista menjelaskan posisi utang dalam piramida perencanaan keuangan berada pada level paling bawah. Ketika seseorang memiliki uang, hal yang harus dilakukan adalah mengelola uang tersebut.

Setelah dapat mengelola keuangan tersebut, seseorang dapat menyiapkan mitigasi, seperti mengembangkan aset hingga menyiapkan warisan. Adapun dia menegaskan jumlah utang tidak boleh melebihi 30% dari pendapatan.

"Jadi utang itu ada di formulasi bagian bawah," tegas Rista.

Rista mengungkapkan berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan total pengguna pinjaman daring mencapai 146,5 juta akun pada 2026. Adapun total pinjaman yang masih berjalan (outstanding) mencapai Rp 105,14 triliun per Juni 2026.

Sedangkan untuk kategori gendernya, jumlah peminjam laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan dengan masing-masing porsi sebesar 59,65% dan 49,35%.

Tujuan penggunaan Pindar di antaranya untuk membeli barang dengan cicilan sebanyak 23,02%, memenuhi kebutuhan mendesak sebesar 21,77%, belanja kebutuhan sehari-hari sebesar 17,73%, serta diskon dan promosi sebanyak 12,13%.

"Dengan angka tinggi ini, ternyata gagal bayarnya juga cukup tinggi. Salah satunya karena ketidaktahuan bagaimana sih proses pada asal pengajuan mau berutang tadi," ungkap Rista.

Dalam kesempatan yang sama, Brand Manager PT Pembiayaan Digital Indonesia (AdaKami) Jonathan Kriss menjelaskan edukasi perlu menjadi perhatian bagi para penyedia platform pindar demi memitigasi gagal bayar.

"Jadi memang spektrum edukasi tidak bisa berhenti. Kita ngajarinya milenial, mungkin topiknya udah lebih advance, tapi buat gen Z kita back to basic lagi. Jadi itu salah satu upayanya," ungkap dia.

Selain itu pihaknya melakukan pemetaan risiko dengan mengukur kemampuan bayar setiap pengguna. Menurut dia saat ini Adakami banyak melakukan penolakan pengajuan pinjaman dari para pengguna.

"Jadi nomor satu sekarang, sudah sejak satu setengah tahun yang lalu, komplain tertinggi adalah pinjaman ditolak. Jadi di Adakami memang tidak semua pinjaman itu kita approve," ungkap Jonathan.

(dpu/dpu) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Kenali Perbedaan Dana Darurat dan Tabungan


Most Popular
Features