Rekening Dibobol Hacker, Uang Hilang Bisa Diganti Asuransi?
Jakarta, CNBC Indonesia - Menyimpan uang di bank kini semakin mudah karena semua transaksi cukup dari genggaman tangan. Transfer, pembayaran tagihan, belanja, investasi, hingga mengelola tabungan bisa dilakukan hanya melalui ponsel.
Namun, kemudahan tersebut datang bersama risiko baru. Kejahatan siber kini tidak lagi sekadar soal pencurian data pribadi. Jika pelaku berhasil mengambilalih akun, nomor telepon, perangkat, atau kredensial korban, dampaknya bisa langsung terasa pada rekening dan aset finansial.
Data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat telah terjadi 1,52 miliar serangan siber sepanjang semester I/2026. Di pihak lain, OJK bersama Indonesia Anti-Scam Center (IASC) mencatat sekitar 608.000 laporan penipuan siber sejak November 2024 hingga Juni 2026 dengan total kerugian mencapai Rp7,5 triliun.
Artinya, bagi masyarakat yang semakin bergantung pada layanan digital, menjaga keamanan finansial tidak cukup hanya dengan menggunakan password kuat atau mengaktifkan autentikasi dua faktor. Asuransi siber pribadi mulai relevan sebagai lapisan perlindungan finansial tambahan.
Pembobolan Rekening
Pada 2023, sebuah kasus pembobolan rekening nasabah menunjukkan bagaimana serangan digital dapat menguras tabungan. Seorang nasabah asal Malang bernama Irwan Gema dilaporkan kehilangan sekitar Rp549 juta setelah membuka file yang dikirim melalui WhatsApp.
Setelah file tersebut dibuka, ponselnya mengalami gangguan atau blank dan kemudian terjadi dua transaksi yang tidak dilakukan oleh korban, masing-masing sebesar Rp500 juta dan Rp49,9 juta. Pelaku hanya menyisakan uang Rp90.000 di saldo tabungan korban.
Kasus tersebut menunjukkan satu hal penting yaitu serangan siber tidak selalu terlihat seperti aksi hacker yang rumit. Pelaku dapat menggunakan phishing, file atau aplikasi palsu, malware, pencurian OTP, SIM swap hingga social engineering.
Dalam kasus lain yang viral pada 2025 menunjukkan bahwa pelaku kejahatan siber bahkan dapat mengambil alih jalur autentikasi melalui nomor telepon, SMS OTP atau email tanpa harus menguasai ponsel korban secara langsung.
Mengenal Asuransi Siber
Di sinilah masyarakat perlu memahami perbedaan antara keamanan digital dan transfer risiko finansial. Antivirus, password manager, autentikasi dua faktor dan kebiasaan tidak sembarangan mengklik tautan merupakan upaya pencegahan.
Sementara itu, asuransi siber bekerja sebagai lapisan perlindungan ketika risiko yang dijamin benar-benar terjadi. Produk personal cyber insurance yang tersedia di Indonesia menunjukkan bahwa cakupannya dapat melampaui sekadar pencurian uang.
Sebagai contoh, salah satu produk asuransi siber Personal Lines dari salah satu perusahaan asuransi swasta nasional memberikan manfaat seperti: pencurian dana akibat akses tidak sah ke rekening, kartu kredit/debit atau mobile wallet; phishing atau email spoofing; pencurian identitas; transaksi atau belanja daring yang menimbulkan kerugian; pemulihan data dan dekontaminasi malware; penggantian perangkat keras dalam kondisi tertentu; dan pemerasan siber.
Ini penting karena kerugian akibat cybercrime sering kali tidak berhenti pada saldo rekening. Korban bisa membutuhkan jasa ahli IT untuk memulihkan perangkat, menghadapi pencurian identitas, melakukan pemantauan identitas atau bahkan mengeluarkan biaya untuk proses hukum.
Pasar asuransi siber pribadi di Indonesia mulai berkembang dan model produknya semakin beragam. Misalnya, MSIG Indonesia menggandeng Jenius by SMBC Indonesia baru saja meluncurkan Asuransi Siber Personal Lines yang melindungi transaksi keuangan digital nasabah dari berbagai risiko kejahatan siber. Premi yang ditawarkan mulai dari Rp70.000 per tahun dengan nilai pertanggunan hingga Rp50 juta per periode pertanggungan.
Chubb Indonesia bersama Bank DBS Indonesia menawarkan Cyber Guard dengan premi mulai Rp60.000 untuk perlindungan hingga Rp10 juta dan Rp150.000 untuk perlindungan hingga Rp50 juta. Perlindungannya antara lain mencakup transaksi tidak sah, pengambilalihan akun akibat phishing/spyware/malware dan social engineering, sesuai syarat dan ketentuan polis.
Sebelumnya, BCAinsurance juga telah menawarkan Personal Cyber Insurance dengan premi mulai dari Rp8.750. Produk tersebut dirancang untuk memberikan perlindungan terhadap risiko transaksi pembayaran internet, belanja online dan biaya administratif akibat pencurian identitas online.
Keberadaan produk asuransi siber tersebut menunjukkan bahwa produk cyber insurance untuk individu sebenarnya sudah mulai tersedia di Indonesia, meskipun distribusi dan manfaatnya masih sangat beragam.
Siapa yang Butuh Asuransi Siber?
Tidak harus orang kaya yang memerlukan perlindungan asuransi siber. Justru kuncinya adalah pada seberapa besar ketergantungan individu terhadap aktivitas digital. Semakin besar ketergantungan seseorang terhadap aktivitas digital, semakin relevan perlindungan asuransi siber.
Kelompok yang patut mempertimbangkannya antara lain: pertama, pengguna mobile banking aktif. Semakin sering melakukan transfer dan pembayaran melalui ponsel, semakin banyak titik risiko yang dimiliki.
Kedua, orang yang menyimpan dana darurat di rekening digital. Kehilangan beberapa juta rupiah saja bisa mengganggu kondisi keuangan rumah tangga. Ketiga, pengguna e-wallet dan kartu pembayaran. Risiko tidak hanya berasal dari rekening bank tetapi juga transaksi digital.
Keempat, freelancer dan pekerja digital. Email, cloud storage dan perangkat kerja sering terhubung dengan berbagai layanan keuangan. Kelima, orang yang memiliki banyak akun digital. Semakin banyak akun, semakin besar pula attack surface yang dimiliki seseorang.
Jangan menganggap ketika kita tidak pernah meng-klik link aneh berarti aman. Pasalnya, modus kejahatan siber terus berkembang. Phishing memang masih menjadi salah satu metode utama, tetapi pelaku juga dapat menggunakan malware, SIM swap, pencurian kredensial, social engineering hingga mengambil alih perangkat atau jalur autentikasi.
Oleh karena itu, menjaga keamanan rekening bukan hanya soal bagaimana agar uang tidak dicuri. Tetapi juga bagaimana memastikan kondisi keuangan tetap bisa pulih ketika kejahatan digital berhasil menembus pertahanan kita.
Asuransi siber dapat menjadi salah satu lapisan perlindungan tersebut-selama masyarakat memahami manfaat, batas pertanggungan dan pengecualiannya sebelum membeli.
(ach/ach)