Kekurangan Metode Menunda Belanja dengan Aturan 24 Jam, Apa Saja?

Dany Gibran,  CNBC Indonesia
28 July 2026 12:20
Kekurangan Metode Menunda Belanja dengan Aturan 24 Jam, Apa Saja?
Foto: Ilustrasi belanja online. (Dok. Freepik)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Aturan 24 jam (24-hour rule) menjadi salah satu metode yang banyak dianjurkan untuk mengurangi kebiasaan belanja impulsif. Caranya sederhana, yaitu menunda pembelian barang non-kebutuhan selama 24 jam sebelum memutuskan untuk membelinya.

Selama masa tunggu tersebut, seseorang memiliki waktu untuk mempertimbangkan kembali apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya keinginan sesaat. Bagi banyak orang, cara ini terbukti membantu menghemat pengeluaran.

Meski demikian, aturan 24 jam bukanlah solusi yang selalu efektif dalam setiap kondisi. Ada beberapa kelemahan yang perlu dipahami sebelum menerapkannya.

Kekurangan Metode Menunda Belanja dengan Aturan 24 Jam

1. Kurang Efektif bagi Orang yang Sering Belanja Impulsif

Menunda pembelian selama satu hari belum tentu menghilangkan keinginan untuk membeli. Pada sebagian orang, dorongan belanja tetap muncul meski sudah diberi jeda waktu.

Jika kebiasaan belanja impulsif dipicu oleh stres, emosi, atau kebosanan, aturan 24 jam saja mungkin tidak cukup untuk mengubah perilaku tersebut.

2. Berisiko Kehilangan Promo Terbatas

Banyak toko online menawarkan promo dalam waktu yang sangat singkat, seperti flash sale atau diskon harian. Jika selalu menunggu 24 jam, Anda mungkin kehilangan kesempatan memperoleh harga yang lebih murah.

Namun, penting diingat bahwa tidak semua promo benar-benar menguntungkan. Jangan sampai rasa takut kehilangan diskon justru mendorong Anda membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

3. Tidak Cocok untuk Kebutuhan Mendesak

Metode ini kurang relevan untuk barang yang memang harus segera dibeli, seperti obat-obatan, perlengkapan kerja yang rusak, atau kebutuhan rumah tangga yang sudah habis.

Dalam kondisi seperti ini, menunda pembelian justru bisa mengganggu aktivitas sehari-hari.

4. Bisa Menunda Keputusan yang Sebenarnya Sudah Tepat

Ada kalanya seseorang sudah melakukan riset, membandingkan harga, hingga memastikan barang yang akan dibeli memang sesuai kebutuhan.

Jika semua pertimbangan sudah dilakukan, menunggu 24 jam mungkin tidak memberikan manfaat tambahan dan hanya membuat proses pembelian menjadi lebih lama.

5. Tidak Mengatasi Akar Masalah Kebiasaan Boros

Aturan 24 jam hanya membantu mengurangi pembelian impulsif. Namun, jika penyebab utama pengeluaran berlebihan adalah tidak memiliki anggaran, gaya hidup konsumtif, atau kebiasaan menggunakan utang untuk berbelanja, metode ini tidak akan menyelesaikan masalah secara menyeluruh.

Karena itu, aturan 24 jam sebaiknya dipadukan dengan pengelolaan keuangan yang baik, seperti membuat anggaran bulanan dan menetapkan prioritas pengeluaran.

6. Kurang Ideal untuk Pembelian Bernilai Besar

Untuk pembelian dengan nilai yang tinggi, seperti laptop, sepeda motor, atau perabot rumah tangga, waktu 24 jam sering kali terlalu singkat.

Keputusan membeli barang mahal biasanya membutuhkan pertimbangan yang lebih matang, mulai dari membandingkan spesifikasi, harga, biaya perawatan, hingga dampaknya terhadap kondisi keuangan.

7. Membutuhkan Komitmen dan Disiplin

Metode ini hanya akan berhasil jika diterapkan secara konsisten. Jika seseorang sering membuat pengecualian atau mengabaikan aturan yang dibuat sendiri, manfaatnya akan berkurang.

Disiplin menjadi faktor utama agar aturan 24 jam benar-benar membantu mengendalikan pengeluaran.

Kapan Aturan 24 Jam Sebaiknya Digunakan?

Metode ini paling efektif diterapkan untuk pembelian barang yang sifatnya keinginan, bukan kebutuhan pokok. Misalnya pakaian baru, aksesori, gadget, dekorasi rumah, atau barang yang sedang tren.

Sementara itu, untuk pembelian bernilai besar, Anda bisa memperpanjang waktu pertimbangan menjadi tujuh hari hingga 30 hari agar keputusan yang diambil lebih matang.

Cara Memaksimalkan Aturan 24 Jam

Agar metode ini memberikan hasil yang optimal, Anda bisa menerapkan beberapa langkah berikut:

  • Gunakan aturan ini hanya untuk pembelian non-esensial.

  • Buat daftar belanja sebelum berbelanja agar lebih fokus pada kebutuhan.

  • Tetapkan batas nominal, misalnya semua pembelian di atas Rp500.000 harus menunggu 24 jam.

  • Evaluasi kembali kondisi keuangan sebelum melakukan pembayaran.

  • Tanyakan pada diri sendiri apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya keinginan sesaat.

Kesimpulan

Aturan 24 jam merupakan cara sederhana untuk membantu mengurangi kebiasaan belanja impulsif. Namun, metode ini juga memiliki keterbatasan, seperti berisiko melewatkan promo, kurang cocok untuk kebutuhan mendesak, dan tidak menyelesaikan akar penyebab perilaku boros.

Oleh karena itu, aturan 24 jam sebaiknya dijadikan sebagai salah satu bagian dari strategi mengelola keuangan, bukan satu-satunya cara untuk mengendalikan pengeluaran. Dengan mengombinasikannya dengan anggaran yang jelas dan tujuan keuangan yang terukur, Anda dapat membuat keputusan belanja yang lebih bijak.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan nasihat keuangan. Efektivitas aturan 24 jam dapat berbeda pada setiap orang, tergantung kondisi finansial dan kebiasaan belanja masing-masing.
(dag/dag) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article 6 Cara Mengurangi Pengeluaran yang Tidak Perlu


Most Popular
Features