8 Kesalahan dalam Menyusun Keuangan Keluarga yang Perlu Dihindari
Daftar Isi
- 1. Hanya Mengandalkan Ingatan, Tidak Ada Anggaran Tertulis
- 2. Urutan Prioritas Terbalik: Belanja Dulu, Baru Menabung Sisa Uang
- 3. Tidak Mampu Membedakan Jelas Antara Kebutuhan dan Keinginan
- 4. Tidak Menyiapkan Atau Salah Menggunakan Dana Darurat
- 5. Hanya Salah Satu Pihak Yang Mengurus Dan Tahu Seluruh Kondisi Keuangan
- 6. Rasio Utang Melebihi Batas Aman, Terlalu Banyak Utang Konsumtif
- 7. Tidak Memasukkan Biaya Tak Rutin Dalam Anggaran
- 8. Dibuat Sekali Saja, Tidak Pernah Ditinjau Dan Disesuaikan
Jakarta, CNBC Indonesia - Mengelola keuangan keluarga menjadi tantangan yang dihadapi hampir setiap rumah tangga, terlepas dari besar atau kecilnya penghasilan. Sebab, memiliki pendapatan yang tinggi tidak selalu berbanding lurus dengan kondisi keuangan yang sehat apabila tidak dibarengi dengan perencanaan yang baik.
Banyak orang mengira masalah keuangan hanya dialami mereka yang berpenghasilan rendah. Padahal, berbagai studi mengenai perilaku keuangan (behavioral finance) menunjukkan keputusan-keputusan kecil dalam mengelola uang sehari-hari justru memiliki pengaruh besar terhadap kondisi finansial seseorang dalam jangka panjang.
Mulai dari tidak mencatat pengeluaran, menunda menyiapkan dana darurat, hingga mengambil keputusan investasi karena ikut tren merupakan beberapa kebiasaan yang kerap dianggap sepele. Jika terus dilakukan, kebiasaan tersebut dapat menghambat tercapainya tujuan keuangan, memperbesar beban utang, hingga mengurangi kemampuan membangun aset.
Lantas, kesalahan apa saja yang paling sering dilakukan saat menyusun keuangan keluarga?
1. Hanya Mengandalkan Ingatan, Tidak Ada Anggaran Tertulis
Ini adalah kesalahan paling dasar dan paling banyak terjadi. Banyak keluarga beranggapan "kami sudah hafal berapa pengeluaran tiap bulan", sehingga tidak perlu dicatat atau disusun secara rinci di atas kertas maupun aplikasi.
Otak manusia tidak mampu mengingat setiap transaksi, apalagi yang nilainya kecil-kecil seperti jajan, parkir, atau biaya administrasi. Pengeluaran kecil yang tidak tercatat jika diakumulasi dalam sebulan nilainya bisa mencapai 10-15% dari total pendapatan.
Akibatnya, selalu ada selisih besar antara uang yang keluar dengan perhitungan kasar.
Susun anggaran secara tertulis, bisa menggunakan buku catatan, lembar kerja excel, maupun aplikasi pencatat keuangan. Lakukan secara rutin setiap hari atau maksimal 3 hari sekali.
2. Urutan Prioritas Terbalik: Belanja Dulu, Baru Menabung Sisa Uang
Prinsip yang paling sering diajarkan namun paling jarang diterapkan: bayar diri sendiri terlebih dahulu. Sebagian besar keluarga menyusun keuangannya dengan pola: pendapatan dikurangi seluruh pengeluaran, sisanya baru ditabung.
Sifat manusia cenderung menghabiskan uang yang tersedia. Akibatnya hampir tidak pernah ada sisa uang untuk ditabung, atau jumlahnya sangat sedikit dan tidak konsisten. Bahkan tak jarang pengeluaran justru melebihi pendapatan sehingga terpaksa berutang.
Ubah polanya menjadi pendapatan dikurangi tabungan dan investasi, sisanya baru untuk belanja. Sisihkan minimal 10-20% dari pendapatan segera setelah uang masuk, sebelum digunakan untuk keperluan apa pun.
3. Tidak Mampu Membedakan Jelas Antara Kebutuhan dan Keinginan
Di era kemudahan belanja daring, promo besar-besaran, dan fasilitas bayar nanti atau cicilan 0%, batas antara apa yang harus dibeli dan apa yang cuma ingin dimiliki makin kabur. Banyak pengeluaran dicatat sebagai "kebutuhan", padahal sebenarnya hanya keinginan sesaat.
Contoh: membeli pakaian baru padahal lemari masih penuh, atau berlangganan layanan yang jarang dipakai.
Pos pengeluaran konsumtif membengkak secara tidak wajar. Uang yang seharusnya bisa dipakai untuk hal yang lebih penting seperti dana darurat atau pendidikan anak justru habis untuk barang yang nilainya cepat menyusut.
Terapkan aturan jeda waktu. Untuk barang di luar kebutuhan pokok bernilai di atas Rp500 ribu, tunggu 3-7 hari sebelum memutuskan membeli. Seringkali keinginan itu akan hilang dengan sendirinya.
4. Tidak Menyiapkan Atau Salah Menggunakan Dana Darurat
Banyak keluarga sama sekali tidak memiliki pos khusus dana darurat. Sebagian lain ada yang menyisihkan, tapi jumlahnya terlalu sedikit atau malah dipakai sembarangan untuk biaya liburan, ganti HP baru, atau renovasi rumah yang sifatnya bukan mendesak.
Ketika terjadi kejadian tak terduga seperti sakit keras, kendaraan rusak parah, atau salah satu anggota keluarga kehilangan pekerjaan, satu-satunya jalan adalah mencairkan tabungan jangka panjang atau mengambil utang berbunga tinggi. Ini bisa menghancurkan rencana keuangan yang sudah dibangun bertahun-tahun dalam sekejap.
Standar ideal dana darurat adalah 3-6 kali lipat total pengeluaran bulanan, atau 6-12 kali jika pendapatan tidak tetap.
Pisahkan dana darurat di rekening berbeda yang tidak mudah diakses sehari-hari, dan hanya boleh dipakai untuk kondisi benar-benar darurat yang mengancam keberlangsungan hidup.
5. Hanya Salah Satu Pihak Yang Mengurus Dan Tahu Seluruh Kondisi Keuangan
Sering ditemukan pola di mana hanya suami atau hanya istri saja yang memegang seluruh kendali uang, mengetahui jumlah pendapatan, utang, maupun aset, sementara pasangannya sama sekali buta informasi.
Ada juga yang memisahkan uang sepenuhnya tanpa ada kesepakatan jelas soal pembagian tanggung jawab biaya rumah tangga.
Selain memicu kecurigaan dan konflik kepercayaan, risikonya sangat besar jika suatu saat pihak yang mengurus uang berhalangan tetap, sakit keras, atau meninggal dunia.
Pasangannya akan kesulitan luar biasa mengurus aset dan kewajiban yang ada. Selain itu, pengeluaran sering kali tidak terkontrol karena tidak ada saling mengawasi.
Keuangan adalah urusan bersama. Lakukan rapat keuangan keluarga rutin minimal sebulan sekali, bahas pemasukan, pengeluaran, dan rencana ke depan. Bagi tugas dan tanggung jawab secara jelas dan disepakati berdua.
6. Rasio Utang Melebihi Batas Aman, Terlalu Banyak Utang Konsumtif
Seringkali saat menyusun rencana keuangan, keluarga hanya berfokus pada apakah sanggup membayar cicilan tiap bulan, tanpa menghitung berapa persen sebenarnya porsi utang dari total pendapatan.
Akibatnya jumlah utang makin lama makin banyak, mulai dari KPR, kartu kredit, hingga utang di layanan bayar nanti.
Menurut standar perencanaan keuangan yang sehat, total seluruh pembayaran cicilan utang tidak boleh melebihi 30% dari pendapatan bersih bulanan. Jika lebih dari itu, arus kas akan sangat tertekan, kemampuan menabung menjadi sangat kecil, dan risiko gagal bayar makin tinggi jika ada guncangan pendapatan.
Terlebih lagi jika utang tersebut dipakai untuk belanja barang yang nilainya turun, bukan aset yang bertambah nilai.
Hitung ulang seluruh kewajiban cicilan. Jika sudah melebihi 30%, segera susun strategi melunasi utang yang berbunga paling tinggi terlebih dahulu, dan hentikan dulu menambah utang baru kecuali untuk keperluan produktif yang sangat mendesak.
7. Tidak Memasukkan Biaya Tak Rutin Dalam Anggaran
Saat menyusun daftar pengeluaran, hampir semua orang memasukkan biaya makan, listrik, air, atau uang sekolah yang keluar setiap bulan.
Namun banyak yang lupa memasukkan biaya yang sifatnya datang setahun sekali atau beberapa bulan sekali, seperti pajak kendaraan, perbaikan rumah, biaya liburan, bingkisan hari raya, atau servis rutin kendaraan.
Setiap kali ada tagihan jenis ini muncul, arus kas langsung kacau. Uang yang sudah dialokasikan untuk tabungan atau kebutuhan lain terpaksa dipotong, dan siklus keuangan yang berantakan pun terulang terus.
Jumlahkan seluruh biaya tak rutin dalam setahun, lalu bagi hasilnya menjadi 12 bagian. Sisihkan jumlah itu setiap bulan ke pos khusus, sehingga saat waktunya tiba uangnya sudah tersedia lengkap.
8. Dibuat Sekali Saja, Tidak Pernah Ditinjau Dan Disesuaikan
Banyak keluarga pernah membuat rencana keuangan yang sangat rapi di awal tahun atau saat baru menikah, tapi setelah itu dokumen itu cuma tersimpan dan tidak pernah dibuka lagi.
Padahal kondisi keuangan dan kebutuhan keluarga selalu berubah: pendapatan naik atau turun, ada anggota keluarga baru, biaya kebutuhan pokok meningkat akibat inflasi, atau ada tujuan baru yang ingin dicapai.
Anggaran yang dibuat sudah tidak lagi relevan dengan kondisi nyata. Akhirnya rencana itu ditinggalkan begitu saja dan kembali ke pola mengelola uang secara asal-asalan.
Lakukan evaluasi keuangan setiap akhir bulan untuk melihat apa yang berjalan baik dan apa yang perlu diperbaiki. Lakukan penyesuaian menyeluruh terhadap rencana keuangan minimal setiap 6 bulan sekali atau setiap kali ada perubahan besar dalam kondisi keluarga.
Disclaimer: Artikel ini bersifat edukasi umum. Untuk perencanaan keuangan yang disesuaikan secara khusus dengan kondisi dan tujuan Anda, disarankan berkonsultasi langsung dengan perencana keuangan bersertifikat.
(dag/dag) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]