Tajir Sebelum Tua Ada Rumusnya, Terungkap di Educational Class LIKE IT
Jakarta, CNBC Indonesia - Jogja Financial Festival 2026 menghadirkan Educational Class LIKE IT atau Literasi Keuangan Indonesia Terdepan dengan tema "Financial Survival for Young Generation".
Sesi diskusi ini akan menghadirkan Direktur Pembiayaan Syariah Kementerian Keuangan (DJPPR Kemenkeu) Deni Ridwan; Plt. Direktur Literasi dan Edukasi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Andi Muhammad Yusuf; Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah Andi Reina; dan Direktur Group Analisis Stabilitas Sistem Keuangan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Ahmad Subhan Irani.
Pembahasan yang dibawa dalam sesi diskusi ini pun sangat menarik, mulai dari kondisi ekonomi terkini hingga tips investasi secara aman dan anti scam. Tambah seru karena dibawakan dengan gaya yang santai namun berbobot.
Pembawaan tersebut membuat pembahasan yang berat pun terasa ringan dan mudah dimengerti oleh para peserta.
Pembahasan pertama soal kondisi ekonomi saat ini. Direktur Pembiayaan Syariah Kementerian Keuangan (DJPPR Kemenkeu) Deni Ridwan menganalogikan bahwa pemerintah saat ini sedang berupaya secara maksimal untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah atau middle income trap.
Deni menjelaskan cara agar Indonesia mampu keluar dari middle income trap adalah dengan mengejar pertumbuhan ekonomi lebih dari lima persen. Sebagai catatan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2026 mencapai 5,61% year-on-year (yoy).
"Dampaknya gini, harapan kita kan dalam 20 tahun yang nanti, kita menjadi kondisi tajir sebelum tuir. Kita bisa menjadi negara kaya sebelum penduduknya jadi tua. Untuk itu kita perlu pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan 5 persen," ujarnya saat mengisi Educational Class di Jogja Expo Center (JEC) pada Jumat (22/5/2026).
Mengejar target tersebut, Deni mengatakan pemerintah sekarang banyak dilakukan berbagai macam upaya, investasi di infrastruktur, investasi di sumber daya manusia.
Pertumbuhan ekonomi yang disasar juga perlu diakselerasi melalui transformasi digital. Bank Indonesia pun memiliki inovasi yang ''paten' dengan meluncurkan QRIS (dibaca:kris).
"Tapi intinya dengan QRIS ini memang efisiensi yang kita lakukan untuk melakukan transaksi ini menjadi sangat luar biasa," katanya kepada peserta.
Reina juga mengatakan, QRIS merupakan kebanggaan Indonesia untuk urusan sistem pembayaran. Bahkan dirinya mengatakan, presiden Amerika Serikat Donald Trump pun takut dengan QRIS karena mampu menjamah banyak transaksi dan merchant.
Saat teknologi digital semakin canggih, diiringi juga dengan tingginya angka scam yang mengakali sistem keuangan untuk menipu masyarakat.
Plt. Direktur Literasi dan Edukasi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Andi Muhammad Yusuf mengatakan saat ini 80% masyarakat Indonesia sudah memiliki akses terhadap keuangan.
Tantangannya adalah banyaknya scam yang menjamur dan semakin canggih juga yang menyerang rekening dan juga psikologinya.
"Nah ini biasanya dimanfaatkan oleh para penipu, para scammer terutama di digital demikian mudah saat ini ya. Para scammer ini tidak hanya menyerang rekening secara langsung sebenarnya. Tapi mereka ini menyerang psikologi kita ya," ujar Andi.
Kata dia bahkan sekarang sudah menggunakan AI untuk melakukan penipuan seperti tipuan visual dan suara menyerupai keluarga sehingga bisa menguras rekening.
Oleh karena itu dirinya menghimbau untuk melakukan identifikasi melalui dua L, yakni legal dan logis. Selain itu OJK dan lembaga lain juga berupaya untuk terus menjaga masyarakat untuk terhindar dari scam tersebut.
Begitu juga dengan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang berkomitmen memberikan perlindungan dana nasabah bank yang disimpan di bank. Direktur Group Analisis Stabilitas Sistem Keuangan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Ahmad Subhan Irani mengatakan LPS mampu menjamin dana nasabah di bank hingga Rp2 miliar.
"Jadi tadi, kalo kita menaruh uang di bank, dijamin Rp2 miliar per nasabah per bank," ujarnya.
Adapun syaratnya agar terjamin oleh LPS adalah memastikan uang nasabah tercatat dan ditaruh di bank. Kemudian juga tingkat bunga tidak melebihi tingkat bunga LPS dan terakhir tidak terindikasi fraud.
Ahmad Subhan menambahkan, dana yang dijamin tidak hanya simpanan yang berdenominasi rupiah, namun juga redenominasi asing.
Para pembicara juga menekankan, saat ini potensi ekonomi Indonesia untuk bertumbuh masih sangat besar dan untuk mencapai ke sana, perlu adanya perlindungan dan inovasi dalam sistem keuangan.
Masyarakat sebagai bagian dalam sistem keuangan tersebut harus tanpa berhenti diedukasi dan ditingkatkan literasinya mengenai keuangan, sehingga mimpi bersama Indonesia menjadi negara maju bisa terwujud.
(dce) Add
source on Google