7 Kebiasaan yang Bikin Motor Boros Bensin, Potensi Rugi Jutaan Rupiah

Dany Gibran,  CNBC Indonesia
25 March 2026 16:29
Ilustrasi Kemacetan Kendaraan. CNBC Indonesia/Tri Susilo
Foto: Ilustrasi Kemacetan Kendaraan. CNBC Indonesia/Tri Susilo
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Banyak pemilik kendaraan merasa motornya tiba-tiba jadi lebih boros, padahal jarak tempuh masih sama. Isi bensin jadi lebih sering, tapi penyebabnya tidak selalu jelas.

Kalau ditelusuri, sering kali bukan karena motornya rusak besar. Justru kebiasaan kecil yang dianggap sepele malah diam-diam bikin konsumsi BBM makin boros dan ujungnya, pengeluaran harian ikut membengkak.

Masalahnya, boros Rp5.000-Rp10.000 per hari mungkin terasa kecil. Tapi kalau dikumpulkan, dalam sebulan bisa tembus ratusan ribu.

Berdasarkan beberapa sumber yang dihimpun, berikut adalah 7 kesalahan umum yang kerap menjadi penyebab utama BBM motor cepat terkuras:

1. Agresivitas saat Menarik Tuas Gas

Kebiasaan membuka gas secara mendadak atau agresif (hard acceleration) memaksa sistem pembakaran menyuplai bahan bakar secara berlebihan dalam waktu singkat.

Dikutip dari U.S. Department of Energy (FuelEconomy), Gaya berkendara agresif, termasuk mengebut dan akselerasi cepat, dapat menurunkan efisiensi bahan bakar sebesar 15% hingga 30% pada kecepatan jalan raya dan 10% hingga 40% dalam lalu lintas yang padat.

Meski motor terasa lebih responsif, efisiensi pembakaran justru menurun drastis. Hal ini dapat meningkatkan konsumsi BBM hingga 20% di jalur perkotaan yang padat.

2. Kecepatan yang Tidak Konstan

Fluktuasi kecepatan yang terlalu sering. Sebentar mengebut lalu mendadak melambat. Hal ini memaksa mesin bekerja ekstra keras untuk menyesuaikan output tenaga. Pengendara disarankan untuk menjaga kecepatan stabil di angka ekonomis (40-60 km/jam) guna memastikan suplai bahan bakar tetap efisien.

3. Mengabaikan Tekanan Angin Ban

Ini adalah poin yang paling sering dilupakan. Ban yang kekurangan tekanan udara menciptakan hambatan gulir (rolling resistance) yang lebih besar terhadap permukaan jalan.

Dikutip dari National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA), Ban yang kurang tekanan udara sebesar 1 psi dapat menurunkan efisiensi BBM sebesar 0,2%. Secara kumulatif, ban kempes dapat meningkatkan konsumsi BBM hingga 3%.

Akibatnya, mesin butuh tenaga lebih besar untuk melaju, yang secara otomatis mengonsumsi bensin 3-5% lebih banyak dari kondisi normal.

4. Menunda Servis Rutin dan Penggantian Komponen

Filter udara yang kotor, busi yang sudah lemah, hingga tumpukan karbon di ruang bakar adalah "pencuri" efisiensi.

Dikutip dari Environmental Protection Agency (EPA), Memperbaiki kendaraan yang tidak terawat, seperti mengganti filter udara yang tersumbat, dapat meningkatkan efisiensi bahan bakar secara signifikan hingga maksimal 40%.

Motor mungkin tetap bisa dioperasikan, namun pembakaran yang tidak sempurna akan membuat setiap tetes bensin tidak terkonversi menjadi tenaga secara maksimal.

5. Membiarkan Mesin Menyala Saat Berhenti (Idle)

Membiarkan mesin tetap hidup saat menunggu atau parkir dalam waktu lama adalah pemborosan yang sia-sia. Teknologi mesin modern saat ini sudah sangat efisien untuk dinyalakan kembali, sehingga mematikan mesin saat berhenti lebih dari satu menit sangat disarankan untuk menghemat bahan bakar.

6. Beban Muatan Melebihi Kapasitas

Setiap kilogram beban tambahan pada motor berbanding lurus dengan konsumsi energi yang dibutuhkan mesin. Membawa barang bawaan yang tidak perlu di bagasi atau memaksakan beban ekstra secara rutin akan membuat performa motor menurun dan konsumsi BBM meningkat.

7. Pemilihan Rute yang Tidak Efektif

Rute terpendek tidak selamanya paling hemat. Terjebak dalam kemacetan parah dengan kondisi stop-and-go yang konstan jauh lebih boros daripada menempuh rute yang sedikit lebih jauh namun memiliki arus lalu lintas yang lancar.

Kerugian Tersembunyi dari Sudut Pandang Kuangan Pribadi

Secara matematis, jika seorang pengendara mengalami pemborosan akibat kebiasaan di atas sebesar Rp7.000 per hari, maka dalam satu bulan (30 hari) kerugian mencapai Rp210.000. Dalam skala satu tahun, angka tersebut menyentuh Rp2.555.000.

Angka ini setara dengan biaya servis besar, penggantian sepasang ban berkualitas tinggi, atau bahkan pembayaran pajak kendaraan tahunan. Dengan mengubah gaya berkendara menjadi lebih eco-riding, pengendara tidak hanya merawat mesin motor lebih awet, tetapi juga menjaga kesehatan finansial pribadi.

(dag/dag) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Risiko Meminjamkan Uang ke Teman dan Cara Bijak Menolaknya


Most Popular
Features