Mengenal Money Worship: Ketika Uang Jadi Ukuran Kesuksesan Hidup

Dany Gibran,  CNBC Indonesia
09 March 2026 12:27
Ilustrasi menolak sejumlah uang. (Pexels)
Foto: Ilustrasi menolak sejumlah uang. (Pexels)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Uang sering dianggap sebagai kunci untuk mencapai hampir semua hal dalam hidup. Mulai dari rasa aman, kenyamanan, hingga kebahagiaan, banyak orang percaya bahwa memiliki lebih banyak uang akan membuat hidup menjadi lebih baik. Cara pandang ini dikenal sebagai Money Worship.

Apa Itu Money Worship?

Fenomena Money Worship adalah pola pikir yang menggambarkan hubungan emosional seseorang dengan uang. Dalam pola ini, kekayaan sering dianggap sebagai sumber utama kebahagiaan, rasa aman, bahkan harga diri.

Psikolog keuangan Brad Klontz, peneliti di bidang financial psychology dan anggota CNBC Financial Advisor Council, menjelaskan bahwa perilaku finansial manusia sering dipengaruhi oleh keyakinan yang terbentuk sejak kecil.

Menurutnya, terdapat empat pola utama dalam cara seseorang memandang uang, yaitu money avoidance, money worship, money status, dan money vigilance. Keempat pola ini dikenal sebagai money scripts, yaitu keyakinan bawah sadar yang memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan finansial.

Dampak Pola Pikir Money Worship ke Keuangan Pribadi

Dalam kategori money worship, seseorang percaya bahwa semakin banyak uang yang dimiliki, semakin besar pula peluang untuk meraih kebahagiaan. Pola pikir tersebut dapat memicu berbagai masalah finansial maupun psikologis.

Dalam laporan CNBC Make It, Klontz menjelaskan bahwa orang dengan pola pikir ini sering melihat kekayaan sebagai solusi untuk hampir semua masalah hidup.

"Para pemuja uang percaya bahwa kekayaan adalah kunci untuk menyelesaikan semua masalah mereka dan menemukan kebahagiaan," ujarnya.

Salah satu dampak yang paling umum adalah meningkatnya perilaku konsumtif. Orang yang memiliki pola pikir money worship sering menganggap membeli barang atau meningkatkan gaya hidup sebagai cara untuk memperoleh kebahagiaan.

Padahal, menurut Klontz, kepuasan yang diperoleh dari konsumsi biasanya hanya bersifat sementara.

Dalam banyak kasus, pola pikir ini justru mendorong perilaku belanja berlebihan yang berujung pada masalah finansial.

Penelitian yang dilakukan oleh Brad Klontz dan Sonya Britt juga menemukan bahwa pola money worship sering dikaitkan dengan tingkat utang kartu kredit yang lebih tinggi serta kekayaan bersih yang lebih rendah dibandingkan individu dengan pola keuangan yang lebih sehat.

Selain itu, hubungan emosional yang tidak sehat dengan uang juga dapat memicu stres finansial.

Dr. Alex Melkumian, terapis keluarga sekaligus pendiri Financial Psychology Center, menjelaskan bahwa banyak orang tidak menyadari bahwa keputusan finansial mereka sebenarnya dipengaruhi oleh emosi.

"Jika kita tidak menyadari apa masalahnya, kita tidak bisa mengubahnya," kata Melkumian dalam laporan CNBC Select tentang psikologi keuangan, Senin (09/03/2026)

Kondisi ini membuat banyak orang terjebak dalam siklus konsumsi yang berulang. Mereka membeli sesuatu untuk merasa lebih bahagia, tetapi setelah efek emosionalnya hilang, rasa tidak puas kembali muncul.

Contoh Fenomena Money Worship di Kehidupan Sehari-hari

Fenomena Money Worship sebenarnya bisa dilihat dengan mudah dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya pada pekerja muda di kota besar yang mengejar gaji tinggi dengan bekerja lembur hampir setiap hari. Tujuannya adalah meningkatkan pendapatan agar dapat membeli rumah, mobil, atau gaya hidup tertentu.

Namun sering kali peningkatan pendapatan tidak diikuti dengan peningkatan tabungan. Sebaliknya, pengeluaran juga meningkat karena gaya hidup ikut berubah.

Situasi ini dikenal sebagai lifestyle inflation, yaitu kondisi ketika pengeluaran meningkat seiring kenaikan pendapatan sehingga kondisi finansial tidak benar-benar membaik.

 

Cara Membangun Hubungan yang Lebih Sehat dengan Uang

Solusi dari fenomena Money Worship bukan berarti mengabaikan pentingnya uang, tetapi membangun hubungan yang lebih sehat dengan finansial.

1. Mengenali Keyakinan Tentang Uang

Langkah pertama adalah memahami keyakinan pribadi tentang uang. Dengan mengenali pola pikir tersebut, seseorang dapat mengevaluasi apakah keyakinan itu membantu atau justru merugikan kondisi finansialnya.

2. Menetapkan Tujuan Hidup yang Lebih Luas

Uang memang penting, tetapi bukan satu-satunya sumber kebahagiaan. Hubungan sosial, kesehatan, dan kepuasan hidup juga memiliki peran besar dalam menentukan kualitas hidup seseorang.

3. Meningkatkan Literasi Keuangan

Memahami cara mengelola uang, menabung, dan berinvestasi dapat membantu seseorang mencapai stabilitas finansial tanpa terjebak dalam obsesi terhadap kekayaan.

 

(dag/dag) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]


Most Popular
Features