Ingin Kaya di Usia 30? Hindari 4 Kebiasaan Ini Sejak 20-an

Dany Gibran,  CNBC Indonesia
27 February 2026 14:18
Ilustrasi Gen Z. (Dok. Freepik)
Foto: Ilustrasi Gen Z. (Dok. Freepik)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Usia 20-an sering dianggap sebagai fase eksplorasi: gaji pertama, kebebasan finansial, hingga gaya hidup yang mulai terbentuk.

Di fase ini, banyak orang merasa wajar untuk menikmati hasil kerja keras tanpa terlalu memikirkan masa depan. Namun, justru pada periode inilah fondasi keuangan jangka panjang mulai dibangun.

Seorang konsultan keuangan asal Amerika Serikat, Michela Allocca, membagikan pengalamannya mengelola uang sejak muda.

Dalam artikelnya di CNBC Make it, ia mengungkap empat kebiasaan finansial yang sengaja ia hindari di usia 20-an.

Keputusan tersebut berperan besar dalam membantunya mencapai kekayaan bersih (net worth) lebih dari US$700.000 atau sekitar Rp11,73 miliar (asumsi kurs Rp16.759 per dolar AS) saat menginjak usia 30 tahun.

Menurutnya, rahasia membangun kekayaan bukan sekadar soal penghasilan besar, tetapi tentang konsistensi, pengendalian diri, dan keberanian menunda kepuasan sesaat.

Lantas, kebiasaan apa saja yang ia hindari?

Mengapa Usia 20-an Sangat Krusial untuk Keuangan?

Sebelum masuk ke daftar kebiasaan, penting memahami mengapa usia 20-an begitu menentukan.

Di fase ini:

  • Pendapatan mulai stabil

  • Tanggung jawab finansial belum terlalu besar

  • Risiko masih bisa ditoleransi

  • Waktu investasi masih sangat panjang

Konsep compound interest atau bunga berbunga membuat uang yang diinvestasikan lebih awal berpotensi tumbuh jauh lebih besar dibanding mereka yang baru mulai di usia 30 atau 40 tahun.

Namun tantangannya, tekanan sosial di usia muda sangat kuat.

Media sosial memamerkan gaya hidup, traveling mewah, apartemen estetik, hingga outfit terbaru setiap musim.

Tanpa kontrol, gaya hidup bisa meningkat lebih cepat daripada pendapatan.

 

1. Tidak Terburu-buru Mengikuti Tren Traveling Mahal

Tekanan Sosial untuk Liburan

Traveling kini bukan sekadar rekreasi, tetapi juga identitas sosial.

Banyak anak muda merasa perlu membagikan pengalaman liburan ke luar negeri demi eksistensi di media sosial.

Namun Allocca memilih pendekatan yang lebih rasional. Ia hanya bepergian jika sesuai anggaran yang telah ditetapkan.

Ia menghindari penggunaan kartu kredit untuk membiayai perjalanan dan menunda liburan mahal sampai kondisi finansialnya benar-benar siap.

Mengutamakan Stabilitas Dibanding Gengsi

Alih-alih mengejar destinasi internasional setiap tahun, ia lebih sering memilih perjalanan domestik yang lebih hemat biaya.

Prinsipnya sederhana: pengalaman tetap bisa didapat tanpa mengorbankan tabungan atau investasi.

Dalam jangka panjang, keputusan ini membantunya menjaga arus kas tetap sehat dan menghindari utang konsumtif.

 

2. Tidak Memaksakan Tinggal Sendiri Terlalu Cepat

Tinggal Sendiri = Biaya Hidup Melejit

Bagi banyak orang, tinggal sendiri adalah simbol kemandirian dan kesuksesan.

Namun realitanya, biaya hidup meningkat drastis ketika tidak lagi berbagi sewa, listrik, internet, dan kebutuhan rumah tangga.

Allocca memilih tinggal bersama teman sekamar atau keluarga lebih lama.

Keputusan ini membuatnya bisa menghemat ratusan dolar setiap bulan.

Strategi Menabung Agresif di Awal Karir

Ia baru memutuskan tinggal sendiri di usia 27 tahun, ketika pendapatan dan tabungannya sudah cukup stabil. Dengan strategi ini, ia mampu:

  • Membangun dana darurat lebih cepat

  • Berinvestasi lebih besar di usia muda

  • Mengurangi tekanan finansial bulanan

Langkah ini mungkin terlihat "tidak keren" bagi sebagian orang, tetapi secara finansial sangat efektif.

 

3. Tidak Boros Mengikuti Tren Fashion

Belanja Impulsif Jadi Musuh Utama

Diskon musiman, tren TikTok, hingga tekanan sosial membuat banyak anak muda sulit menahan diri untuk berbelanja.

Tanpa sadar, pengeluaran untuk pakaian bisa menghabiskan sebagian besar gaji.

Allocca menerapkan prinsip minimalist wardrobe.

Ia memilih item dasar yang fleksibel dipadupadankan dan fokus pada kualitas dibanding kuantitas.

Mindful Spending Lebih Penting dari Gaya

Alih-alih membeli banyak pakaian murah, ia lebih memilih beberapa item berkualitas yang tahan lama.

Pendekatan ini bukan hanya menghemat uang, tetapi juga mengurangi pembelian impulsif.

Menurutnya, gaya hidup hemat bukan berarti pelit, melainkan sadar terhadap prioritas.

 

4. Menghindari Pengeluaran "Praktis" yang Tidak Perlu

Biaya Kecil yang Diam-diam Membesar

Pesan-antar makanan, kopi harian, transportasi instan, hingga berbagai layanan berbasis aplikasi memang memudahkan hidup.

Namun biaya kecil yang berulang bisa menjadi besar dalam jangka panjang.

Allocca menghindari pengeluaran convenience yang tidak esensial. Ia memilih:

  • Memasak sendiri

  • Berjalan kaki jika memungkinkan

  • Membatasi penggunaan layanan berbayar

Ia memperkirakan kebiasaan ini menghemat sekitar US$200 atau sekitar Rp3,35 juta per bulan (asumsi kurs Rp16.759). Dana tersebut kemudian dialihkan ke tabungan dan investasi.

Efek Jangka Panjang ke Investasi

Jika Rp3,35 juta per bulan diinvestasikan dengan rata-rata imbal hasil 7% per tahun, dalam 10 tahun nilainya bisa berkembang signifikan. Inilah kekuatan konsistensi dan disiplin.

Apa yang Bisa Dipelajari Anak Muda Indonesia?

Kisah Michela Allocca bukan soal menahan diri secara ekstrem, melainkan soal keseimbangan.

Beberapa pelajaran yang relevan bagi generasi muda Indonesia:

1. Jangan Naikkan Gaya Hidup Terlalu Cepat

Ketika gaji naik, jangan langsung menaikkan standar hidup secara drastis. Sisihkan sebagian kenaikan untuk investasi.

2. Prioritaskan Dana Darurat

Sebelum membeli barang mahal atau traveling jauh, pastikan dana darurat minimal 3-6 bulan pengeluaran sudah tersedia.

3. Mulai Investasi Sedini Mungkin

Waktu adalah aset terbesar di usia 20-an. Mulai dari nominal kecil lebih baik daripada menunggu "siap".

4. Bedakan Kebutuhan dan Keinginan

Tidak semua yang terlihat menarik di media sosial benar-benar dibutuhkan.

Apakah Harus Hidup Serba Hemat di Usia 20-an?

Tidak juga.

Allocca menekankan bahwa ia tetap menikmati hidup. Ia tetap bepergian, bersosialisasi, dan membeli barang yang ia sukai. Bedanya, semua dilakukan sesuai perencanaan.

Kunci utamanya adalah:

  • Tidak berutang untuk gaya hidup

  • Tidak mengorbankan investasi demi gengsi

  • Tidak membiarkan tekanan sosial mengatur keuangan

Pentingnya Kebiasaan Kecil

Keputusan finansial jarang bersifat besar dan dramatis. Justru kebiasaan kecil sehari-hari yang menentukan hasil jangka panjang.

Contohnya:

  • Menabung otomatis setiap gajian

  • Menghindari cicilan konsumtif

  • Mengontrol pengeluaran rutin

Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut membangun stabilitas finansial yang kuat.

(dag/dag) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Catat! Wajib Punya Duit Segini Baru Dibilang Kaya di 2026


Most Popular
Features