Catat! Wajib Punya Duit Segini Baru Dibilang Kaya di 2026

Fergi Nadira & Dany Gibran,  CNBC Indonesia
27 February 2026 11:34
Ilustrasi Orang Terkaya (Pexels/Cotton Bro Studio)
Foto: Ilustrasi Orang Terkaya (Pexels/Cotton Bro Studio)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Standar kekayaan global terus mengalami pergeseran.

Memasuki 2026, status orang kaya atau kelas atas (upper class) tak lagi sekadar diukur dari besarnya gaji, melainkan dari seberapa tangguh kondisi keuangan seseorang dalam menghadapi risiko dan ketidakpastian ekonomi.

Menurut Kevin Marshall, CPA dan pakar keuangan pribadi di Amortization Calculator, ambang batas kekayaan bersih (net worth) untuk masuk kategori kelas atas di Amerika Serikat pada 2026 diperkirakan berada di rentang US$2 juta hingga US$5 juta.

Jika menggunakan asumsi kurs Rp15.700 per dolar AS, nilai tersebut setara dengan sekitar Rp31,4 miliar hingga Rp78,5 miliar.

"Perbedaan antara kelas menengah dan kelas atas bukan hanya soal nominal kekayaan, tetapi juga tentang perilaku finansial," ujar Marshall, dikutip dari Go Banking Rates, Jumat (27/2/2026).

Marshall menegaskan bahwa faktor pembeda utama bukan hanya kemampuan mencapai level kekayaan tertentu, tetapi konsistensi dalam menjaga dan mengembangkannya.

Fondasi kelas atas terletak pada strategi investasi jangka panjang yang terdiversifikasi dan berorientasi pada penciptaan pendapatan pasif, bukan pada langkah spekulatif jangka pendek.

Instrumen yang umum dimiliki kalangan ini antara lain reksa dana indeks, properti, kepemilikan bisnis, serta berbagai aset produktif lain yang nilainya cenderung tumbuh dari waktu ke waktu.

Selain itu, keluarga kelas atas tidak hanya menyiapkan dana darurat, tetapi juga memiliki "dana peluang". Artinya, mereka memiliki likuiditas dan fleksibilitas yang cukup untuk segera memanfaatkan kesempatan investasi maupun mengantisipasi situasi tak terduga tanpa mengganggu stabilitas keuangan.

Marshall mencontohkan, ada individu dengan penghasilan enam digit dolar AS per tahun namun tetap hidup dalam tekanan finansial karena pengelolaan yang kurang disiplin. Satu pengeluaran tak terduga saja bisa mengguncang kondisi keuangannya.

Sebaliknya, ada pula klien dengan pendapatan lebih rendah tetapi konsisten menabung dan membangun ruang finansial yang longgar. Stabilitas inilah yang membuat mereka lebih cepat naik kelas secara finansial karena menciptakan fondasi sebelum memperbesar skala kekayaan.

Kaya Itu Soal Ketahanan, Bukan Sekadar Kecepatan

CEO REAP Financial, Chris Heerlein, menambahkan bahwa tanda seseorang telah memasuki kelas atas terlihat ketika keuangannya tidak lagi digerakkan oleh rasa cemas atau tekanan jangka pendek. Menurutnya, kekuatan utama kelas atas adalah prediktabilitas.

Mereka memiliki gambaran yang jelas tentang proyeksi pendapatan dalam 10 tahun ke depan, memahami struktur biaya tetap tanpa perlu berspekulasi, serta mampu menyerap berbagai kondisi darurat tanpa harus mengubah gaya hidup atau mengorbankan rencana jangka panjang.

"Status kelas atas berarti Anda mampu menghadapi gejolak ekonomi tanpa perlu menurunkan standar hidup atau menggadaikan masa depan," ujarnya.

Dengan kata lain, menjadi kaya pada 2026 bukan hanya tentang seberapa cepat mengumpulkan aset, tetapi tentang membangun sistem keuangan yang tahan guncangan, terencana, dan berkelanjutan.

6 Cara Mengelola Keuangan Pribadi di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

1. Uang Tunai dan Dana Darurat Itu Penting

Saat kondisi ekonomi tidak menentu, yang paling penting bukan hanya punya aset seperti rumah atau saham, tetapi juga punya uang tunai yang mudah dipakai kapan saja.

Kenapa? Karena kalau tiba-tiba ada kebutuhan mendesak, Anda tidak perlu menjual investasi saat harganya turun atau menambah utang baru. Intinya, pastikan arus kas Anda aman.

Yang bisa dilakukan:

  • Catat pemasukan dan pengeluaran setiap bulan.

  • Siapkan dana darurat minimal 3-6 bulan biaya hidup.

  • Hindari menambah utang baru yang tidak benar-benar perlu.

2. Rencana Keuangan Harus Lebih Fleksibel

Di masa yang serba cepat berubah, membuat rencana keuangan setahun sekali saja tidak cukup. Anda perlu lebih sering mengecek kondisi keuangan dan menyiapkan beberapa kemungkinan.

Misalnya, bagaimana kalau pendapatan turun? Bagaimana kalau harga kebutuhan naik?

Yang bisa dilakukan:

  • Evaluasi anggaran setiap bulan.

  • Buat rencana cadangan. Contoh: jika gaji turun 20%, pengeluaran mana yang akan dipangkas?

  • Siapkan versi anggaran "hemat" yang bisa langsung dipakai saat kondisi memburuk.

3. Bicarakan Keuangan dengan Keluarga

Dalam keluarga, semua orang perlu punya pemahaman yang sama soal kondisi keuangan. Jangan sampai hanya satu orang yang tahu, sementara yang lain tidak mengerti situasi sebenarnya.

Komunikasi yang terbuka membantu keluarga lebih siap menghadapi risiko bersama.

Yang bisa dilakukan:

  • Diskusikan tujuan keuangan jangka pendek dan panjang.

  • Sepakati aturan untuk pengeluaran besar.

  • Lakukan evaluasi kondisi keuangan keluarga secara rutin.

 

4. Hemat, Tapi Jangan Sampai Mengorbankan Masa Depan

Mengurangi pengeluaran itu penting, tetapi jangan sampai Anda berhenti menabung atau berhenti investasi sama sekali. Hemat harus tetap masuk akal.

Fokus pada pengeluaran yang bisa dikurangi tanpa merusak rencana jangka panjang.

Yang bisa dilakukan:

  • Cek ulang langganan atau cicilan yang tidak terlalu penting.

  • Negosiasi ulang tagihan jika memungkinkan.

  • Tetap sisihkan dana untuk investasi jangka panjang.

 

5. Pikirkan Matang Sebelum Ambil Keputusan Besar

Jangan terburu-buru saat ingin mengambil keputusan besar, seperti membeli properti, menambah utang, atau investasi dalam jumlah besar.

Pertimbangkan dampaknya beberapa tahun ke depan.

Yang bisa dilakukan:

  • Hitung dampak keuangan untuk 1-5 tahun mendatang.

  • Pahami risiko sebelum tergiur keuntungan.

  • Tinjau kembali pembagian investasi Anda secara berkala.

 

6. Jangan Hanya Diam, Siapkan Rencana Cadangan

Ketidakpastian sering membuat orang bingung dan akhirnya tidak melakukan apa-apa. Padahal, punya rencana sederhana jauh lebih baik daripada tidak punya sama sekali.

Siapkan beberapa skenario.

Contohnya:

  • Rencana A: Target utama (misalnya beli rumah).

  • Rencana B: Jika pendapatan turun.

  • Rencana C: Jika investasi tidak berjalan sesuai harapan.

 

(dag/dag) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Tips Aman Liburan Akhir Tahun, Siapkan Pondasi Keuangan yang Kuat


Most Popular
Features