Diundang Buka Puasa Bersama Terus? Begini Cara Hemat dan Atur Uangnya

Dany Gibran, CNBC Indonesia
Selasa, 24/02/2026 11:41 WIB
Foto: Seorang sukarelawan mengatur piring makanan agar untuk warga berbuka puasa selama bulan Ramadhan di sebuah masjid di Karachi, Pakistan, 7 Mei 2019. REUTERS / Akhtar Soomro
Dafar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Bulan Suci Ramadan identik dengan momen kebersamaan, salah satunya melalui tradisi buka puasa bersama atau yang akrab disapa "bukber".

Saat satu per satu undangan buka puasa bersama mulai berdatangan, baik dari grup teman SD, rekan kerja, komunitas, hingga keluarga besar. Banyak orang merasa senang sekaligus deg-degan melihat kondisi dompet.

Tidak sedikit yang hampir setiap pekan diundang buka puasa bersama, bahkan dalam satu hari bisa lebih dari satu agenda.


Niatnya memang baik untuk menyambung silaturahmi, namun tak jarang realitasnya membuat pengeluaran Ramadan membengkak tanpa terasa.

Berikut tips keuangan saat puasa, mulai dari cara menyusun anggaran buka puasa bersama, trik psikologis menghadapi peer pressure, ide alternatif acara, hingga tabel poin keputusan untuk menyaring undangan.

 

1. Psikologi Finansial: Mengapa Pengeluaran Ramadan Sering Membengkak?

Sebelum masuk ke strategi, kita harus jujur pada diri sendiri tentang apa yang membuat gaji dan terkadang THR seolah numpang lewat di bulan puasa.

Fenomena ini ternyata bukan hal yang unik. Financial psychologist asal Amerika Serikat, Brad Klontz, menjelaskan bahwa banyak keputusan keuangan dipengaruhi oleh dorongan sosial, bukan kebutuhan nyata. Dalam laporan American Psychological Association (APA), disebutkan seseorang kerap membelanjakan uang untuk menjaga citra dan diterima dalam lingkungan sosial.

Senada dengan itu, behavioral economist dari Morningstar, Sarah Newcomb, menyebut tekanan sosial dapat mendorong seseorang mengeluarkan uang lebih besar dari kemampuan demi mempertahankan rasa kebersamaan atau status dalam kelompok.

Ada beberapa faktor psikologis dan sosial yang bermain kuat:

  • Jebakan Nostalgia & Gengsi Sosial: Reuni sekolah atau kampus seringkali memicu keinginan untuk tampil sukses di depan teman lama. Hal ini tanpa sadar membuat kita setuju memilih tempat bukber kelas atas yang sebenarnya di luar jangkauan finansial kita saat ini.

  • FOMO (Fear Of Missing Out): Perasaan takut tertinggal momen kebersamaan, takut dianggap "sombong", atau takut dijauhi sirkel pertemanan membuat kita mengiyakan semua undangan tanpa melihat realita isi dompet.

  • Efek "Balas Dendam" Berbuka: Setelah seharian menahan lapar dan haus, dorongan impulsif untuk membeli makanan berlebih sangat tinggi. Saat bukber, kita cenderung memesan menu pembuka, menu utama, hingga dessert yang pada akhirnya tidak habis dimakan.

  • Ilusi "Mumpung Setahun Sekali": Pembenaran (rasionalisasi) bahwa pengeluaran besar ini wajar karena hanya terjadi di bulan Ramadan. Padahal, setelah Ramadan, Anda masih harus menghadapi realita tagihan bulan depan.

2. Strategi Cerdas Menyusun Budgeting Ramadan

Budgeting Ramadan tidak berarti Anda harus pelit dan mengisolasi diri, melainkan tahu persis ke mana uang Anda pergi. Berikut adalah langkah konkret mengaturnya:

A. Tentukan Batas Maksimal Dana Bukber di Awal Bulan

Jangan pernah menggunakan dana operasional sehari-hari, apalagi dana darurat, untuk bukber. Gunakan rumus alokasi: maksimal 10% hingga 15% dari pendapatan bulanan (di luar THR) khusus untuk hiburan atau sedekah Ramadan.

B. Terapkan Sistem "Kuota Mingguan"

Alih-alih menyetujui setiap ajakan secara acak, buatlah kuota. Misalnya, Anda menetapkan hanya akan ikut maksimal 2 kali bukber dalam seminggu (satu untuk teman, satu untuk keluarga). Jika jatah minggu ini sudah habis, ajakan berikutnya harus dialihkan ke minggu depan atau ditolak.

C. Metode Rekening Terpisah

Pindahkan anggaran buka puasa bersama yang sudah ditetapkan ke e-wallet terpisah. Jika saldo di e-wallet tersebut sisa Rp 0, itu adalah sinyal bahwa musim bukber Anda telah resmi berakhir. Jangan tergoda melakukan top-up lagi.

3. Matriks Keputusan: Ikut Bukber atau Tidak?

Terkadang kita bingung menentukan undangan mana yang harus dihadiri. Untuk memudahkan Anda secara objektif (bukan sekadar pakai perasaan), gunakan Tabel Poin Keputusan di bawah ini.

Jawab pertanyaan dalam hati dan jumlahkan poinnya untuk setiap undangan bukber:

Kriteria Penilaian

Poin 1 (Rendah) Poin 2 (Sedang) Poin 3 (Tinggi)
Tingkat Kedekatan Kenalan jauh / Teman yang jarang sekali ngobrol Teman lumayan akrab / Teman satu divisi kantor Sahabat karib / Keluarga inti yang sangat disayangi
Biaya Patungan (Cost) Sangat mahal (Bikin budget jebol) Masih masuk akal, tapi perlu sedikit berhemat esoknya Sangat terjangkau / Sesuai batas budget yang ditetapkan
Kenyamanan Acara Canggung, ada potensi adu gengsi / pamer Biasa saja, sekadar kumpul dan makan Seru, supportive, bisa ngobrol dari hati ke hati
Jarak & Aksesibilitas Sangat jauh, macet parah, ongkos transport mahal Jarak menengah, masih bisa dijangkau kendaraan umum Dekat rumah / Searah jalan pulang dari kantor

Cara Membaca Skor:

  • Total Skor 10 - 12: Wajib Ikut! Ini adalah acara yang bermakna dengan orang terdekat, harga masuk akal, dan tidak menyusahkan.

  • Total Skor 7 - 9: Pertimbangkan. Boleh ikut jika kuota mingguan dan budget Anda masih tersedia.

  • Total Skor 4 - 6: Tolak dengan Halus. Acara ini kemungkinan besar hanya membuang waktu, energi, dan uang Anda tanpa memberikan kebahagiaan yang sepadan.

4. Tips Mengamankan Kantong Berdasarkan Peran Anda

Cara mengatur keuangan saat bukber juga tergantung pada posisi Anda dalam acara tersebut:

Jika Anda Sebagai Peserta:

  • Makan Sedikit Sebelum Berangkat: Jika bukber berkonsep a la carte (bayar sesuai pesanan), makanlah camilan atau roti sebelum berangkat. Ini mencegah Anda lapar mata dan memesan porsi gila-gilaan.

  • Bawa Uang Pas: Jika memungkinkan, siapkan uang tunai atau pastikan saldo e-wallet pas sesuai perkiraan biaya. Ini mencegah Anda dipaksa ikut menalangi pesanan tambahan dari teman yang "lupa bawa dompet".

Jika Anda Sebagai Panitia / Inisiator:

  • Hindari Menjadi "Bank Berjalan": Jangan pernah mau menalangi biaya (booking tempat) menggunakan uang pribadi Anda dengan harapan "nanti diganti pas hari H". Praktik patungan bukber teman harus dilakukan di muka (bayar dulu, baru di-booking).

Pilih Menu Tengah (Tengah-Tengah): Lakukan survei kecil-kecilan untuk budget. Jangan pilih tempat paling murah yang membuat teman yang berpenghasilan lebih tidak nyaman, tapi jangan juga pilih yang mahal hingga mencekik teman yang budget-nya terbatas. Cari restoran kelas menengah yang menyediakan paket Ramadan (paket hemat per 4 atau 5 orang).

5. Ide Alternatif Buka Bersama Hemat & Bermakna

Siapa bilang bukber harus selalu di restoran atau kafe hits? Mari ubah mindset kita. Berikut ide alternatif untuk menghemat biaya buka bersama kantor atau teman:

  • Bukber Potluck Berjadwal: Diadakan di rumah/kos salah satu teman. Setiap orang wajib membawa makanan yang berbeda (Si A bawa nasi, Si B bawa lauk, Si C bawa takjil). Jauh lebih hemat dan suasananya jauh lebih intimate.

  • Bukber Sambil Berbagi (Charity Iftar): Daripada menghabiskan Rp 200.000 per orang untuk makan di restoran mahal, lebih baik kumpulkan uang tersebut. Gunakan sebagian untuk membeli nasi kotak murah yang dibagikan ke jalanan/panti asuhan, lalu berbuka puasa bersama di pelataran masjid setelahnya dengan menu sederhana. Pahala dapat, kantong selamat, pertemanan makin erat.

  • Piknik Iftar di Taman Kota: Bawa tikar dan beli jajanan pasar atau makanan street food di sekitar taman. Suasana ruang terbuka outdoor seringkali memberikan pengalaman mengobrol yang lebih santai.

6. Seni Menolak Undangan Tanpa Merusak Silaturahmi

Menjaga stabilitas keuangan berarti Anda harus belajar berani berkata "Tidak". Banyak orang gagal di sini karena takut dibilang pelit. Kuncinya adalah komunikasi asertif.

Gunakan format ini: Apresiasi + Alasan Jujur (namun diplomatis) + Alternatif.

  • "Wah, makasih banget udah diundang! Kangen juga kumpul. Tapi sayangnya minggu ini budget dan jadwal bukberku udah over limit nih. Gimana kalau kita ngopi santai aja bulan depan abis Lebaran?"

  • "Seru banget rencananya! Cuma bulan ini aku lagi ada pengetatan pengeluaran karena ada kebutuhan mendesak keluarga. Salam kangen buat anak-anak yang lain ya, have fun kalian!"

Teman yang toksik akan mencibir, namun teman yang sejati akan langsung mengerti, menghargai batasan Anda, dan bahkan mungkin menawarkan traktiran jika mereka memang benar-benar hanya ingin kehadiran Anda.

7. Jangan Lupakan Prioritas: Zakat dan Masa Depan (Lebaran)

Di tengah hiruk-pikuk mengatur cara hemat saat bukber, selalu ingatkan diri Anda bahwa ada "bos terakhir" (pengeluaran besar) setelah Ramadan selesai: Hari Raya Idul Fitri.

Jika uang Anda habis hanya untuk bukber di minggu pertama dan kedua, Anda akan pusing memikirkan:

  • Tiket mudik atau bensin.

  • Salam tempel (angpao) untuk keponakan.

  • Baju Lebaran atau hidangan hari raya.

Lebih penting lagi, jangan sampai dana sosial dan sedekah Ramadan (seperti Zakat Fitrah dan Infaq) justru terpotong hanya demi menuruti ego nongkrong di tempat mewah. Bayar kewajiban spiritual dan tagihan pokok Anda terlebih dahulu, baru gunakan sisanya untuk kesenangan sosial.

FAQ: Seputar Keuangan Buka Bersama

1. Bagaimana cara mengatur anggaran untuk buka bersama?

Tetapkan alokasi maksimal (misal 10% gaji), pisahkan dananya ke e-wallet berbeda di awal bulan, dan disiplin pada batas tersebut. Jangan pernah mengambil dari pos dana darurat.

2. Berapa budget ideal untuk acara bukber?

Rentang aman untuk kalangan umum adalah Rp 50.000 hingga Rp 150.000 per acara. Pastikan menyesuaikan dengan UMR daerah masing-masing dan hindari tempat yang membebankan tax & service terlalu tinggi jika budget ketat.

3. Apakah wajar merasa tertekan untuk ikut bukber?

Sangat wajar, itu adalah bentuk peer pressure sosial. Namun, Anda memegang kendali penuh atas finansial Anda. Menolak undangan demi kesehatan finansial adalah tindakan yang sangat dewasa dan bijak.

4. Bagaimana agar pengeluaran Ramadan tidak membengkak?

Batasi frekuensi bukber di luar, manfaatkan promo/diskon kartu kredit jika terpaksa di restoran, kurangi scrolling aplikasi food delivery saat sedang lapar (jam 4-5 sore), dan prioritaskan acara potluck.

5. Apakah sah menolak bukber demi menabung untuk Lebaran?

Sangat sah. Mengamankan arus kas untuk tradisi Lebaran (mudik, angpao keluarga) jauh lebih berdampak pada kedamaian pikiran Anda dibandingkan acara kumpul-kumpul semalam.


(dag/dag) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Vidoe: LPS Di Depan 99 Ekonom Ungkap Upaya Tumbuhkan Ekonomi Syariah


Related Articles