Ini Faktor Harga Emas Berkali-kali ATH & Akan Terus Naik
Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia investasi sedang diguncang oleh sebuah fenomena yang jarang terjadi dalam satu generasi. Harga emas baru saja mencatatkan sejarah baru, menyentuh angka yang bagi banyak orang tiga tahun lalu dianggap mustahil.
Namun, di tengah lonjakan ini, muncul perdebatan sengit di kalangan analis Wall Street hingga investor ritel: Apakah kita sedang berada di dalam sebuah gelembung (bubble) yang siap meletus, ataukah kita sedang menyaksikan awal dari sebuah "Perubahan Rezim" (Regime Change) dalam tatanan keuangan global?
Data menunjukkan bahwa dalam tiga tahun terakhir, kapitalisasi pasar emas telah bertambah lebih dari US$20 triliun. Namun, ironisnya, sebagian besar portofolio investasi, mulai dari dana pensiun raksasa hingga investor individu, justru memiliki eksposur yang sangat minim terhadap aset ini. Jika sebuah aset inti tumbuh begitu masif namun diabaikan oleh mayoritas, maka ada sesuatu yang fundamental sedang berubah.
Mengapa Ini Bukan "Bubble" Tradisional?
Secara konvensional, sebuah bubble ditandai oleh antusiasme berlebihan (irrational exuberance), di mana semua orang membicarakan aset tersebut dan masuk ke pasar karena takut tertinggal (FOMO). Kita melihat ini pada tren dot-com tahun 2000 atau crypto pada 2021.
Menurut Jason Gozali, Head of Research Pluang, kondisi emas di awal 2026 ini berbeda. Meskipun harganya melonjak, kepemilikan investor Barat melalui ETF (Exchange Traded Funds) justru masih berada jauh di bawah puncaknya pada masa pandemi 2020.
Investor ritel masih lebih sibuk membicarakan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi terbaru daripada "logam mulia yang kuno". Harga emas naik bukan karena spekulasi ritel yang membabi buta, melainkan karena pergeseran strategis oleh institusi yang paling kuat di dunia, yaitu Bank Sentral.
Faktor Pertama: Senjata De-Dollarisasi dan Keamanan Cadangan
Titik balik perubahan rezim ini dimulai ketika sistem keuangan global menyaksikan "persenjataan" dolar AS (weaponization of the dollar). Pembekuan aset bank sentral Rusia sebesar US$300 miliar beberapa tahun lalu menjadi sinyal bagi negara-negara lain-terutama di blok Timur dan negara berkembang-bahwa menyimpan cadangan devisa dalam bentuk obligasi pemerintah AS (Treasury) membawa risiko politik yang besar.
Bank sentral kini menyadari bahwa emas adalah satu-satunya aset cadangan yang:
- Tidak memiliki risiko kredit:Emas bukan merupakan kewajiban dari pemerintah mana pun.
- Tidak bisa disita secara digital:Emas fisik yang disimpan di dalam negeri berada di bawah kendali kedaulatan penuh.
- Tidak bisa dicetak sesuka hati:Nilainya tidak bisa didegradasi oleh kebijakan moneter negara lain.
Sejak tahun 2022 hingga 2025, bank sentral secara konsisten membeli lebih dari 1.000 ton emas per tahun. Ini adalah level pembelian tertinggi sejak tahun 1950-an.
Ketika institusi pembuat kebijakan moneter dunia mulai membuang obligasi dan menimbun emas, mereka sedang mengirim pesan bahwa kepercayaan terhadap sistem berbasis utang sedang terkikis.
Faktor Kedua: Ledakan Utang dan Jebakan Fiskal
Di awal 2026, utang pemerintah Amerika Serikat telah melampaui US$38 triliun. Defisit anggaran tahunan tetap berada di level yang mengkhawatirkan. Dalam kondisi normal, bunga yang tinggi seharusnya menekan harga emas. Namun, hukum ekonomi lama ini mulai patah.
Kini, investor mulai melihat bunga tinggi bukan sebagai hambatan bagi emas, melainkan sebagai tanda bahaya bagi stabilitas fiskal. Semakin tinggi suku bunga, semakin besar beban bunga utang yang harus dibayar oleh pemerintah. Pada titik tertentu, pasar mulai meragukan kemampuan negara untuk membayar utang tersebut tanpa melakukan "degradasi mata uang" (currency debasement) atau mencetak lebih banyak uang.
Inilah mengapa harga emas tetap naik meski suku bunga tinggi. Emas tidak lagi bergerak secara terbalik terhadapyieldobligasi, melainkan bergerak searah sebagai bentuk lindung nilai terhadap risiko kegagalan fiskal.
Krisis Portofolio Tradisional 60/40
Selama puluhan tahun, nasihat investasi standar adalah mengalokasikan 60% saham dan 40% obligasi. Obligasi dianggap sebagai "bantalan" saat pasar saham jatuh. Namun, sejak 2020, korelasi ini rusak. Saat inflasi naik, baik saham maupun obligasi sama-sama tertekan.
Di Australia, sistem dana pensiun (Superannuation) yang mengelola dana triliunan dolar hampir tidak memiliki alokasi pada emas. Jika saja mereka mengalokasikan 10% ke emas dalam tiga tahun terakhir, anggota dana pensiun akan lebih kaya ratusan miliar dolar hari ini.
Kegagalan untuk beradaptasi dengan perubahan rezim ini adalah biaya yang sangat mahal bagi investor. Banyak manajer investasi lebih memilih aset privat yang tidak likuid atau kredit swasta yang terlihat stabil "di atas kertas", namun mengabaikan emas yang merupakan aset paling likuid di dunia.
Paralel dengan Tahun 1970-an, Emas Tahan Inflasi
Untuk memahami ke mana arah kita, tentu kita harus menoleh ke dekade 1970-an. Kala itu, dunia mengalami inflasi hebat dalam beberapa gelombang. Selama satu dekade, emas melonjak hampir 20 kali lipat, sementara saham dan obligasi memberikan imbal hasil riil yang negatif.
Kondisi saat ini secara struktural lebih menantang daripada tahun 1970-an. Saat itu, rasio utang terhadap PDB Amerika hanya sekitar 30%. Hari ini, rasio tersebut hampir empat kali lipat lebih tinggi. Jika pada tahun 1980 Paul Volcker bisa menaikkan suku bunga hingga 20% untuk menjinakkan inflasi tanpa membangkrutkan negara, hari ini langkah tersebut akan langsung memicu krisis sistemik karena beban utang yang sangat masif.
Menurut Pluang Research, tanpa adanya sosok "Volcker" yang mampu menaikkan bunga secara ekstrem, inflasi kemungkinan akan tetap berada di atas target untuk waktu yang lama. Ini adalah lingkungan yang sangat subur bagi emas untuk terus tumbuh.
Kelangkaan Mengintai Emas dan Perak
Membahas emas tidak lengkap tanpa melihat saudaranya, perak. Jika emas adalah sinyal ketakutan moneter, perak adalah sinyal kelangkaan fisik.
Data dari Silver Institute menunjukkan bahwa perak telah mengalami defisit pasokan selama lima tahun berturut-turut hingga 2025. Permintaan industri untuk panel surya (energi terbarukan), komponen elektronik EV (kendaraan listrik), dan teknologi AI telah menghabiskan stok fisik di gudang-gudang London dan New York.
Dengan rasio harga emas terhadap perak yang masih tergolong lebar, perak sering kali dianggap sebagai "emas dengan turbo". Jika harga emas menembus US$5.000, menurut hasil riset Pluang, harga perak dapat menyentuh angka tiga digit ($100) karena tekanan dari sisi permintaan industri yang besar. .
Risiko yang Harus Diperhatikan
Sebagai investor yang cerdas di Pluang, kita harus tetap objektif. Perubahan rezim tidak berarti harga akan naik dalam garis lurus. Perjalanan menuju harga yang lebih tinggi akan penuh dengan volatilitas.
Pada tahun 1975-1976, emas sempat jatuh 50% sebelum akhirnya melonjak 700% di akhir dekade tersebut. Koreksi tajam adalah bagian dari dinamika pasar. Namun, dalam perubahan rezim, setiap penurunan harga (dip) adalah kesempatan bagi bank sentral dan institusi untuk menambah posisi mereka yang masih kurang.
Strategi Investasi 60/20/20
Narasi alokasi aset kini mulai bergeser dari model tradisional 60/40 menuju struktur 60/20/20, terdiri dari 60% saham, 20% obligasi, dan 20% aset alternatif termasuk emas. Morgan Stanley dan sejumlah institusi besar lainnya telah merekomendasikan peningkatan alokasi emas sebagaianti-fragile asset.
Melalui Pluang, Anda memiliki akses lengkap ke berbagai instrumen emas dalam satu aplikasi:
- Emas Digital (Antam/UBS): Investasi emas fisik mulai dari nominal kecil dengan opsi Tarik Fisik ke logam mulia asli.
- Gold-Backed Crypto (PAXG & XAUT): Token kripto yang dijamin 1:1 dengan emas fisik asli. PAX Gold (PAXG) dan Tether Gold (XAUT) memungkinkan Anda memiliki emas secara instan di blockchain dengan likuiditas tinggi.
- ETF Emas & Saham Pertambangan: Akses ke pasar global melalui ETF (seperti GLD) dan opsi saham perusahaan tambang emas melalui fitur saham AS.
Pluang berizin dan diawasi oleh OJK. Pluang bekerja sama dengan PT Pluang Emas Sejahtera yang telah memiliki izin sebagai Pedagang Fisik Emas Digital dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).
Disclaimer: Segala analisis atau rekomendasi dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual aset tertentu. Keputusan berinvestasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan pribadi.
(dpu/dpu)[Gambas:Video CNBC]