Pasangan Bohong Soal Uang? Ini Risiko Finansial dan Cara Mengatasinya
Dafar Isi
- Ketidakjujuran Finansial Bukan Sekadar Masalah Relasi
- Mengapa Pasangan Bisa Tidak Jujur Soal Uang?
- Tanda-Tanda Pasangan Tidak Transparan Soal Keuangan
- Dampak Finansial yang Sering Diremehkan
- Cara Mengatasi Pasangan Tak Jujur Soal Uang
- Pacaran dan Menikah: Risiko yang Berbeda
- Kejujuran dalam Keuangan
Jakarta, CNBC Indonesia - Masalah keuangan kerap menjadi pemicu konflik dalam hubungan. Namun, persoalan sesungguhnya sering kali bukan terletak pada besarnya penghasilan, melainkan pada ketidakjujuran finansial antara pasangan.
Fenomena pasangan yang menyembunyikan pengeluaran, cicilan, hingga utang kini semakin sering terjadi, seiring mudahnya akses ke layanan keuangan digital seperti paylater dan pinjaman online.
Dalam dunia perencanaan keuangan, kondisi ini dikenal sebagai financial infidelity: situasi ketika salah satu pihak tidak terbuka atau sengaja berbohong soal uang.
Dampaknya bukan sekadar emosional, tetapi juga membawa risiko nyata terhadap stabilitas keuangan jangka panjang.
Ketidakjujuran Finansial Bukan Sekadar Masalah Relasi
Dalam hubungan, uang bukan hanya alat transaksi, melainkan fondasi perencanaan hidup bersama. Ketika informasi keuangan tidak transparan, keputusan finansial pun berpotensi diambil berdasarkan asumsi yang keliru.
Ted Rossman, Senior Industry Analyst Bankrate, menegaskan bahwa rahasia soal uang memiliki dampak serius terhadap tujuan keuangan pasangan.
"Rahasia soal uang bisa merusak hubungan. Sulit mencapai tujuan keuangan ketika pasangan menarik ke arah yang sama dan hampir mustahil jika menarik ke arah yang berlawanan," kata Rossman, dikutip dari Investopedia, Rabu (4/2/2026).
Bagi pasangan yang memiliki target seperti membeli rumah, menyiapkan dana pendidikan anak, atau membangun dana pensiun, ketidakjujuran finansial dapat menjadi hambatan besar yang kerap tidak disadari sejak awal.
Mengapa Pasangan Bisa Tidak Jujur Soal Uang?
Dalam banyak kasus, ketidakjujuran finansial tidak selalu berangkat dari niat buruk. Ada sejumlah faktor yang kerap melatarbelakanginya.
Tekanan Sosial dan Ekspektasi
Sebagian orang merasa harus terlihat mapan secara finansial di hadapan pasangan, sehingga memilih menutupi kondisi keuangan sebenarnya.
Trauma Finansial
Pengalaman masa lalu, seperti tumbuh dalam keluarga dengan konflik uang, dapat membuat seseorang menghindari diskusi finansial karena dianggap memicu pertengkaran.
Utang Konsumtif yang Dianggap Sepele
Utang paylater, kartu kredit, atau pinjaman online sering disembunyikan dengan asumsi "nanti bisa dibereskan", padahal bunganya terus berjalan.
Ketimpangan Literasi Keuangan
Dalam banyak hubungan, satu pihak lebih memahami keuangan dibanding yang lain, sehingga keputusan finansial diambil sepihak tanpa keterbukaan.
Tanda-Tanda Pasangan Tidak Transparan Soal Keuangan
Ketidakjujuran finansial jarang muncul secara terang-terangan. Namun, ada beberapa indikator yang patut diwaspadai:
-
Enggan membicarakan gaji, aset, atau utang
-
Bersikap defensif saat topik uang dibahas
-
Tiba-tiba muncul cicilan baru tanpa penjelasan
-
Gaya hidup tidak sebanding dengan penghasilan
-
Memiliki akun pinjaman digital yang tidak diketahui pasangan
Jika tanda-tanda ini muncul secara konsisten, pasangan sebaiknya mulai membuka dialog serius.
Dampak Finansial yang Sering Diremehkan
Ketidakjujuran soal uang dapat menimbulkan efek domino yang merugikan.
1. Arus Kas Rumah Tangga Terganggu
Pengeluaran tak terduga akibat utang tersembunyi dapat mengacaukan cash flow bulanan.
2. Target Keuangan Gagal Tercapai
Perencanaan dana darurat, investasi, hingga dana pendidikan anak menjadi tidak realistis karena data keuangan tidak akurat.
3. Risiko Kredit dan Hukum
Dalam pernikahan, utang salah satu pihak bisa berdampak hukum pada pasangan, tergantung hukum dan perjanjian yang berlaku.
4. Tekanan Mental Berkepanjangan
Stres finansial seringkali berdampak pada kesehatan mental dan produktivitas kerja.
Cara Mengatasi Pasangan Tak Jujur Soal Uang
Menghadapi ketidakjujuran finansial membutuhkan pendekatan rasional, bukan sekadar emosional.
Buka Diskusi Berbasis Data
Alih-alih menuduh, ajak pasangan melihat kondisi keuangan secara objektif: pemasukan, pengeluaran, utang, dan kewajiban jangka panjang.
Sepakati Transparansi
Tidak semua pengeluaran harus dilaporkan secara detail, tetapi ada batas yang tidak boleh disembunyikan, seperti utang, cicilan, dan investasi berisiko.
"Ketidakjujuran finansial bisa dihindari ketika kedua pasangan sepakat pada tujuan dan cara mencapainya bersama," tulis Investopedia dalam ulasan perencanaan keuangan hubungan.
Bangun Sistem, Bukan Sekadar Janji
Sistem jauh lebih penting daripada komitmen lisan. Beberapa pendekatan yang umum digunakan antara lain:
-
Rekening pribadi dan rekening bersama
-
Anggaran rumah tangga bulanan
-
Aturan batas utang tanpa persetujuan
Sistem yang jelas membantu mencegah konflik berulang.
Pisahkan Empati dan Tanggung Jawab Finansial
Memahami kondisi pasangan tidak berarti harus menanggung semua risikonya. Menyelamatkan pasangan dari konsekuensi finansial justru berpotensi memperpanjang masalah.
Kapan Harus Melibatkan Pihak Ketiga?
Jika ketidakjujuran finansial sudah berdampak pada utang tersembunyi, aset keluarga, atau stabilitas ekonomi rumah tangga, bantuan profesional patut dipertimbangkan.
Grace Yung, CFP®, dari CFP Board, menilai peran perencana keuangan penting dalam kondisi seperti ini.
"Selain bantuan hukum, melibatkan perencana keuangan bersertifikat dapat membantu pasangan menavigasi dampak finansial dari konflik yang terjadi," ujar Yung
Perencana keuangan atau konselor dapat menjadi mediator netral agar diskusi kembali fokus pada solusi.
Pacaran dan Menikah: Risiko yang Berbeda
Dalam Masa Pacaran
Ketidakjujuran finansial bisa menjadi indikator risiko jangka panjang. Pada fase ini, disarankan untuk tidak mencampur keuangan atau menanggung utang pasangan.
Dalam Pernikahan
Risiko finansial bersifat kolektif. Transparansi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan untuk menjaga stabilitas keluarga.
Kejujuran dalam Keuangan
Kejujuran finansial bukan soal romantisme, melainkan strategi perlindungan aset dan perencanaan risiko. Hubungan yang sehat membutuhkan keterbukaan agar keputusan keuangan dibuat berdasarkan data, bukan asumsi.
Uang memang bukan segalanya. Namun ketidakjujuran soal uang dapat merusak segalanya-mulai dari kepercayaan hingga masa depan finansial bersama.
Jika keterbukaan hanya diperjuangkan oleh satu pihak, mungkin yang perlu dievaluasi bukan sekadar anggaran, melainkan kelayakan hubungan sebagai kerja sama jangka panjang.
(dag/dag)