7 Kesalahan Finansial Ibu Rumah Tangga Saat Memulai Usaha Rumahan

Dany Gibran, CNBC Indonesia
Selasa, 03/02/2026 12:01 WIB
Foto: Ibu Rumah Tangga, Tapi Bisa Punya Usaha Sendiri, Kok Bisa?
Dafar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Usaha rumahan kerap dipromosikan sebagai solusi praktis bagi ibu rumah tangga untuk menambah penghasilan keluarga. Dengan modal relatif kecil dan fleksibilitas waktu, bisnis rumahan dianggap minim risiko dan mudah dijalankan.

Namun dibalik narasi tersebut, banyak usaha rumahan justru berhenti di tengah jalan. Bukan karena produknya tidak laku, melainkan akibat kesalahan finansial mendasar yang jarang disadari, terutama di fase awal usaha.

Berbeda dari kesalahan umum seperti tidak mencatat keuangan atau modal kurang, terdapat sejumlah faktor tersembunyi yang luput dari perhatian, tetapi berdampak besar terhadap keberlanjutan usaha.


Kesalahan Finansial Ibu Rumah Tangga dalam Memulai Usaha Rumahan yang Jarang Dibahas

1. Usaha Sampingan Bisa Melemahkan Disiplin Keuangan

Salah satu kesalahan paling mendasar adalah melabeli usaha rumahan sebagai usaha sampingan. Istilah ini terlihat sepele, tetapi berdampak besar terhadap cara pelaku usaha mengelola keuangan.

Ketika usaha dianggap hanya sampingan:

  • Tidak ada target keuntungan yang jelas

  • Kerugian dianggap wajar dan dibiarkan

  • Tidak ada evaluasi performa usaha

Akibatnya, usaha berjalan tanpa arah finansial yang terukur. Padahal, dari sudut pandang keuangan, sekecil apapun usaha tetap membutuhkan disiplin pengelolaan.

2. Bias Emosional karena Usaha Berbasis Hobi

Banyak usaha rumahan berawal dari hobi, seperti memasak, membuat kue, menjahit, atau kerajinan tangan. Hobi memang menjadi modal awal yang kuat, tetapi juga bisa menjadi sumber bias emosional dalam pengambilan keputusan finansial.

Contoh bias yang sering terjadi:

  • Enggan menaikkan harga karena takut pelanggan kecewa

  • Terus produksi meski permintaan menurun

  • Membeli peralatan mahal demi kepuasan pribadi

Dalam konteks bisnis, keputusan berbasis emosi ini dapat menggerus keuangan usaha secara perlahan.

3. Jam Kerja Tidak Dihitung sebagai Biaya

Kesalahan finansial yang sangat jarang disadari adalah menganggap waktu dan tenaga sendiri tidak bernilai uang. Banyak ibu rumah tangga menjalankan usaha di sela-sela pekerjaan domestik dan menganggap jam kerja tersebut "gratis".

Padahal, jika dihitung secara ekonomi:

  • Harga jual seringkali berada di bawah biaya sebenarnya

  • Usaha terlihat untung, tetapi secara riil merugi

  • Pelaku usaha mengalami kelelahan tanpa imbal hasil sepadan

Tidak menghitung biaya tenaga kerja sendiri membuat struktur keuangan usaha menjadi tidak realistis.

4. Kebocoran Finansial Mikro yang Diabaikan

Berbeda dengan biaya besar yang mudah terdeteksi, usaha rumahan sering mengalami kebocoran finansial mikro yang tidak terasa, tetapi berdampak signifikan.

Contoh kebocoran mikro:

  • Subsidi ongkir tanpa perhitungan

  • Diskon karena sungkan

  • Bonus kecil yang diberikan berulang

Karena nilainya kecil, pengeluaran ini jarang dicatat. Dalam jangka waktu bulanan, kebocoran mikro dapat menghabiskan margin keuntungan usaha.

5. Ketergantungan pada Dana Keluarga Tanpa Batas Risiko

Modal usaha rumahan sering bersumber dari dana keluarga, seperti uang belanja, tabungan, atau bahkan dana pendidikan anak. Masalahnya bukan pada sumber modal, melainkan ketiadaan batas risiko yang jelas.

Kesalahan yang sering terjadi:

  • Tidak menetapkan batas maksimal kerugian

  • Tidak memiliki rencana penghentian usaha

  • Terus menambah modal meski usaha tidak berkembang

Tanpa batas risiko, usaha berpotensi mengganggu stabilitas keuangan keluarga secara keseluruhan.

6. Tidak Memisahkan Keuntungan Usaha dan "Gaji" Pribadi

Banyak ibu rumah tangga pelaku usaha tidak pernah menetapkan gaji untuk dirinya sendiri. Uang usaha diambil sesuai kebutuhan, tanpa struktur yang jelas.

Dampaknya:

  • Sulit mengetahui keuntungan bersih usaha

  • Keuangan pribadi dan bisnis terus bercampur

  • Usaha sulit naik kelas dan berkembang

Memisahkan keuntungan usaha dan upah pribadi merupakan langkah penting menuju profesionalisme bisnis.

7. Tidak Memiliki Exit Strategy Sejak Awal

Hampir tidak ada pembahasan tentang kapan usaha rumahan sebaiknya dihentikan. Banyak pelaku usaha terus bertahan meski secara finansial tidak lagi sehat.

Tanpa exit strategy:

  • Kerugian terus ditanggung keluarga

  • Modal habis secara perlahan

  • Stres finansial meningkat

Dalam dunia usaha, mengetahui kapan harus berhenti sama pentingnya dengan mengetahui kapan harus memulai.

Dampak Kesalahan Finansial terhadap Ekonomi Keluarga

Kesalahan finansial dalam usaha rumahan tidak berdiri sendiri. Dampaknya sering merembet ke keuangan keluarga, antara lain:

Dalam kondisi ekstrim, usaha yang awalnya bertujuan membantu ekonomi keluarga justru menjadi sumber tekanan baru.

Strategi Finansial agar Usaha Rumahan Lebih Berkelanjutan

Untuk menghindari kesalahan-kesalahan di atas, beberapa prinsip dasar berikut perlu diterapkan:

  • Perlakukan usaha rumahan sebagai entitas bisnis, bukan sekadar kegiatan sampingan

  • Hitung seluruh biaya, termasuk tenaga dan waktu sendiri

  • Tetapkan batas risiko dana keluarga

  • Pisahkan keuntungan usaha dan penghasilan pribadi

  • Miliki rencana evaluasi dan exit strategy

Pendekatan ini membantu usaha rumahan tumbuh lebih sehat dan terukur.

Kesimpulan

Kesalahan finansial ibu rumah tangga saat memulai usaha rumahan tidak selalu bersifat teknis. Banyak di antaranya bersumber dari mindset, peran ganda, dan bias emosional yang jarang disadari.

Dengan memahami faktor-faktor unik yang sering luput dari pembahasan, ibu rumah tangga dapat mengelola usaha secara lebih rasional dan berkelanjutan. Pada akhirnya, usaha rumahan yang sehat secara finansial tidak hanya mendukung kemandirian ekonomi, tetapi juga menjaga stabilitas keuangan keluarga.

 


(dag/dag)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Reformasi Pasar Modal RI, Investor Asing Siap Kembali Masuk?