Aturan Pensiun 25x: Cara Hitung dan Contohnya Untuk Karyawan Swasta
Dafar Isi
- Apa Itu Rule of 25?
- Tidak Semua Biaya Harus Ditutup dari Investasi
- Berapa Dana Pensiun yang Diperkirakan Masyarakat?
- Kelebihan Rule of 25 sebagai Alat Perencanaan Awal
- Keterbatasan Rule of 25 yang Perlu Diwaspadai
- Peran Pendapatan Negara dalam Mengurangi Beban Dana Pensiun
- Rule of 25 sebagai Panduan, Bukan Jaminan
- Cara Mempersonalisasi Rule of 25 agar Lebih Realistis
- Cara Menyiapkan Dana Pensiun Secara Realistis (Tidak Harus dari Investasi)
- Kesimpulan: Rule of 25 Hanya Titik Awal
Jakarta, CNBC Indonesia - Menyiapkan dana pensiun untuk karyawan swasta kerap terasa membingungkan. Banyak orang bekerja bertahun-tahun, tetapi masih belum yakin berapa dana yang dibutuhkan agar bisa hidup tenang setelah pensiun.
Bagi karyawan swasta, tantangan ini lebih nyata. Tidak ada jaminan pensiun seumur hidup, sementara penghasilan akan berhenti saat masa kerja berakhir. Karena itu, sumber dana pensiun harus dipersiapkan sendiri, mulai dari tabungan, bonus akhir tahun, dana pensiun perusahaan, hingga investasi pribadi.
Salah satu rumus yang paling sering digunakan adalah Rule of 25 atau aturan 25 kali. Metode ini menawarkan perhitungan sederhana untuk memperkirakan dana pensiun. Namun, pertanyaannya: apakah Rule of 25 masih relevan dan realistis bagi karyawan swasta saat ini?
Apa Itu Rule of 25?
Rule of 25 adalah metode perhitungan dana pensiun dengan cara mengalikan pengeluaran tahunan saat pensiun dengan angka 25.
Secara sederhana, rumusnya adalah:
Biaya hidup tahunan × 25 = estimasi dana pensiun
Aturan ini berangkat dari asumsi bahwa seseorang dapat menarik sekitar 4% dari portofolio investasinya setiap tahun tanpa kehabisan dana selama masa pensiun sekitar 25-30 tahun.
Konsep ini berkaitan erat dengan aturan penarikan 4% (4% withdrawal rule) yang populer sejak hasil penelitian Trinity Study pada akhir 1990-an. Penelitian tersebut menganalisis data historis pasar untuk melihat tingkat penarikan dana yang relatif aman dalam jangka panjang.
Sebagai contoh, seseorang yang ingin mempertahankan gaya hidup dengan biaya Rp240 juta per tahun saat pensiun, menurut Rule of 25, membutuhkan dana sekitar Rp6 miliar.
Tidak Semua Biaya Harus Ditutup dari Investasi
Salah satu kesalahpahaman terbesar terkait Rule of 25 adalah anggapan bahwa seluruh biaya hidup pensiun harus berasal dari investasi pribadi.
Alex Caswell, financial adviser sekaligus pendiri Wealth Script Advisors, menekankan bahwa Rule of 25 hanya berlaku untuk bagian pengeluaran yang benar-benar perlu ditutup dari portofolio investasi.
Jika seseorang menargetkan pengeluaran Rp240 juta per tahun, tetapi sudah memiliki pendapatan rutin dari sumber lain misalnya pensiun negara, dana pensiun perusahaan, atau penghasilan sewa properti maka dana investasi yang dibutuhkan jelas lebih kecil.
Contohnya, jika Rp96 juta per tahun sudah ditutup dari pendapatan tetap, maka investasi hanya perlu menghasilkan Rp144 juta per tahun. Dengan Rule of 25, target dana pensiun turun menjadi Rp3,6 miliar, bukan Rp6 miliar.
Berapa Dana Pensiun yang Diperkirakan Masyarakat?
Persepsi masyarakat tentang dana pensiun juga terus berubah. Studi Northwestern Mutual tahun 2025 menunjukkan bahwa masyarakat Amerika memperkirakan membutuhkan US$1,26 juta untuk pensiun nyaman. Angka ini justru turun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai US$1,46 juta.
Penurunan ini mengindikasikan bahwa ekspektasi pensiun mulai menyesuaikan diri dengan realitas ekonomi dan kondisi pasar yang lebih volatil.
Namun, angka rata-rata semacam ini sering kali menyesatkan jika dijadikan patokan tunggal, karena kebutuhan pensiun sangat bergantung pada kondisi dan gaya hidup masing-masing individu.
Kelebihan Rule of 25 sebagai Alat Perencanaan Awal
Meski sering dikritik, Rule of 25 tetap memiliki fungsi penting dalam perencanaan keuangan. Menurut Caswell, aturan ini efektif untuk:
-
Memberikan gambaran kasar skala dana pensiun
-
Membantu seseorang menilai apakah tabungan saat ini sudah berada di jalur yang benar
-
Menjelaskan konsep kemandirian finansial secara sederhana
Dengan satu angka target, banyak orang menjadi lebih sadar bahwa pensiun membutuhkan perencanaan jangka panjang dan disiplin menabung.
Keterbatasan Rule of 25 yang Perlu Diwaspadai
Di sisi lain, para ahli sepakat bahwa Rule of 25 memiliki banyak keterbatasan jika digunakan tanpa penyesuaian.
1. Mengabaikan Perbedaan Kondisi Individu
Scott Bishop, partner dan managing director di Presidio Wealth Partners, menegaskan bahwa Rule of 25 tidak memperhitungkan:
-
Toleransi risiko individu
-
Sumber pendapatan terjamin seperti pensiun atau jaminan sosial
-
Struktur pajak
-
Risiko urutan imbal hasil (sequence of returns risk)
Padahal, faktor-faktor tersebut sangat memengaruhi ketahanan dana pensiun dalam jangka panjang.
2. Asumsi Pengeluaran yang Terlalu Sederhana
Philly Ponniah, chartered wealth manager di Philly Financial, menyebut bahwa Rule of 25 mengasumsikan pola pengeluaran yang datar. Dalam kenyataannya, pengeluaran pensiun sering kali berubah seiring usia.
Banyak orang mengeluarkan biaya lebih besar di awal pensiun untuk perjalanan dan hobi, lalu menurun di usia menengah, sebelum meningkat kembali akibat biaya kesehatan dan perawatan.
3. Tidak Memperhitungkan Inflasi dan Biaya Kesehatan Secara Mendalam
Inflasi jangka panjang dan lonjakan biaya kesehatan menjadi tantangan utama dalam perencanaan pensiun modern. Rule of 25 tidak secara eksplisit menghitung risiko ini, padahal dampaknya bisa sangat signifikan.
4. Risiko Usia Harapan Hidup yang Lebih Panjang
Dengan meningkatnya usia harapan hidup, risiko kehabisan dana di usia lanjut juga semakin besar. Aturan penarikan 4% yang menjadi dasar Rule of 25 mulai dipertanyakan relevansinya dalam kondisi saat ini.
Peran Pendapatan Negara dalam Mengurangi Beban Dana Pensiun
Salah satu kritik utama terhadap Rule of 25 adalah kecenderungannya mengabaikan pendapatan dari negara.
Scott Gallacher, direktur di Rowley Turton, memberi contoh bahwa pasangan dengan kebutuhan Rp30 juta per tahun akan tampak membutuhkan dana sangat besar jika dihitung mentah-mentah dengan Rule of 25.
Namun, ketika pendapatan pensiun negara mulai diterima, kebutuhan dana dari investasi pribadi bisa turun drastis. Dalam banyak kasus, total dana yang diperlukan bahkan bisa hampir setengah dari angka awal yang terlihat "menakutkan".
Menurut Gallacher, angka headline yang terlalu besar justru berisiko membuat orang enggan mulai menabung karena merasa targetnya mustahil dicapai.
Rule of 25 sebagai Panduan, Bukan Jaminan
Ross Lacey dari Fairview Financial Management menegaskan bahwa Rule of 25 hanyalah aturan praktis, bukan formula mutlak.
Setiap individu memiliki kombinasi sumber pendapatan yang berbeda, mulai dari:
-
Dana pensiun berbasis gaji
-
Properti sewaan
-
Bisnis
-
Pelepasan ekuitas rumah
Semua faktor tersebut membuat kebutuhan dana pensiun menjadi sangat personal.
Cara Mempersonalisasi Rule of 25 agar Lebih Realistis
Agar Rule of 25 tidak menyesatkan, para ahli menyarankan beberapa langkah penyesuaian:
1. Buat Anggaran Pensiun yang Detail
Mulai dari pengeluaran aktual hari ini, lalu sesuaikan dengan rencana gaya hidup saat pensiun.
2. Hitung Semua Sumber Pendapatan
Kurangi kebutuhan investasi dengan pendapatan terjamin seperti pensiun, sewa properti, atau kerja paruh waktu.
3. Perhatikan Struktur Pajak
Dana di rekening kena pajak, bebas pajak, dan ditangguhkan pajak memiliki nilai bersih yang berbeda saat ditarik.
4. Gunakan Rentang Angka
Alih-alih terpaku pada satu angka, buat skenario konservatif hingga optimistis untuk menghadapi perubahan kondisi hidup.
Cara Menyiapkan Dana Pensiun Secara Realistis (Tidak Harus dari Investasi)
Menyiapkan dana pensiun tidak selalu berarti harus menumpuk uang di pasar modal. Justru langkah pertama yang paling penting adalah memahami bahwa dana pensiun ideal berasal dari berbagai sumber, bukan satu pintu saja.
1. Petakan Semua Sumber Dana Pensiun
Sebelum bicara soal investasi, petakan terlebih dahulu semua potensi pemasukan yang bisa diperoleh saat pensiun, seperti:
-
Dana pensiun perusahaan (DPLK)
-
BPJS Ketenagakerjaan (JHT & JP)
-
Properti sewaan
-
Bisnis yang masih berjalan
-
Pekerjaan ringan atau freelance
-
Tabungan tunai
Setelah itu, baru hitung bagian pengeluaran mana yang belum tertutup dan benar-benar perlu dibiayai dari aset pribadi.
ide
2. Kurangi Target Rule of 25 dengan Pendapatan Tetap
Rule of 25 tidak berlaku untuk seluruh biaya hidup, melainkan hanya untuk:
biaya hidup - pendapatan tetap
Contoh sederhana:
-
Kebutuhan hidup: Rp8 juta/bulan
-
Pendapatan tetap: Rp3 juta/bulan
-
Yang perlu ditutup: Rp5 juta/bulan
Artinya, kebutuhan investasi hanya Rp60 juta per tahun. Dengan Rule of 25:
Rp60 juta × 25 = Rp1,5 miliar, bukan Rp2,4 miliar.
3. Bangun Aset yang Menghasilkan, Bukan Sekadar "Investasi"
Dana pensiun bisa berasal dari berbagai jenis aset yang menghasilkan arus kas:
| Sumber | Contoh |
| Cashflow | Sewa Kontrakan |
| Aset Produktif | Kios, Kos |
| Hak Pendapatan | Royalti, Lisensi |
| Skill | Konsultan Paruh Waktu |
| Pensiun Institusional | DPLK, BPJS |
Kombinasi antara aset produktif dan instrumen finansial, agar sumber dana pensiun tidak hanya bergantung pada satu jenis aset.
4. Investasi Hanya untuk Menutup Kekurangan
Jika setelah semua sumber dihitung masih ada selisih, di situlah investasi berperan sebagai penutup, bukan fondasi utama.
5. Strategi Paling Realistis untuk Karyawan Swasta
Pendekatan yang paling aman dan relevan dengan kondisi Indonesia:
-
Amankan dulu:
- Dana pensiun perusahaan (DPLK)
- BPJS Ketenagakerjaan
-
Bangun minimal satu aset produktif
-
Sisanya baru dialokasikan ke instrumen finansial
Kesimpulan: Rule of 25 Hanya Titik Awal
Rule of 25 memang memberikan gambaran cepat tentang kebutuhan dana pensiun, tetapi bukan jawaban final. Terlalu fokus pada satu angka justru bisa mengaburkan tujuan utama perencanaan pensiun: menjaga kualitas hidup secara berkelanjutan.
Seperti ditegaskan Scott Bishop, perencanaan pensiun seharusnya tidak hanya membahas angka, tetapi juga mempertimbangkan kesehatan, tujuan hidup, dan fleksibilitas finansial.
Rule of 25 adalah sketsa awal, bukan cetak biru. Dana pensiun yang benar-benar "cukup" akan selalu bergantung pada cara hidup, nilai yang dianut, dan kemampuan beradaptasi menghadapi perubahan ekonomi di masa depan.
(dag/dag)