6 Peluang Usaha yang Berpotensi Untung di Musim Hujan

Dany Gibran, CNBC Indonesia
Jumat, 23/01/2026 12:55 WIB
Foto: Ilustrasi penjual jas hujan. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Dafar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Musim hujan tidak hanya membawa perubahan cuaca, tetapi juga memengaruhi aktivitas dan pola konsumsi masyarakat. Intensitas hujan yang meningkat di sejumlah wilayah membuat mobilitas berkurang dan mendorong masyarakat untuk menyesuaikan kebutuhan sehari-hari, terutama yang berkaitan dengan perlindungan diri, kenyamanan, serta penyelesaian masalah rumah tangga akibat cuaca basah.

Dalam kondisi tersebut, sebagian sektor usaha mengalami penurunan aktivitas. Namun di sisi lain, terdapat produk dan jasa tertentu yang justru lebih sering dicari karena dinilai relevan dengan dampak langsung musim hujan.

Konsumsi Bergeser, Prioritas Belanja Ikut Berubah

Secara umum, musim hujan tidak menciptakan lonjakan konsumsi secara keseluruhan, melainkan menggeser prioritas belanja. Masyarakat cenderung mengurangi aktivitas non-esensial di luar rumah, lebih selektif dalam pengeluaran, serta memfokuskan belanja pada kebutuhan yang bersifat fungsional dan mendesak.


Pola ini membuat peluang usaha di musim hujan bersifat spesifik dan tidak merata di seluruh sektor.

Jasa dan Produk yang Lebih Banyak Dicari Saat Hujan

1. Perlengkapan Pelindung Diri dari Hujan

Produk seperti jas hujan, payung, alas kaki anti air, serta penutup tas umumnya lebih sering dibeli saat hujan turun dengan intensitas tinggi. Pembelian bersifat situasional dan biasanya terjadi ketika konsumen menghadapi kebutuhan langsung, misalnya untuk perjalanan harian.

Estimasi modal awal (skala kecil):

  • Stok awal jas hujan & payung: Rp2-5 juta

  • Perlengkapan display & kemasan sederhana: Rp500 ribu-Rp1 juta

Usaha ini relatif mudah dimulai, namun permintaan bersifat tidak stabil dan sangat dipengaruhi intensitas hujan.

2. Makanan dan Minuman Hangat

Saat cuaca dingin dan lembap, sebagian masyarakat memilih makanan berkuah dan minuman hangat seperti bakso, soto, mie rebus, serta minuman berbasis jahe atau kopi. Kemudahan layanan pesan antar turut mendorong konsumsi kategori ini.

Estimasi modal awal (usaha rumahan/gerobak):

  • Bahan baku awal & bumbu: Rp2-4 juta

  • Peralatan masak sederhana: Rp2-3 juta

  • Kemasan & perlengkapan jualan: Rp500 ribu-Rp1 juta

Total modal umumnya berada di kisaran Rp4,5-8 juta, tergantung skala dan konsep usaha.

3. Perlengkapan Rumah Terkait Masalah Air

Musim hujan sering memperlihatkan masalah rumah tangga seperti atap bocor, rembesan air, atau saluran tersumbat. Produk seperti pelapis anti bocor, sealant, serta perlengkapan talang air cenderung lebih dicari saat kondisi tersebut muncul.

Estimasi modal awal (penjualan produk):

  • Stok pelapis anti bocor & sealant: Rp3-6 juta

  • Alat bantu aplikasi sederhana: Rp1-2 juta

Pembelian bersifat tidak rutin, namun nilai transaksi relatif lebih besar dibandingkan kebutuhan harian.

Jasa yang Cenderung Dicari Saat Musim Hujan

1. Jasa Perbaikan dan Perawatan Rumah

Di sejumlah wilayah, jasa perbaikan rumah lebih sering dibutuhkan saat hujan, terutama untuk menangani kebocoran atap atau gangguan saluran air. Kebutuhan ini umumnya bersifat mendesak dan dipicu langsung oleh kondisi cuaca.

Estimasi modal awal (jasa mandiri):

  • Peralatan kerja dasar: Rp2-4 juta

  • Bahan habis pakai awal: Rp1-2 juta

Usaha ini lebih mengandalkan keterampilan dan jaringan lokal dibandingkan modal besar.

2. Jasa Laundry dan Perawatan Pakaian

Cuaca lembap membuat proses pengeringan pakaian menjadi lebih sulit. Kondisi ini mendorong sebagian masyarakat menggunakan jasa laundry, terutama di kawasan padat penduduk.

Estimasi modal awal (skala kecil):

  • Mesin cuci & pengering: Rp8-15 juta

  • Setrika, deterjen, dan perlengkapan pendukung: Rp2-3 juta

Total modal awal berkisar Rp10-18 juta, tergantung kapasitas mesin.

3. Layanan Antar Jemput dan Transportasi Lokal

Hujan memengaruhi pilihan transportasi harian. Di lingkungan tertentu, layanan antar jemput sekolah atau karyawan menjadi alternatif untuk mengurangi risiko berkendara sendiri.

Estimasi modal awal:

  • Kendaraan (jika sudah ada): Rp0

  • Biaya operasional awal & perawatan: Rp1-3 juta

Kebutuhan layanan ini sangat bergantung pada kondisi wilayah dan rutinitas pengguna.

Kesimpulan

Musim hujan mendorong pergeseran pola konsumsi masyarakat, bukan peningkatan konsumsi secara menyeluruh. Produk dan jasa yang berkaitan dengan perlindungan diri, kenyamanan, serta penanganan dampak langsung hujan cenderung lebih relevan dalam periode ini.

Memahami perubahan perilaku konsumen, sekaligus menghitung kebutuhan modal secara realistis, menjadi kunci agar strategi usaha tetap selaras dengan kondisi lapangan.


(dag/dag)
Saksikan video di bawah ini:

Video: QRIS Bisa Dipakai di China-Korsel Mulai Q1-2026