Ada Ancaman Stagflasi, Simak Analisis di Balik Lonjakan Harga Emas

Khoirul Anam,  CNBC Indonesia
23 January 2026 12:44
Dok Pluang
Foto: Dok Pluang

Jakarta, CNBC Indonesia - Bagi pengamat pasar yang jeli, kenaikan harga emas yang terus menerus mencetak rekor baru bukanlah sebuah kejutan, melainkan sebuah konsekuensi logis.

Selama berbulan-bulan, pasar menanti satu sinyal: Kapan Bank Sentral AS (The Fed) akan "berkedip"? Kapan mereka akan menyerah pada suku bunga tinggi?

Jawabannya mulai terlihat jelas. Sinyal terbaru dari para pejabat The Fed, termasuk suara-suara yang sebelumnya hawkish (keras), kini mulai menyuarakan kekhawatiran tentang pelemahan pasar tenaga kerja.

Ini adalah perubahan besar. Ketika bank sentral mulai lebih takut pada pengangguran daripada inflasi, mata uang fiat kehilangan daya tariknya, dan harga emas menemukan landasan pacu untuk lepas landas.

Artikel ini akan membedah risiko "Stagflasi" dan bagaimana Anda harus memposisikan portofolio di Pluang menghadapi badai ekonomi ini.

Pivot Kebijakan dan Dilema The Fed

Kenaikan harga emas ke wilayah yang belum terpetakan (Uncharted Territory) adalah respons langsung terhadap dilema kebijakan moneter.

The Fed kini terjepit di antara dua jurang.

  1. Jurang Resesi: Indikator pasar tenaga kerja mulai melemah. Jika suku bunga tetap tinggi terlalu lama, ekonomi akan crash dan pengangguran melonjak.
  2. Jurang Inflasi: Di sisi lain, inflasi belum benar-benar mati, terutama dengan adanya tekanan inflasi baru dari tarif perdagangan global.

Pernyataan terbaru dari pejabat The Fed (seperti Michelle Bowman) yang membuka peluang pemangkasan suku bunga jika pasar tenaga kerja memburuk, adalah bensin bagi api harga emas. Pasar mengartikan ini sebagai "The Fed akan membiarkan inflasi berjalan agak tinggi demi menyelamatkan lapangan kerja.

Dalam skenario ini, pemegang uang tunai (Dolar/Fiat) adalah pihak yang dirugikan (daya beli tergerus inflasi), sementara pemegang emas adalah pemenangnya.

Mengapa Stagflasi Adalah Sahabat Emas?

Kondisi di mana pertumbuhan ekonomi stagnan (butuh bunga rendah) tapi inflasi tinggi (butuh bunga tinggi) disebut Stagflasi. Sejarah mencatat, Stagflasi adalah mimpi buruk bagi pasar saham dan obligasi, tapi surga bagi emas.

  • Saham: Laba perusahaan tertekan karena ekonomi lesu dan biaya naik.
  • Obligasi: Harga jatuh karena inflasi menggerus imbal hasil riil.
  • Emas: Bersinar karena fungsinya sebagai penyimpan nilai murni yang tidak bergantung pada kinerja ekonomi.

Saat harga emas terus mendaki di tengah berita ekonomi yang suram, itu adalah pasar yang sedang menetapkan harga (pricing in) risiko Stagflasi ini. Memiliki eksposur emas yang signifikan di portofolio bukan lagi spekulasi, melainkan kebutuhan proteksi aset.

Redefinisi 'Safe Haven' di Era Baru

Di masa lalu, Safe Haven (aset aman) sering dikaitkan dengan Obligasi Pemerintah AS (Treasuries). Namun, di era defisit fiskal dan inflasi tarif, obligasi kehilangan status "bebas risiko"-nya secara riil.

Investor institusional kini beralih kembali ke definisi Safe Haven yang paling tua: Emas. Lonjakan harga emas saat ini mencerminkan aliran dana keluar dari aset kertas yang rentan terhadap kebijakan pemerintah, menuju aset riil yang netral.

Di Pluang, Anda bisa melihat tren ini secara real-time. Volume transaksi emas meningkat bukan hanya karena ritel yang FOMO, tapi karena investor cerdas yang memindahkan kekayaan mereka ke tempat yang lebih aman dari jangkauan devaluasi mata uang.

Implementasi 'The Golden Ecosystem'

Menghadapi risiko makro ini, strategi terbaik adalah diversifikasi di dalam kelas aset emas itu sendiri. Gunakan pendekatan "The Golden Ecosystem" di Pluang.

1. Safety Net (Jaring Pengaman)

  • Gunakan Emas Digital untuk dana jangka panjang.
  • Tujuan: Melindungi kekayaan dari risiko sistemik perbankan dan devaluasi mata uang fiat. Jaminan BUMN di Pluang memberikan lapisan keamanan ekstra.

2. Growth Engine (Mesin Pertumbuhan)

  • Gunakan Emas Crypto (PAXG/XAUT) untuk dana taktis.
  • Tujuan: Mengoptimalkan Net Return. Saat harga emas naik tinggi akibat inflasi stagflasi, Anda ingin memastikan keuntungan Anda tidak tergerus pajak yang berlebihan. Struktur Pajak Final pada aset crypto (0,21%) menjadikannya kendaraan paling efisien untuk menangkap upside makro ini.

Menunggu Momen dengan USD Yield

Dalam lingkungan Stagflasi, mata uang lokal (Emerging Market Currencies) sering kali menjadi korban yang paling parah karena pelarian modal.

  • Jangan memegang kas dalam mata uang yang rentan.
  • Manfaatkan fitur USD Yield di Pluang.
  • Anda mendapatkan imbal hasil kompetitif dalam Dolar AS sambil menunggu koreksi teknikal pada harga emas.
  • Strategi ini memberikan Anda "bantal" ganda: Perlindungan kurs (USD) dan pendapatan bunga (Yield), sebelum akhirnya dikonversi menjadi Emas saat momen yang tepat tiba.

Jangan Melawan The Fed

Pepatah lama "Don't Fight the Fed" (Jangan Melawan The Fed) kembali relevan, tapi dengan makna baru. Jika The Fed mengisyaratkan akan lebih toleran terhadap inflasi demi mencegah resesi, maka jangan melawan arus uang yang mengalir ke emas.

Harga emas di level rekor saat ini adalah manifestasi dari ketidakpercayaan pasar terhadap kemampuan bank sentral mengendalikan ekonomi tanpa mengorbankan nilai mata uang.

Evaluasi portofolio Anda hari ini. Apakah Anda sudah memiliki perlindungan Stagflasi yang cukup? Gunakan Pluang untuk membangun benteng pertahanan Anda melalui kombinasi Emas Digital, Emas Crypto, dan Dolar AS, sebelum dampak penuh dari kebijakan makro ini terasa di dompet Anda.

(rah/rah)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Cari Wallet Crypto Terbaik di 2025? Ini Panduan untuk Pemula & HODLer


Most Popular
Features