Penyebab Anak Tetap Boros Meski Uang Jajan Sudah Besar
Daftar Isi
Jakarta, CNBC Indonesia - Banyak orang tua meyakini bahwa solusi anak boros adalah menambah uang jajan. Logikanya sederhana: jika uangnya lebih banyak, anak tidak akan cepat kehabisan. Namun realitas sering berkata sebaliknya. Nominal uang jajan terus naik, sementara keluhan anak soal uang habis tidak pernah benar-benar berhenti.
Situasi ini kerap membuat orang tua frustrasi. Padahal, persoalan anak boros jarang berakar pada besarnya uang jajan. Masalah utamanya justru terletak pada cara anak memahami uang, kebiasaan yang terbentuk, serta pola respons orang tua terhadap perilaku tersebut. Tanpa menyentuh akar persoalan, berapa pun uang yang diberikan akan selalu terasa kurang.
Mengapa Anak Tetap Boros Meski Uang Jajan Sudah Besar?
1. Tidak Ada Batas yang Jelas
Ketika anak selalu diberi uang tanpa aturan yang konsisten, ia belajar bahwa uang akan selalu tersedia. Akibatnya, anak tidak terbiasa memilih, tidak merasa kehilangan saat uang habis, dan tidak memahami konsep tanggung jawab finansial.
2. Uang Menjadi Alat Pelampiasan Emosi
Pada banyak kasus, uang dibelanjakan bukan karena kebutuhan, melainkan dorongan emosional. Keinginan diterima teman, takut tertinggal tren, atau sekadar mengusir bosan membuat uang berfungsi sebagai pemuas perasaan, bukan alat tukar kebutuhan.
3. Tidak Pernah Mengalami Konsekuensi Nyata
Ketika uang habis lalu langsung ditambah, anak menangkap pesan sederhana bahwa boros tidak menimbulkan masalah. Padahal, pengalaman menghadapi konsekuensi adalah fondasi penting dalam membentuk kedisiplinan dan tanggung jawab.
4. Tidak Pernah Diajarkan Cara Mengelola Uang
Sebagian besar anak tahu cara membelanjakan uang, tetapi tidak pernah diajarkan cara merencanakan, menyisihkan, atau menunda keinginan. Tanpa keterampilan ini, uang sebesar apa pun akan tetap cepat habis.
Tanda-Tanda Anak Mulai Terjebak Pola Boros
Orang tua perlu lebih peka jika anak menunjukkan gejala berikut:
-
Uang jajan selalu habis sebelum waktunya
-
Sering meminta tambahan di luar kesepakatan
-
Tidak memiliki tabungan sama sekali
-
Sulit menunda keinginan
-
Mudah marah atau kecewa saat uang tidak ditambah
Jika pola ini dibiarkan, kebiasaan boros berisiko terbawa hingga remaja dan dewasa.
Contoh Studi Kasus Anak Dengan Uang Jajan Besar, Tetapi Selalu Habis
Profil Singkat
- Nama: Andi (10 tahun)
- Uang jajan: Rp25.000 per hari
- Sekolah: SD swasta di kota besar
Orang tua Andi merasa nominal tersebut sudah cukup besar untuk anak seusianya. Namun hampir setiap minggu, Andi mengeluh uang jajannya habis lebih cepat dibanding teman-temannya.
Pola yang Tanpa Disadari Terbentuk
Setiap kali Andi berkata, "Uang jajanku habis, teman-teman masih jajan," orang tua langsung menambah uangnya. Dari situ, Andi belajar bahwa mengeluh adalah cara paling efektif mendapatkan uang tambahan, bukan mengatur pengeluaran.
Upaya orang tua membandingkan dengan anak lain dengan kalimat seperti "Anak tetangga uang jajannya segini saja cukup" justru membuat Andi merasa tidak dipahami dan semakin defensif.
Jika ancaman memotong uang jajan tidak dijalankan secara konsisten. Saat Andi benar-benar kehabisan uang dan terlihat sedih, orang tua kembali memberinya uang.
Dari situ, Andi belajar bahwa aturan bisa berubah ketika ia menunjukkan emosi, sehingga ia tidak merasa perlu benar-benar mengatur uangnya.
Dampak yang Mulai Terlihat
Meski masih anak-anak, beberapa tanda mulai muncul:
-
Uang selalu habis tanpa tahu ke mana perginya
-
Tidak pernah menyisihkan tabungan
-
Mudah tergoda jajan impulsif
-
Merasa uang selalu kurang meski nominalnya meningkat
Masalahnya jelas bukan pada jumlah uang, melainkan pada cara berpikir tentang uang.
Mengubah Pendekatan: Dari Boros ke Terarah
Menyadari hal tersebut, orang tua Andi mulai mengubah strategi.
1. Beralih ke Sistem Uang Mingguan
Uang jajan diberikan Rp125.000 per minggu, bukan harian. Jika uang habis di hari Rabu, Andi harus menunggu hingga minggu berikutnya. Dari sini, anak mulai memahami batas waktu dan konsekuensi.
2. Menerapkan Pola 60:30:10
-
60% untuk kebutuhan konsumsi
-
30% untuk tabungan
-
10% untuk keinginan bebas
Uang dipisahkan sejak awal, bukan dari sisa belanja.
3. Membiarkan Anak Mengalami Kehabisan Uang
Saat uang habis di hari keempat, orang tua tidak menambah. Rasa kecewa muncul, tetapi di situlah proses belajar terjadi: keputusan hari ini berdampak pada hari esok.
4. Melibatkan Anak dalam Diskusi
Alih-alih memarahi, orang tua bertanya,
"Menurut kamu, minggu depan supaya cukup, harus diatur bagaimana?"
Anak dilibatkan dalam pengambilan keputusan, bukan dikendalikan.
Hasil Setelah 2-3 Bulan
Perubahan mulai terlihat:
-
Andi lebih berhitung sebelum jajan
-
Tabungan perlahan terbentuk
-
Keluhan soal uang berkurang drastis
-
Anak lebih tenang dan rasional saat membicarakan uang
Pengalaman ini menunjukkan bahwa mengatasi anak boros bukan soal menambah nominal uang jajan, melainkan membangun cara berpikir yang sehat tentang uang sejak dini.
(dag/dag)[Gambas:Video CNBC]