5 Pengeluaran yang Diam-diam Menggerogoti Isi Dompet
Jakarta, CNBC Indonesia - Banyak orang merasa sudah bekerja keras dan memiliki penghasilan yang cukup, namun kondisi keuangan tetap terasa sempit. Tabungan tak bertambah signifikan, sementara kebutuhan hidup terus menekan. Dalam banyak kasus, masalahnya bukan terletak pada gaji, melainkan pada pengeluaran yang luput dari pengawasan.
Pengeluaran kecil yang bersifat rutin sering kali dianggap tidak berbahaya. Padahal jika dibiarkan, akumulasinya dapat menggerogoti kondisi keuangan dan menyulitkan seseorang menghadapi kebutuhan mendadak.
Berikut beberapa jenis pengeluaran yang perlu diwaspadai karena berpotensi menjadi sumber kebocoran keuangan, dikutip Yahoo Finance (06/01/2026)
1. Langganan Streaming yang Jarang Dipakai
Layanan streaming kini melekat dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari hiburan hingga informasi. Biaya bulanannya terlihat murah, tetapi jumlahnya bisa membengkak jika terlalu banyak langganan aktif.
Banyak orang tidak menyadari masih membayar layanan yang sebenarnya jarang digunakan. Hal ini kerap terjadi akibat sistem pembayaran otomatis dan kelalaian menghentikan masa uji coba gratis.
Menurut pengamat keuangan konsumen, audit langganan secara rutin menjadi langkah sederhana namun efektif untuk menekan pemborosan dan menjaga arus kas tetap sehat.
2. Kartu Kredit yang Tidak Dilunasi Penuh
Kartu kredit menawarkan kemudahan transaksi sekaligus berbagai promo. Namun manfaat tersebut bisa berubah menjadi beban ketika tagihan tidak dibayar lunas setiap bulan.
Menurut Bethany Hickey, analis keuangan pribadi, bunga kartu kredit yang tinggi dapat menghapus keuntungan dari cashback atau reward jika saldo terus bergulir. Semakin besar tagihan tertunggak, semakin besar pula uang yang hilang untuk membayar bunga.
Dalam jangka panjang, kebiasaan membayar minimum tagihan berpotensi merusak kesehatan keuangan rumah tangga.
3. Pinjaman Cepat Berbunga Tinggi
Pinjaman jangka pendek dengan proses instan sering dipilih saat keuangan terdesak. Namun kemudahan tersebut dibayar mahal dengan bunga dan biaya tambahan yang besar.
Menurut para analis keuangan, pinjaman jenis ini berisiko menjerat peminjam dalam lingkaran utang, terutama jika digunakan untuk menutup pengeluaran rutin, bukan keadaan darurat.
Alternatif seperti mengajukan keringanan pembayaran kepada kreditur atau memanfaatkan dana darurat dinilai lebih aman bagi stabilitas keuangan jangka panjang.
4. Skema Beli Sekarang, Bayar Nanti
Layanan Buy Now Pay Later (BNPL) semakin populer karena memberi kesan mampu membeli tanpa beban langsung. Cicilan kecil di awal membuat pengeluaran terasa ringan.
Penggunaan BNPL yang tidak terkontrol dapat menumpuk kewajiban bulanan secara diam-diam. Keterlambatan pembayaran juga berisiko menimbulkan denda serta berdampak pada catatan kredit.
Tanpa perencanaan matang, BNPL justru dapat menjadi sumber masalah keuangan baru.
5. Utang Pendidikan Tanpa Perhitungan Matang
Biaya pendidikan yang terus meningkat mendorong banyak keluarga mengambil pinjaman. Sayangnya, tidak sedikit yang terjebak pada skema utang berbunga tinggi.
Menurut Ryan Clark, konsultan pendidikan independen, banyak keluarga belum memaksimalkan alternatif pembiayaan seperti beasiswa, hibah pendidikan, atau pinjaman berbunga rendah.
Perencanaan sejak awal dinilai krusial agar pendidikan menjadi investasi masa depan, bukan beban finansial jangka panjang.
(dag/dag)