MARKET DATA

Hitung Mundur Review MSCI Pekan Ini, Ujian Pasar Modal RI

Romys Binekasri,  CNBC Indonesia
09 November 2026 06:30
Logo MSCI Indonesia Index
Foto: Logo MSCI Indonesia Index

Jakarta, CNBC Indonesia - MSCI akan segera mengumumkan rebalancing Indeks MSCI periode November 2026 pada pekan ini. Pengumuman dijadwalkan rilis pada 11 November 2026 waktu Eropa Tengah atau 12 November 2026 pukul 05.00 WIB.

Investor asing diperkirakan akan menjual sahamnya secara masif jika MSCI menurunkan kelas pasar saham Indonesia di emerging market menjadi standalone market pada kuartal dua 2027.

Kepala ekonom Bank Danamon Irman Faiz mengatakan arus modal keluar diperkirakan mencapai US$2 miliar hingga US$6 miliar atau Rp36 triliun hingga Rp108 triliun (kurs Rp18.000/US$).

Lebih lanjut, Irman mengatakan bahwa arus keluar tersebut berasal dari investor yang memang menggunakan MSCI (passive find) sebagai standar pengambilan keputusan juga investor yang tidak terikat MSCI atau mandiri (active find).

"Nah kami melihat memang potensi keluar dari pasar saham ini berkisar antara US$2 sampai US$6 miliar yang terdiri dari active fund dan juga passive fund," paparnya kepada awak media saat media briefing Bank Indonesia, Sabang, dikutip Senin (9/11/2026).


"Artinya kalau kita di downgrade baru dia akan keluar, sehingga sifatnya lebih lagging menuju kuartal dua 2027," sambungnya.

Selain itu, walaupun fundamental ekonomi masih baik, Irman meyakini investor asing tidak akan menambah porsi saham hingga masa tunggu berakhir.

Hal tersebut disebabkan oleh investor yang lebih menerapkan strategi wait and see dan menunggu posisi terbawah saham-sahamnya di Indonesia.

"Makanya mereka tidak serta-merta keluar langsung semuanya, tapi masih banyak yang bertahan," katanya.

Walaupun demikian, Irman menekankan keluarnya arus modal asing di pasar saham tidak menjadi faktor fundamental bagi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Terlebih lagi efek negatif sentimen MSCI lebih berdampak langsung terhadap keluarnya modal asing di pasar saham dibandingkan pasar keuangan lainnya.

Berdasarkan studi yang dilakukan Irman, sensitivitas arus keluar modal asing di pasar saham per US$100 juta hanya menyebabkan Rp11-12 depresiasi dari level sebelumnya.

Menurut Irman, arus modal asing yang keluar di pasar saham belum pasti uangnya keluar dari Indonesia, bisa saja hasil jualan saham kembali diputar di sektor atau instrumen lain yang berisiko rendah di pasar keuangan Indonesia.

"Kalau pasar saham dia bisa lakukan asset rotation dulu sebelum dia keluar, sehingga sensitivitas rupiah kita itu lebih kecil. Artinya kalau kita lihat direct channel dari outflows yang keluar dari pasar saham, dampaknya harusnya lebih kecil," kata Irman.

Jika mengutip data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), selama sepekan lalu, pada 2-6 November 2026, kapitalisasi pasar mengalami penurunan sebesar 1,34% menjadi Rp8.744 triliun dari Rp8.862 triliun pada pekan sebelumnya.

Rata-rata volume transaksi harian BEI turun sebesar 3,50% menjadi 31,29 miliar saham dari 32,43 miliar saham pada pekan sebelumnya, begitu juga dengan rata-rata frekuensi transaksi harian berkurang sebesar 16,44% menjadi 1,29 juta kali transaksi dari 1,54 juta kali transaksi.

Selain itu, rata-rata nilai transaksi harian juga mengalami penurunan sebesar 23% menjadi Rp11,04 triliun dari Rp14,34 triliun pada pekan sebelumnya.

Adapun pada perdagangan Jumat (6/11), investor asing mencatatkan nilai beli bersih sebesar Rp328,20 miliar. Namun, secara kumulatif sepanjang 2026, investor asing membukukan nilai jual bersih sebesar Rp98,08 triliun.

Di sisi lain, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan bahwa otoritas bursa saat ini memprioritaskan perbaikan transparansi, likuiditas, dan pengawasan pasar menjelang rebalancing indeks MSCI yang dijadwalkan berlangsung pekan depan.

Jeffrey menjelaskan, aspek pertama yang menjadi fokus BEI saat ini adalah peningkatan transparansi, termasuk kualitasnya. Ia menyebut publikasi terakhir kepemilikan saham di atas 1% kini telah dilengkapi dengan informasi mengenai pihak terafiliasi. Menurutnya, langkah tersebut akan terus dilakukan untuk meningkatkan kualitas transparansi pasar modal Indonesia.

Kemudian, lanjutnya, aspek berikutnya adalah likuiditas, yang menurut Jeffrey sudah mulai direformasi. Sementara aspek terakhir adalah pengawasan. Namun, Jeffrey tidak merinci bentuk langkah yang diambil pada kedua aspek tersebut.

(rob/rob) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Nasib Dana Asing di Bursa RI Menanti MSCI, Ini Kata Bos BEI


Most Popular
Features