Lewati 5 Kali Krisis, Portofolio Lo Kheng Hong Pernah Amblas 85%

Mentari Puspadini, CNBC Indonesia
Jumat, 06/11/2026 13:27 WIB
Foto: Lo Kheng Hong (CNBC Indonesia/Houtmand P. Saragih)

Jakarta, CNBC Indonesia - Investor kawakan Lo Kheng Hong mengungkapkan perjalanan panjangnya berinvestasi di pasar modal Indonesia selama 37 tahun tidak selalu berjalan mulus. Ia mengaku pernah mengalami penurunan nilai portofolio 50%-85% akibat berbagai krisis ekonomi yang melanda Indonesia.

Lo Kheng Hong mengatakan setidaknya terdapat lima krisis besar yang berhasil dilewatinya sejak mulai berinvestasi pada 1991 hingga 2026. Menurut dia, terdapat dua hal utama yang membuatnya mampu bertahan menghadapi berbagai gejolak pasar, yakni pertolongan Tuhan dan tidak memiliki utang dalam berinvestasi.

"Saya bisa melewati lima krisis itu dari tahun 1991 sampai tahun 2026, yang pertama karena Tuhan selalu menolong saya," ujarnya dalam acara CMSE, di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis, (5/11/2026).


Selain itu, Lo Kheng Hong mengaku selalu membeli saham menggunakan uang sendiri tanpa menggunakan pinjaman atau utang. Dengan demikian, dirinya tidak memiliki kewajiban membayar utang ketika harga saham anjlok akibat krisis ekonomi.

Ia kemudian menceritakan pengalamannya menghadapi krisis pertama pada 1991 ketika pemerintah menerapkan kebijakan pengetatan likuiditas atau tight money policy.

Kebijakan yang dilakukan Menteri Keuangan saat itu, J.B. Sumarlin, bertujuan menekan inflasi yang meningkat hingga 8% dengan menarik dana badan usaha milik negara (BUMN) dari perbankan dan memindahkannya ke Bank Indonesia.

Kebijakan tersebut membuat likuiditas di perbankan menjadi sangat ketat sehingga turut menekan harga saham di pasar modal. Lo Kheng Hong mengatakan nilai portofolionya saat itu sempat anjlok hingga 50%.

Namun, kondisi mulai membaik pada periode 1992-1993 seiring penurunan inflasi dan pelonggaran kebijakan pengetatan likuiditas secara bertahap. Saham-saham yang sebelumnya merugi kemudian berbalik memberikan keuntungan kepadanya.

Krisis kedua yang dihadapinya terjadi pada 1998 ketika Indonesia dilanda krisis moneter yang sangat parah. Saat itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) merosot dari sekitar Rp2.400 menjadi Rp14.850 per dolar AS, sementara suku bunga melonjak hingga 70%.

Kondisi tersebut membuat banyak perusahaan yang memiliki utang dalam valuta asing maupun perbankan kesulitan memenuhi kewajibannya hingga mengalami kebangkrutan. Sejumlah bank juga mengalami masalah permodalan dan ditutup oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).

"Saya lihat portofolio saya waduh minus 85%. Saya sudah tidak kerja istri saya ibu rumah tangga anak dua, uangnya tinggal 15%," ujarnya.

Meski demikian, ia justru menemukan peluang investasi di tengah kejatuhan harga saham. Lo Kheng Hong mengibaratkan pengalamannya saat itu seperti menemukan berlian yang dijual dengan harga kerikil karena banyak saham perusahaan bagus diperdagangkan sangat murah.

Krisis ketiga terjadi pada 2008 akibat krisis subprime mortgage di Amerika Serikat. Gejolak tersebut turut menekan pasar saham Indonesia, tetapi menurut Lo Kheng Hong, dampaknya tidak berlangsung lama karena kondisi perekonomian Indonesia saat itu relatif lebih sehat setelah melewati krisis moneter 1998.

Ia juga menyinggung investor legendaris Warren Buffett yang memanfaatkan krisis 2008 untuk membeli saham Bank of America. Investasi tersebut kemudian dipertahankan dalam jangka panjang hingga memberikan keuntungan besar.

Selanjutnya, krisis keempat terjadi pada 2020 ketika pandemi Covid-19 melanda dunia dan menekan harga saham di berbagai bursa. Namun, Lo Kheng Hong mengaku memiliki cadangan uang tunai yang cukup besar sehingga dapat membeli saham ketika harganya sedang murah.

Strategi serupa kembali diterapkannya ketika pasar saham mengalami tekanan pada 2026. Dengan ketersediaan uang tunai yang cukup, ia dapat memanfaatkan penurunan harga saham untuk menambah kepemilikan pada sejumlah emiten dengan harga lebih rendah.

Lo Kheng Hong pun bersyukur dapat melewati lima periode krisis selama 37 tahun berinvestasi di pasar modal Indonesia. Pengalaman tersebut memperkuat keyakinannya bahwa tidak menggunakan utang dan memiliki dana tunai untuk memanfaatkan peluang menjadi hal penting dalam menghadapi gejolak pasar saham.


(asr/asr)
Saksikan video di bawah ini:

Video: OJK Tetapkan Sanksi di 3 Kasus Pelanggaran Pasar Modal