Breaking! IHSG Dibuka Anjlok 1,5%, Ini Penyebabnya

Romys Binekasri, CNBC Indonesia
Rabu, 04/11/2026 09:03 WIB
Foto: Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (28/10/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Rabu (4/11/2026) di zona merah. IHSG dibuka di level 4.856,96, turun 0,97% atau 47,33 poin.

Tekanan jual berlanjut setelah pembukaan pada menit yang sama, pukul 09.00 WIB, IHSG berada di level 4.831,14, melemah 73,15 poin atau 1,49%. Posisi tersebut sedikit di atas level terendah  di 4.828,92 atau turun sekitar 1,54%. 

Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi tercatat sebesar 11,58 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp293,31 miliar pada awal sesi. 


Penyebab pelemahan IHSG pagi ini karena mendapat tekanan dari sejumlah sektor. Sektor penurunan terdalam yaitu, material dasar anjlok 2,9%, disusul sektor properti 2,6%, dan sektor konsumer kritikal turun 1,6%.

Adapun saham-saham pemberatIHSG pagi ini antara lain, PT. Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), PT. Barito Pacific Tbk. (BRPT), PT. Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA), PT. Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), dan PT. Astra International Tbk. (ASII).

Sementara saham-saham penekan koreksiIHSg antara lain, PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT. Mitra Komunikasi Nusantara Tbk. (MKNT), PT. Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP), dan PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP).

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih menghadapi tekanan pada hari ini di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan gejolak dalam negeri.

Sejumlah perkembangan ekonomi dan kebijakan menjadi perhatian investor, mulai dari pemilu Amerika Serikat (AS), pergerakan harga minyak dunia, hingga hasil rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

Dari dalam negeri, isu penyadapan menjadi perhatian terbesar.

Berikut sejumlah sentimen dan perkembangan penting yang perlu dicermati pelaku pasar.

1. Kasus Penyadapan

Kasus penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto mengguncang Indonesia. Kasus ini ditakutkan ikut meningkatkan kekhawatiran investor hingga pelaku pasar terhadap keamanan dan risiko berinvestasi serta gejolak politik di Indonesia.

Sebagai catatan, Badan Reserse Kriminal Kepolisian Negara Republik Indonesia telah menetapkan tiga orang tersangka dalam dugaan tindak pidana penyadapan secara ilegal dan penghapusan data elektronik serta illegal access. Penetapan itu disampaikan Kepala Bareskrim Polri Komjen Pol. Asep Safrudin dalam keterangan pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (3/11/2026).

Polri telah menetapkan tiga tersangka dan dilakukan penahanan terhadap tiga orang perwira tinggi Polri, yaitu Jenderal LSP (Listyo Sigit Prabowo), kemudian Irjen ASN (Ahrie Sonta Nasution), dan kemudian Irjen EHS (Eko Hadi Santoso.

2. Pemilu Amerika: Tump Terancam, Demokrat Bidik Kongres

Jutaan warga Amerika Serikat (AS) memberikan suara dalam Pemilu Sela (midterm elections) pada Selasa (3/11/2026). Hasil pemilu ini berpotensi membuat Partai Republik pimpinan Presiden Donald Trump kehilangan kendali atas Kongres.

Partai Demokrat diperkirakan unggul dalam perebutan DPR AS. Sementara itu, persaingan ketat di sejumlah negara bagian akan menentukan apakah Demokrat mampu merebut mayoritas Senat sekaligus menguasai kedua kamar Kongres.

3. Data Ketenagakerjaan JOLTs AS

Lowongan kerja di Amerika Serikat (AS) secara tak terduga meningkat sebanyak 333.000 menjadi 7,523 juta pada September 2026, dari 7,19 juta pada Agustus yang telah direvisi naik. Angka tersebut melampaui ekspektasi pasar sebesar 7,10 juta sekaligus menjadi level tertinggi dalam empat bulan terakhir.

Peningkatan lowongan kerja terjadi di sejumlah sektor, terutama jasa profesional dan bisnis yang bertambah 106.000, serta pemerintah negara bagian dan lokal (di luar sektor pendidikan) sebanyak 104.000.

Sektor manufaktur mencatat kenaikan 54.000 lowongan, konstruksi bertambah 36.000, dan perdagangan grosir naik 21.000.

4. KSSK: Stabilitas Keuangan RI Terjaga, Ekonomi Diproyeksi Tumbuh 5,4-5,5%

Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menilai stabilitas sistem keuangan Indonesia masih terjaga sepanjang kuartal III-2026, meskipun tekanan terhadap perekonomian dan pasar keuangan meningkat memasuki Oktober.

Tekanan tersebut dipicu oleh eskalasi geopolitik global, kenaikan harga energi, ketatnya likuiditas, serta gejolak pasar saham domestik akibat kekhawatiran terkait MSCI.

Dari sisi fiskal, realisasi pendapatan negara hingga September 2026 mencapai Rp2.341,5 triliun, tumbuh 25,5% secara tahunan (year-on-year/yoy). Sementara itu, belanja negara mencapai Rp2.660,5 triliun atau meningkat 19% yoy, didorong pelaksanaan berbagai program prioritas pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG), bantuan sosial, subsidi energi, dan pembangunan infrastruktur.

Di pasar keuangan, aliran modal asing secara kumulatif masih mencatatkan arus masuk bersih (net inflow) sebesar US$13,23 miliar sepanjang Januari hingga 23 Oktober 2026. Investor asing juga membukukan pembelian bersih SBN sebesar Rp28,79 triliun di tengah volatilitas pasar global.

Sementara itu, transaksi menggunakan mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT) dengan tujuh negara mitra mencapai US$52,6 miliar sepanjang Januari-September 2026, lebih dari dua kali lipat nilai transaksi sepanjang 2025 sebesar US$25,7 miliar.

Meski menghadapi tekanan global, pemerintah tetap optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,4-5,5% pada 2026, ditopang konsumsi rumah tangga, stimulus pemerintah, dan ekspor. KSSK akan terus memperkuat koordinasi kebijakan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan di tengah risiko global dan domestik.

7. Neraca Perdagangan AS September 2026

Amerika Serikat (AS) dijadwalkan merilis data neraca perdagangan September 2026 pada Rabu (4/11/2026) pukul 20.30 WIB. Data ini akan menjadi perhatian investor untuk melihat perkembangan aktivitas perdagangan internasional AS serta potensi dampaknya terhadap pergerakan dolar AS dan pasar keuangan global.

Pada Agustus 2026, defisit perdagangan AS melebar menjadi US$105,6 miliar dari US$92,8 miliar pada Juli, sekaligus menjadi defisit terbesar sejak Maret 2025. Pelebaran tersebut terutama dipicu lonjakan impor sebesar US$17,2 miliar ke rekor tertinggi US$420,8 miliar, sementara ekspor hanya meningkat US$4,5 miliar menjadi US$315,2 miliar.


(rob/rob)
Saksikan video di bawah ini:

Video: IHSG Jeblok ke Bawah 6.000, Sentimen Ini Jadi Penekan!