Alfamart vs Indomaret, Siapa yang Paling Untung?

Redaksi, CNBC Indonesia
Senin, 02/11/2026 14:25 WIB
Foto: Pantauan gerai ritel modern tetap buka meski kondisi tengah memanas, gerai ritel modern di kawasan Setibudi, Jakarta Selatan, Senin (1/9/2025). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Jakarta, CNBC Indonesia - Persaingan dua raksasa ritel modern Indonesia, Alfamart dan Indomaret, kembali menarik dicermati melalui laporan keuangan kuartal III tahun 2026. Meskipun bisnis kedua entitas tersebut sejenis, namun jika mengacu kedua laporan keuangan dapat mengetahui siapa yang memiliki kinerja paling untung.

Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), dari sisi laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk, PT. Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) selaku pengelola Alfamart unggul jauh. AMRT membukukan laba Rp2,40 triliun, naik 3,80% secara tahunan (year-on-year/YoY) dari Rp2,31 triliun.

Sementara itu, PT. Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET), induk usaha Indomaret, mencatat laba Rp652,86 miliar, turun 22,15% YoY dari Rp838,66 miliar. Secara nominal, laba AMRT sekitar 3,7 kali lipat laba DNET.


Kemudian, dari sisi pendapatan, AMRT mencatat pendapatan bersih Rp101,29 triliun, naik 7,21% dari Rp94,48 triliun. Beban pokok pendapatan ikut naik 6,62% menjadi Rp79,09 triliun, tetapi lebih lambat dari pertumbuhan pendapatan sehingga laba bruto tumbuh 9,35% menjadi Rp22,20 triliun dari Rp20,30 triliun. Laba usaha AMRT naik 7,89% menjadi Rp3,19 triliun, dan laba tahun berjalan konsolidasian naik 5,70% menjadi Rp2,56 triliun dari Rp2,42 triliun.

Sementara DNET, pendapatan dari kontrak dengan pelanggan naik 9,28% menjadi Rp1,34 triliun dari Rp1,22 triliun. Namun, beban penjualan melonjak 25,77% menjadi Rp1,06 triliun dari Rp841,84 miliar, dan beban umum dan administrasi naik 14,62% menjadi Rp155,02 miliar dari Rp135,25 miliar.

Selain itu, bagian laba dari entitas asosiasi dan ventura bersama juga turun 12,48% menjadi Rp617,04 miliar dari Rp705,06 miliar. Akibatnya, laba usaha DNET anjlok 28,20% menjadi Rp711,32 miliar dari Rp990,65 miliar, dan laba periode berjalan turun 26,67% menjadi Rp629,83 miliar dari Rp858,98 miliar.

Tekanan di AMRT, terutama dari beban penjualan dan distribusi yang naik 9,53%, beban lainnya yang melonjak 51,26%, dan biaya keuangan yang naik 35,82%. AMRT bahkan membukukan rugi dari entitas asosiasi Rp18,23 miliar, berbalik dari laba Rp2,92 miliar. Meski demikian, pendapatan keuangan dan pendapatan lainnya naik masing-masing 29,10% dan 7,38%, sehingga laba sebelum pajak tetap tumbuh 7,13% menjadi Rp3,20 triliun.



(rob/rob)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Jika Bunga The Fed Naik Akhir 2026, Apa Efeknya ke Rupiah-IHSG?