Breaking! IHSG Turun 1% Lebih, Ini Penyebabnya
Jakarta, CNBCÂ Indonesia- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan awal pekan dengan tekanan. Pada pembukaan sesi pertama pukul 09.00 WIB, IHSG berada di level 5.039,54, melemah dari penutupan perdagangan sebelumnya di 5.057,05. Tekanan jual langsung terasa sejak menit-menit pertama, dan indeks tidak mampu bertahan di dekat level pembukaannya.
Pukul 09.03 WIB, IHSG menyentuh titik terendah di 4.981,52. Pada titik ini, indeks terkoreksi 74,04 poin atau 1,46% ke level 4.983,01, sekaligus menjadi posisi terdalam sejak bursa dibuka.Â
Menjelang pukul 09.05 WIB, IHSG berhasil memangkas pelemahannya. Indeks bergerak naik ke kisaran 5.015,79, atau masih turun 41,26 poin (-0,82%)
Dari sisi aktivitas perdagangan, hingga pukul 09.05 WIB tercatat volume transaksi sebanyak 30,19 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp941,99 miliar.Â
Mengutip data Refinitiv, pelemahan IHSG hari ini disebabkan oleh penurunan di sejumlah sektor. Sektor pelemahan terdalam adalah sektor infrastruktur yang anjlok 4%, disusul oleh sektor material dasar turun 1,8%, dan sektor energi yang turun 1,6%.
Adapun saham-saham pemberatIHSGÂ antara lain, PT. Bayan Resources Tbk. (BYAN), PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT. Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), PT. Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), dan PT. Barito Pacific Tbk. (BRPT).
Sementara saham-saham penekan koreksiIHSG antara lain, PT. Capital Financial Indonesia Tbk. (CASA), PT. Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS), PT. Astra International Tbk. (ASII), PT. Apollo Global Interactive Tbk. (APGI), dan PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP).
Pasar keuangan Indonesia dan global menghadapi pekan krusial pada awal November 2026. Sejumlah agenda ekonomi dan politik berpotensi menggerakkan rupiah, IHSG, imbal hasil obligasi, hingga arus modal asing.
Dari dalam negeri, investor menanti data inflasi, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026, neraca perdagangan, serta cadangan devisa. Sementara dari AS, pemilu sela, data tenaga kerja, dan aktivitas manufaktur menjadi sorotan utama.
Berikut 10 sentimen dan kabar genting yang wajib dicermati pekan depan.
1. Aturan Baru BEI: Saham HSC Keluar dari IHSG
BEI akan mengeluarkan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) dari perhitungan IHSG mulai Senin (2/11/2026).
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyatakan kebijakan ini tidak serta-merta memicu penurunan atau lonjakan drastis indeks. Bobot saham yang dikeluarkan akan didistribusikan kepada konstituen IHSG lainnya.
2. PMI Manufaktur RI
Pada hari ini, Senin (2/11/2026), S&P Global akan merilis data PMI Manufaktur Indonesia untuk Oktober 2026.
Sebagai catatan, aktivitas manufaktur Indonesia kembali ke zona ekspansi pada September 2026 setelah mengalami kontraksi di Agustus.
Data Purchasing Managers' Index (PMI) menunjukkan PMI Indonesia berada di 52,48 di September 2026 atau mengalami ekspansi,
3. Inflasi Oktober 2026
Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis inflasi Oktober 2026 pada hari ini Senin (2/11/2026). Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 12 institusi/lembaga memperkirakan Indeks Harga Konsumen (IHK) naik atau mengalami inflasi sebesar 0,24% secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Oktober 2026.
Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi diperkirakan mencapai 3,25%.
4. Data Manufaktur China
China akan merilis data Indeks PMI manufaktur RatingDog untuk Oktober 2026.
Sebagai catatan, aktivitas manufaktur versi RatingDog menunjukkan indeks naik menjadi 52,1 di September 2026 dari 51,5 pada Agustus, melampaui ekspektasi pasar sebesar 51,6. Capaian ini menandai ekspansi terkuat sejak April.
5. Pemilu Sela AS: Ujian Berat bagi Trump
Pemilu sela AS akan digelar pada Selasa (3/11/2026) waktu setempat. Pemilu akan menentukan penguasaan Kongres dan memengaruhi kemampuan Presiden Donald Trump menjalankan agenda pemerintahannya.
Seluruh 435 kursi DPR AS dan 35 dari 100 kursi Senat akan diperebutkan. Secara historis, partai yang menguasai Gedung Putih cenderung kehilangan kursi DPR dalam pemilu sela.
Survei Reuters/Ipsos yang rampung pada 26 Oktober menunjukkan tingkat persetujuan terhadap Trump sebesar 32%. Demokrat juga unggul dalam preferensi pemilih terdaftar, dengan dukungan 47% dibandingkan 36% untuk Republik.
Hasil pemilu berpotensi memengaruhi arah kebijakan fiskal dan politik AS, sekaligus menjadi perhatian investor global.
6. Data Tenaga Kerja AS
AS akan mengumumkan sejumlah data tenaga kerja pada pekan ini.
Pada Selasa (3/11/2026), data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) untuk September 2026 akan dirilis. Data ini akan menjadi indikator permintaan tenaga kerja melalui jumlah lowongan yang tersedia.
Selanjutnya, laporan ADP untuk September 2026 akan dirilis pada Rabu (4/11/2026).
Data ini akan memberikan gambaran perubahan tenaga kerja sektor swasta, meski tidak dapat dijadikan prediksi langsung laporan tenaga kerja resmi pemerintah atau Nonfarm Payrolls (NFP) karena perbedaan metodologi.
Puncak perhatian tertuju pada Jumat (6/11/2026), saat data NFP dan angka pengangguran Oktober 2026 akan dirilis.
7. Data Manufaktur dan Jasa AS
AS akan mengumumkan data ISM Manufacturing Services Oktober 2026 pada hari ini, Senin (2/12/2026) dan data PMI Manufaktur Oktober 2026 pada Rabu (4/11/2026).
Sebagai catatan, PMI Jasa AS turun menjadi 54,9 di September 2026 dari 55,4 di Agustus, tetapi tetap berada di zona ekspansi selama 27 bulan berturut-turut. Aktivitas bisnis dan pesanan baru melambat, sedangkan tenaga kerja kembali tumbuh tipis.
Sementara itu, PMI Manufaktur AS turun tipis menjadi 54,5 pada September 2026 dari 54,6 pada Agustus, tetapi masih menunjukkan ekspansi yang kuat. Pesanan baru dan tenaga kerja meningkat, sementara produksi melambat