Rupiah Rp18.125 per Dolar AS
Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah melemah tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pertama November (2/11/2026), setelah menguat selama dua hari berturut-turut pada pekan sebelumnya.
Merujuk data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp18.125/US$, melemah 0,03% dibandingkan penutupan Jumat (30/10/2026) di posisi Rp18.120/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau menguat 0,04% ke posisi 101,917.
Rupiah menghadapi pekan krusial pada awal November 2026. Sejumlah agenda ekonomi berpotensi memengaruhi pergerakan mata uang Garuda.
Aktivitas manufaktur Indonesia mengawali November dengan kabar positif. Berdasarkan data S&P Global yang dirilis hari ini, Senin (2/11/2026), Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia mencapai 54,0 pada Oktober 2026, tertinggi dalam delapan bulan terakhir.
Penguatan tersebut didorong lonjakan pesanan baru yang tumbuh paling cepat sejak Oktober 2021. Pesanan ekspor bahkan meningkat dengan laju tertinggi sejak survei dimulai pada April 2011, sementara produksi mencatat pertumbuhan tercepat sejak Maret 2024.
"Ekspansi berlangsung solid dan menjadi yang terkuat sejak Maret 2024, didorong salah satu kenaikan pesanan baru terkuat dalam sejarah survei," ujar ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti.
Meski demikian, ekspansi manufaktur masih dibayangi kenaikan biaya bahan baku dan lemahnya penyerapan tenaga kerja. Tekanan biaya juga mendorong produsen menaikkan harga jual lebih cepat pada Oktober.
Selain aktivitas manufaktur, perhatian pasar juga tertuju pada rilis inflasi Oktober oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang dijadwalkan hari ini.
Berdasarkan konsensus 12 institusi yang dihimpun CNBC Indonesia, inflasi diperkirakan mencapai 0,24% secara bulanan (month-to-month/mtm) dan 3,25% secara tahunan (year-on-year/yoy), lebih rendah dibandingkan September sebesar 0,30% mtm dan 3,28% yoy.
Meski diperkirakan melandai, kenaikan harga sejumlah bahan pangan, terutama beras dan minyak goreng, masih berpotensi menahan perlambatan inflasi. Data tersebut akan menjadi perhatian pasar untuk menilai perkembangan tekanan harga dan arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).
(evw/evw) [Gambas:Video CNBC]