IHSG Anjlok 7% Sepekan, Simak 5 Saham Pilihan Hari Ini

, CNBC Indonesia
Senin, 02/11/2026 08:53 WIB
Ilustrasi grafik saham dalam latar belakang hitam

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,80% ke level 5.057,05 pada perdagangan Jumat (30/10). 

Saham ASII (+2,35%), BBCA (+0,81%), dan BBNI (+2,47%) menjadi penopang utama indeks. Sebaliknya, BYAN (-4,19%), BREN (-6,99%), dan BRPT (-6,96%) menjadi saham yang memberikan tekanan terbesar.

Investor asing mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp172,43 miliar di pasar reguler dan Rp140,27 miliar di seluruh pasar. Dari 11 sektor, sebanyak 9 sektor berakhir di zona merah. Sektor transportasi mencatat pelemahan terdalam sebesar 3,13%, sedangkan sektor kesehatan menjadi sektor dengan penguatan tertinggi, yakni 0,76%.


Di pasar saham Amerika Serikat (AS), tiga indeks utama juga ditutup melemah. Dow Jones turun 1,09% ke level 51.770, S&P 500 terkoreksi 1,82% ke 7.580, sementara Nasdaq melemah 2,86% ke 25.436.

Mulai 2 November, Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi menerapkan kebijakan pengecualian saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi dari perhitungan IHSG. Kebijakan tersebut berpotensi mengubah komposisi dan bobot sejumlah saham dalam indeks. 

Di tengah dinamika tersebut, ETF EIDO turun 1,19%, sementara indeks MSCI Indonesia tercatat naik 0,10%.

Dari sisi emiten, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) melanjutkan kinerja positif dengan mencatatkan laba bersih Rp441,00 miliar pada kuartal III 2026. Dengan demikian, perseroan membukukan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp1,16 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026, berbalik dari rugi Rp776,00 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh bisnis finansial GoPay. Pendapatan segmen ini meningkat 49% secara tahunan menjadi Rp2,30 triliun, sementara laba operasional intinya melonjak 304% menjadi Rp550,00 miliar. Kontribusi laba GoPay bahkan telah melampaui bisnis layanan on-demand Gojek dan Tokopedia.

Kinerja GoPay didukung peningkatan aktivitas transaksi dan penyaluran pinjaman. Jumlah pengguna aktif bulanan naik 26% menjadi 30,40 juta, sementara volume transaksi tumbuh 86% menjadi 2,80 miliar. Nilai transaksi inti juga meningkat 96% menjadi Rp187,00 triliun, dengan total pinjaman yang disalurkan mencapai Rp12,05 triliun.

Secara konsolidasi, pendapatan bersih GOTO tumbuh 17% secara tahunan menjadi Rp5,60 triliun. Seiring dengan perkembangan kinerja tersebut, perseroan menaikkan target laba operasional inti 2026 menjadi Rp3,50 triliun-Rp3,70 triliun, dari target sebelumnya Rp3,20 triliun-Rp3,40 triliun.

Selanjutnya, PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) mencatat pertumbuhan pendapatan 192% secara tahunan menjadi Rp2,96 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga meningkat 83,87% menjadi Rp478,22 miliar, dibandingkan Rp260,09 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada periode yang sama, EBITDA WIFI melonjak 288% menjadi Rp1,74 triliun. Pertumbuhan tersebut turut mendorong margin EBITDA meningkat 14,6 poin persentase menjadi 58,6%.

Bisnis fiber-to-the-home (FTTH) menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan. Pendapatan dari segmen tersebut meningkat 766% secara tahunan menjadi Rp1,61 triliun. Sementara itu, layanan fixed wireless access (FWA) melalui IRA-Internet Rakyat membukukan pendapatan Rp163,50 miliar sejak peluncuran komersial pada akhir Februari 2026.

Kinerja FWA juga menunjukkan peningkatan pada kuartal III 2026, dengan pendapatan mencapai Rp139,60 miliar atau naik 491% dibandingkan kuartal sebelumnya.

Hingga akhir 2026, Surge menargetkan sekitar 5.500 site FWA dan 3,5 juta homes passed FTTH. Target tersebut meningkat dari lebih dari 2.000 site dan 3,2 juta homes passed per 30 September 2026. Ke depan, fokus perseroan mulai bergeser dari ekspansi jaringan menuju percepatan aktivasi pelanggan serta optimalisasi kapasitas jaringan yang telah tersedia.

Di sisi lain, PT Pulau Subur Tbk (PTPS) turut menetapkan dividen tunai interim tahun buku 2026 sebesar Rp2 per saham, dengan total nilai pembagian mencapai Rp4,34 miliar.

Keputusan tersebut dilakukan setelah perseroan mencatatkan laba bersih yang diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp25,56 miliar sepanjang sembilan bulan pertama 2026, tumbuh 7,56% secara tahunan. Nilai dividen interim tersebut setara dengan dividend payout ratio sebesar 16,96% dari laba bersih periode tersebut.

Pada perdagangan Jumat (30/10), saham PTPS ditutup di level Rp127 per saham. Dengan harga tersebut, dividen interim Rp2 per saham mencerminkan dividend yield sebesar 1,57%.

Cum date dividen PTPS di pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 5 November 2026, sementara pembayaran dividen dijadwalkan berlangsung pada 18 November 2026.

Rekomendasi Saham Hari Ini

Disclaimer: Ingat, bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. 


(ayh/ayh)