MARKET DATA
Internasional

Pakai Info Rahasia Militer, Tentara Cuan Rp7,2 Miliar di Pasar Taruhan

Romys Binekasri,  CNBC Indonesia
01 November 2026 07:40
Personnel work on a U.S. military C-130 Hercules transport plane parked on the tarmac at the former Roosevelt Roads naval base, amid tensions between the administration of U.S. President Donald Trump and the government of Venezuelan President Nicolas
Foto: REUTERS/Eva Marie Uzcategui

Jakarta, CNBC Indonesia - Seorang anggota militer Amerika Serikat (AS) yang diduga terlibat dalam operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro tersandung kasus insider trading. Ia dituding memanfaatkan informasi rahasia operasi militer untuk meraup keuntungan lebih dari US$400.000 atau sekitar Rp7,24 miliar melalui platform pasar prediksi Polymarket.

Mengutip Financial Times, dakwaan federal mengungkap bahwa Gannon Ken Van Dyke diduga menggunakan informasi sensitif yang diperolehnya terkait operasi militer AS di Venezuela untuk memasang taruhan di Polymarket. Informasi yang seharusnya bersifat rahasia tersebut diduga dimanfaatkan untuk kepentingan finansial pribadi.

Pelaksana Tugas Jaksa Agung AS Todd Blanche mengatakan, personel militer diberikan kepercayaan untuk mengakses dan menjaga informasi rahasia demi memastikan keberhasilan serta keamanan suatu misi. Namun, kepercayaan tersebut tidak boleh disalahgunakan untuk memperoleh keuntungan pribadi.

Blanche juga menyebut akses luas terhadap pasar prediksi merupakan fenomena yang relatif baru. Namun demikian, hukum federal terkait perlindungan informasi keamanan nasional tetap berlaku penuh dalam konteks tersebut.

Van Dyke yang merupakan tentara aktif di Fort Bragg, North Carolina, diduga pada Desember hingga Januari memasang sekitar 13 taruhan dengan total nilai US$33.034. Taruhan tersebut mencakup posisi seperti "US Forces in Venezuela" dan "Maduro out" sebelum 31 Januari.

Setelah meraih keuntungan sekitar US$409.881, Van Dyke disebut memindahkan sebagian besar dana ke brankas kripto luar negeri. Dana tersebut kemudian dialihkan ke akun broker daring baru.

Menurut dakwaan, Van Dyke juga berupaya menyembunyikan identitasnya di pasar prediksi. Hal ini dilakukan setelah muncul laporan aktivitas perdagangan tidak biasa yang terkait dengan kontrak Maduro di Polymarket.

Van Dyke didakwa dengan tiga tuduhan pelanggaran Commodity Exchange Act, satu tuduhan penipuan wire, serta satu tuduhan transaksi moneter ilegal. Setiap dakwaan memiliki ancaman hukuman maksimum antara 10 hingga 20 tahun penjara.

Kasus ini awalnya disidangkan di pengadilan federal North Carolina sebelum kemudian dialihkan ke pengadilan federal Manhattan. Jaksa wilayah New York Selatan, Jay Clayton, menegaskan bahwa pasar prediksi bukan tempat untuk memanfaatkan informasi rahasia demi keuntungan pribadi.

Pihak Polymarket menyatakan telah mengidentifikasi pengguna yang berdagang menggunakan informasi pemerintah yang bersifat rahasia. Platform tersebut kemudian melaporkan kasus ini ke Departemen Kehakiman dan bekerja sama dalam penyelidikan.

Van Dyke belum dapat dihubungi untuk memberikan komentar dan belum ada informasi terkait penasihat hukumnya. Pentagon mengarahkan pertanyaan kepada Angkatan Darat AS, yang juga belum memberikan tanggapan.

Sebagai informasi, Amerika Serikat pada Januari melancarkan serangan di Venezuela dan berhasil menangkap Nicolás Maduro beserta istrinya. Keduanya diterbangkan ke AS dan didakwa atas sejumlah tuduhan termasuk konspirasi narkoterorisme, serta telah menyatakan tidak bersalah.

 

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Tentara Didakwa dalam Kasus Insider Trading, Raup Cuan Rp7,2 Miliar


Most Popular
Features