CNBC Insight

Sosok Tuan Tanah Matraman, Duduki Lahan 400 Hektare Selama 41 Tahun

MFakhriansyah, CNBC Indonesia
Sabtu, 31/10/2026 11:15 WIB
Foto: VOC

 

Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa lalu lewat relevansinya di masa kini.

 

Jakarta, CNBC Indonesia - Matraman kini dikenal sebagai salah satu kawasan padat penduduk sekaligus pusat kesibukan di jantung ibu kota. Deretan permukiman, aktivitas perdagangan, hingga mobilitas warga menjadikan wilayah ini sebagai bagian penting dari kehidupan Jakarta.


Namun, di balik wajahnya yang modern dan padat, Matraman menyimpan kisah panjang dari masa kolonial. Jauh sebelum berkembang menjadi kawasan permukiman seperti sekarang, wilayah ini pernah berada di bawah penguasaan pribadi seorang tuan tanah asing selama lebih dari empat dekade.

Sosok yang memiliki pengaruh besar terhadap penguasaan tanah tersebut adalah J.M.L. Bohl, seorang warga negara Belanda yang datang ke Batavia untuk mengadu nasib. Perjalanan hidupnya membawa Bohl menjadi salah satu penguasa tanah terbesar (magnat tanah) pada era Hindia Belanda.

Berdasarkan arsip harian Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië edisi 19 Juni 1920, Bohl menginjakkan kakinya di Batavia sekitar tahun 1864 pada usia yang masih sangat muda, yakni 16 tahun. Seperti gelombang pendatang Eropa pada masa itu, ia memulai kariernya dari bawah dan diterima bekerja di perusahaan perdagangan terkemuka, Pitcairn Syme & Co.

Berkat ketekunannya dalam merintis karier, Bohl berhasil mengumpulkan pundi-pundi kekayaan yang kemudian ia alihkan ke sektor properti.

"Setelah bekerja, dia beralih membeli tanah dan ketika masih muda dia menjadi tuan tanah atas dua tanah, yaitu Matraman dan Sinajan yang terletak di dekat Paal Merah," tulis catatan surat kabar kolonial tersebut.

Merujuk pada direktori Adresboek van Nederlandsch-Indië voor den Handel (1896), kekuasaan Bohl di Matraman sangat luas. Ia menguasai lahan seluas 502 bau atau setara dengan sekitar 400 hektare. Di atas lahan tersebut, ia membangun sebuah kediaman mewah yang dilengkapi fasilitas tak biasa untuk ukuran zamannya: puluhan ekor rusa peliharaan yang berkeliaran sebagai simbol status dan kemewahan seorang tuan tanah.

Hidup Menyendiri dan Berakhir di Meja Operasi

Berdasarkan Regeerings-almanak voor Nederlandsch-Indië, Bohl memegang kendali penuh atas tanah partikelir Matraman hingga 41 tahun lamanya-sebuah rentang kepemilikan yang tergolong sangat panjang di bawah sistem kolonial. Pada masa keemasannya, kawasan Matraman disulap menjadi lahan produktif yang menghasilkan komoditas agrikultur penting kala itu, yakni padi dan kelapa.

Kendati bergelimang harta dan menguasai wilayah yang luas, kehidupan pribadi Bohl justru sangat tertutup. Harian Bataviaasch Nieuwsblad (19 Juni 1920) mencatat bahwa pria kelahiran 1848 tersebut hampir tidak pernah bergaul dengan publik luas dan memilih jalan hidup yang menyendiri. Namanya populer di kalangan elite kolonial semata-mata karena statusnya sebagai pemilik lahan raksasa.

Di luar bisnis pertanahannya, Bohl sempat mencicipi panggung politik lokal. Harian De Locomotief (21 Agustus 1908) pernah mewartakan pencalonannya sebagai anggota dewan perwakilan untuk wilayah Meester Cornelis (kini Jatinegara).

Kisah hidup sang tuan tanah resmi berakhir pada 18 Juni 1920. Pada usia 72 tahun, Bohl mengembuskan napas terakhirnya di sebuah rumah sakit di Jalan Salemba usai menjalani operasi usus buntu yang disusul komplikasi gagal ginjal akut.

Kematian Bohl sekaligus menandai berakhirnya era penguasaan privat atas tanah partikelir Matraman selama 41 tahun, sebelum akhirnya aset-aset tersebut diambil alih oleh pemerintah kolonial. Kendati zaman telah berganti dan wujud wilayahnya telah berubah total menjadi kawasan metropolitan modern, sejarah mencatat bahwa tanah Matraman pernah berada di bawah genggaman seorang taipan kolonial yang hidup menyendiri di tengah kemewahan.


(fab/fab)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Ekspansi Bisnis Emiten Properti, Incar Ekosistem Pendidikan