Geger Dugaan Peretasan Binance, Bitcoin dan Kripto Kompak Rontok
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga Bitcoin turun di bawah US$78.000 pada Jumat (30/10/2026) setelah kekhawatiran atas dugaan pelanggaran keamanan di bursa kripto Binance mengguncang pasar aset digital.
Mengutip CNBC Internasional, kripto terbesar di dunia itu merosot lebih dari 4% ke level US$77.994,96, memperpanjang pelemahan setelah sebelumnya menembus batas psikologis US$80.000.
Binance belum secara eksplisit mengonfirmasi adanya peretasan. Juru bicara Binance menyatakan timnya mengetahui laporan mengenai potensi masalah keamanan dan sedang menyelidikinya secara aktif, seraya menegaskan dana pengguna tetap aman.
"Tim kami menyadari adanya laporan tentang potensi masalah keamanan dan sedang aktif menyelidikinya," kata juru bicara Binance, mengutip CNBC Internasional, Jumat (30/10/2026).
Pendiri sekaligus mantan CEO Binance, Changpeng Zhao, juga berupaya menenangkan investor dengan menyatakan dana nasabah aman, meski ia menyebut insiden itu tampak seperti peretasan.
Tekanan jual juga melanda aset kripto lainnya, seperti Ether, kripto terbesar kedua berdasarkan kapitalisasi pasar, turun 4,84% ke US$2.247,45. Token native Binance, BNB, anjlok 7,68% ke US$694,45.
Di tengah aksi jual yang meluas, token HYPE milik Hyperliquid justru melonjak 9,7% ke US$89,08.
Sejumlah perusahaan kripto pada kamis (29/10/2026) telah membekukan dana senilai total US$2,54 miliar yang terkait dengan dugaan insiden tersebut.
CEO Circle Jeremy Allaire menyatakan perusahaannya membekukan lebih dari US$800 juta dalam USD Coin (USDC), sedangkan CEO Tether Paolo Ardoino mengatakan perusahaannya menghentikan transaksi USDT senilai lebih dari US$1,5 miliar yang diduga terkait pelanggaran itu.
Menurut salah satu pendiri Binance, Yi He, Ripple turut membantu mencegah pergerakan dana senilai US$200 juta yang berkaitan dengan dugaan serangan tersebut.
Skala insiden diperkirakan bisa jauh lebih besar dari dana yang dibekukan. Firma analitik blockchain Arkham Intelligence mengidentifikasi aset digital hampir US$6 miliar yang tersebar di 55 alamat dompet yang berpotensi terkait dengan kejadian ini.
Kejadian ini kembali memunculkan kekhawatiran soal celah keamanan di industri kripto, yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami sejumlah pembobolan besar. Pada 2025, bursa kripto Bybit mengalami peretasan sekitar US$1,5 miliar, sementara pesaingnya, Bitget, belakangan kehilangan lebih dari US$350 juta aset digital akibat pencurian siber.
(rob/rob)