Rupiah Menguat 0,28%, Dolar AS Ditutup Turun ke Rp18.125

Elaine Tairio, CNBC Indonesia
Kamis, 29/10/2026 15:10 WIB
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Garuda akhirnya bangkit terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Kamis (29/10/2026), setelah terus tertekan dalam beberapa hari terakhir hingga mencetak rekor penutupan terlemah sepanjang masa pada perdagangan sebelumnya.

Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup pada level Rp18.125/US$, menguat 0,28% dibandingkan dengan penutupan Rabu (28/10/2026) yang berada di posisi Rp18.175/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau melemah 0,01% ke posisi 102,188.


Penguatan rupiah berlangsung di tengah pelemahan tipis dolar AS setelah bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,75%-4,00%. Meski demikian, perhatian pasar kini beralih ke sejumlah data ekonomi AS yang dijadwalkan rilis malam ini untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan moneter berikutnya.

Salah satu yang paling dinantikan adalah inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) September yang akan diumumkan pada Kamis (29/10/2026) pukul 19.30 WIB. Pada Agustus, inflasi PCE tercatat 3,4% secara tahunan (yoy), sementara inflasi inti berada di level 3,0%.

Untuk September, inflasi PCE inti diperkirakan naik 0,3% secara bulanan (month-to-month/mtm), lebih tinggi dibandingkan 0,2% pada Agustus. Secara tahunan, inflasi inti diproyeksikan meningkat menjadi 3,1% dari 3,0%.

Data tersebut menjadi perhatian karena PCE merupakan salah satu indikator inflasi utama yang digunakan The Fed dalam menentukan kebijakan moneter. Angka yang melampaui ekspektasi berpotensi memperkuat kekhawatiran terhadap tekanan inflasi dan mempersempit ruang pelonggaran suku bunga AS.

Selain inflasi, AS juga akan merilis klaim pengangguran untuk pekan yang berakhir pada 24 Oktober. Pada pekan sebelumnya, klaim awal turun 6.000 menjadi 194.000, terendah sejak pertengahan Juli dan lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 200.000.

Dari Eropa, Bank Sentral Eropa (ECB) dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pukul 20.15 WIB. Pasar memperkirakan suku bunga pembiayaan utama tetap 2,65% dan fasilitas deposito bertahan di 2,50%.

Keputusan tersebut, beserta pernyataan ECB mengenai prospek inflasi dan arah kebijakan moneternya, berpotensi memengaruhi pergerakan euro terhadap dolar AS. Perubahan nilai euro turut menjadi perhatian karena mata uang tersebut memiliki bobot terbesar dalam perhitungan indeks dolar AS (DXY).


(evw/evw)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Sebab IHSG Anjlok Lebih Dari 1% & Rupiah Dekati 18.200/USD