Rupiah Dibuka Menguat Pagi Ini, Dolar AS Turun ke Rp18.173

Elaine Tairio, CNBC Indonesia
Kamis, 29/10/2026 09:11 WIB
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Kamis (29/10/2026), setelah mencatatkan rekor penutupan terlemah sepanjang masa sehari sebelumnya.

Merujuk data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp18.173/US$, menguat 0,01% atau 2 poin dibandingkan penutupan Rabu (28/10/2026) di posisi Rp18.175/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau melemah 0,02% ke posisi 102,169.


Pelemahan dolar AS memberikan sedikit ruang bagi rupiah untuk menguat setelah Federal Reserve (The Fed) memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya. Namun, keputusan tersebut belum sepenuhnya menghilangkan ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter AS.

The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75%-4,00% pada Kamis (29/10/2026) dini hari WIB, sesuai dengan perkiraan pasar. Meski demikian, keputusan tersebut tidak diambil secara bulat setelah dua pejabat, Lisa Cook dan Beth Hammack, menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Perbedaan pandangan tersebut muncul di tengah inflasi AS yang masih tinggi. Ketua The Fed Kevin Warsh pun belum memberikan kepastian mengenai langkah kebijakan berikutnya, mengingat bank sentral masih berupaya mengembalikan inflasi ke target 2%.

"Banyak hal bisa terjadi. Karena itu, saya tidak bisa membagikan pemikiran saya mengenai apa yang akan terjadi ketika kelompok ini kembali berkumpul enam pekan dari sekarang," ujar Warsh, dikutip dari Reuters.

Sikap The Fed yang belum memberikan arah kebijakan secara tegas membuat investor tetap memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan berikutnya. Pasar bahkan memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai sekitar 80%.

Ekspektasi tersebut turut tercermin di pasar obligasi AS. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun meningkat ke level 5,042% setelah keputusan diumumkan, yang berpotensi meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar dan membatasi penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

 


(evw/evw)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Ditentang 2 Anggota, The Fed Tahan Suku Bunga di 3,75-4,00%