Ambisi Masuk 5 Top Bank Syariah Global, Bos BSI Beberkan Strateginya
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) berambisi untuk masuk ke jajaran lima bank syariah terbesar dunia pada 2030 mendatang.
Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, mengatakan upaya ini berkaitan dengan kebanggaan bangsa sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia.
"Masa negara dengan penduduk muslim terbesar, banknya enggak bisa masuk top 5 global islamic bank? Ini lebih kepada national pride, national pride, harusnya kita dorong ada bank dari Indonesia yang masuk ke lima besar," kata Anggoro di CEO Lecture di Perbanas Institute, Selasa (28/10/2026).
Saat ini, bank syariah pelat merah itu baru berada di peringkat 12 top global islamic bank berdasarkan kapitalisasi pasar.
Dalam paparannya, Anggoro menunjukkan per Mei 2026, BSI berada di urutan ke 10 dengan jumlah kapitalisasi pasar sebesar Rp91 triliun. Sementara itu, urutan pertama hingga lima bank syariah terbesar dunia diisi oleh bank-bank asal negara-negara dengan populasi yang jauh lebih kecil dibanding RI.
"Jadi semangat inilah yang kita dorong. Semangat ini juga yang kita sampaikan kepada Danantara, sehingga tahun lalu dan tahun awal-awal tahun ini kami bisa menjadi Himbara baru, karena kami kami semangat untuk bisa membawa BSI menjadi top 5. Top 10 enggak cukup, harus top 5. Negara lainnya kecil semua," terang Anggoro.
Maka dari itu, pada 2030, BSI membidik dapat memiliki total aset sebesar Rp1.000 triliun, return on equity (ROE) sebesar 25%, dan jumlah nasabah 40 juta.
Anggoro menyebut target itu bisa dikejar karena Indonesia memiliki potensi industri syariah yang besar. Ia merincikan, jumlah masyarakat muslim di Indonesia sebanyak 230 juta dan usia produktifnya 70%, yang berarti memiliki daya beli.
Meskipun demikian, saat ini penetrasi ekonomi syariah di Indonesia baru mencapai 7%. Anggoro menilai keadaan ini adalah paradoks, tetapi menunjukkan potensinya masih besar. "Artinya ruang tumbuhnya masih besar. Artinya ruang potensi bisnisnya masih besar," pungkasnya.
Anggoro menyebut penyebab masih kecilnya ekonomi syariah di Indonesia adalah rendahnya tingkat literasi dan inklusi ekonomi syariah.
Selain itu, ia menyebut jaringan kantor cabang perbankan syariah jumlahnya hanya sekitar sepersepuluh dari total cabang konvensional yang sebanyak 25.000 unit. Oleh karena itu, Anggoro menyinggung pentingnya digitalisasi untuk bersaing dengan bank-bank konvensional.
"Ya, jadi punya aplikasi mobile itu bukan gaya-gayaan buat kami di perbankan syariah. Itu memang survival mode-nya perbankan syariah. Untuk bisa kejar penetrasinya, kejar literasi inklusinya," terangnya.
(asr/asr)