Kualitas Kredit BNI (BBNI) Membaik! Biaya Dana dan NPL Turun
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) mencatatkan perbaikan kualitas kredit dan penurunan biaya dana (cost of fund/CoF) hingga kuartal III-2026. Kondisi ini menjadi penopang kinerja perseroan di tengah tekanan margin industri perbankan dan ekspansi kredit yang tumbuh tinggi.
BNI mencatatkan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross sebesar 1,9% per September 2026, membaik dibandingkan 2% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, rasio loan at risk (LaR) turun dari 10,4% menjadi 7,8%.
Dari sisi pendanaan, biaya dana BNI turun menjadi 2,77% dari sebelumnya 2,83%. Penurunan tersebut didukung pertumbuhan dana murah atau current account savings account (CASA) yang mencapai 19,6% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp733,7 triliun.
Perbaikan kualitas aset dan penguatan struktur pendanaan tersebut terjadi seiring pertumbuhan kredit BNI sebesar 22,2% YoY menjadi Rp992,5 triliun hingga kuartal III-2026.
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, perseroan tetap menjaga pertumbuhan bisnis dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan disiplin dalam pengelolaan risiko.
"Di tengah dinamika pasar yang menantang, BNI tetap menjaga momentum pertumbuhan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan disiplin dalam pengelolaan risiko. Fokus kami adalah memperkuat fundamental dan produktivitas untuk menciptakan pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan," ujar Putrama dalam keterangan tertulis, Selasa (27/10/2026).
Penguatan dana murah menjadi salah satu strategi BNI untuk menjaga efisiensi pendanaan di tengah dinamika suku bunga dan tekanan margin perbankan.
Hingga September 2026, CASA BNI tumbuh 19,6% YoY menjadi Rp733,7 triliun. Pertumbuhan ini ditopang peningkatan giro sebesar 25,9% YoY dan tabungan sebesar 11,6% YoY.
Pertumbuhan giro BNI bahkan melampaui industri yang tercatat sebesar 9,8% berdasarkan data Agustus 2026. Pangsa pasar giro BNI meningkat 120 basis poin (bps) menjadi 13,2%, sedangkan pangsa pasar tabungan naik 10 bps menjadi 9,2%.
Penguatan penghimpunan dana murah turut didukung peningkatan aktivitas transaksi melalui layanan digital. Hingga September 2026, jumlah pengguna wondr by BNI mencapai 16,6 juta, tumbuh 58% YoY, dengan nilai transaksi sebesar Rp1.774 triliun atau meningkat 25% YoY.
Sementara itu, BNIdirect mencatatkan nilai transaksi Rp9.324 triliun, tumbuh 16% YoY, dengan jumlah pengguna mencapai 293.000 atau meningkat 19% YoY.
Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengatakan, penguatan dana murah menjadi bagian penting untuk menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit dan profitabilitas.
"Pertumbuhan kredit yang selektif dan penguatan dana murah menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan profitabilitas. Kami terus mengoptimalkan struktur pendanaan agar pertumbuhan tetap sehat dan berkelanjutan," tutur Paolo.
Meski biaya dana turun, margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) BNI tercatat sebesar 3,5%, turun 30 bps secara tahunan. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi penyesuaian imbal hasil kredit (loan yield) dari 7,3% menjadi 6,9%, sejalan dengan tekanan margin di industri perbankan.
Di tengah kondisi tersebut, BNI membukukan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) sebesar Rp33,2 triliun, tumbuh 13,6% YoY. Laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) juga meningkat 11,6% YoY menjadi Rp27,5 triliun.
Adapun laba bersih BNI mencapai Rp16,1 triliun hingga kuartal III-2026, meningkat 6,6% YoY.
Direktur Risk Management BNI David Pirzada mengatakan, perbaikan kualitas aset diikuti upaya menjaga kecukupan pencadangan untuk mengantisipasi potensi risiko kredit.
BNI mempertahankan rasio total pencadangan terhadap kredit sebesar 3,8%, lebih tinggi dibandingkan rasio industri sebesar 3,5%. Sementara itu, non-performing loan coverage ratio tercatat sebesar 193,3%.
"Pengelolaan risiko dilakukan sejak penetapan sektor prioritas, analisis kelayakan debitur, hingga pemantauan pasca penyaluran kredit, didukung sistem peringatan dini yang terus diperkuat," ujar David.
(ayh/ayh) [Gambas:Video CNBC]