Penyaluran Kredit Melesat, Bos BNI (BBNI) Ungkap Penyebabnya
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 22,2% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp992,5 triliun hingga kuartal III-2026. Pertumbuhan tersebut ditopang penyaluran kredit yang merata di seluruh segmen bisnis dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.
Sejalan dengan ekspansi kredit, BNI juga membukukan pertumbuhan dana murah atau current account savings account(CASA) sebesar 19,6% YoY menjadi Rp733,7 triliun. Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross membaik dari 2% menjadi 1,9%.
Pertumbuhan bisnis tersebut turut tercermin dari peningkatan pangsa pasar kredit BNI sebesar 113 basis poin (bps) secara tahunan menjadi 10,6%.
Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena menjelaskan, ekspansi kredit dilakukan secara selektif di seluruh segmen dengan menerapkan standar analisis kelayakan kredit (underwriting) yang disiplin.
"Pertumbuhan kredit yang selektif dan penguatan dana murah menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan profitabilitas. Kami terus mengoptimalkan struktur pendanaan agar pertumbuhan tetap sehat dan berkelanjutan," tutur Paolo dalam keterangan tertulis, Selasa (27/10/2026).
Di tengah ekspansi kredit dan tekanan margin, BNI membukukan laba bersih sebesar Rp16,1 triliun hingga kuartal III-2026, tumbuh 6,6% YoY.
Sementara itu, Direktur Risk Management BNI David Pirzada mengatakan, kualitas aset perseroan terus menunjukkan perbaikan. Hal ini tercermin dari penurunan rasio loan at risk (LaR) dari 10,4% menjadi 7,8%, serta NPL gross dari 2% menjadi 1,9%.
Untuk mengantisipasi potensi risiko kredit, BNI mempertahankan rasio total pencadangan terhadap kredit sebesar 3,8%, lebih tinggi dibandingkan rasio industri sebesar 3,5%. Adapun rasio NPL coverage tercatat sebesar 193,3%.
"Pengelolaan risiko dilakukan sejak penetapan sektor prioritas, analisis kelayakan debitur, hingga pemantauan pasca penyaluran kredit, didukung sistem peringatan dini yang terus diperkuat," ujar David.
Dari sisi likuiditas, BNI mencatatkan rasio loan to deposit ratio (LDR) sebesar 87,9%, liquidity coverage ratio (LCR) sebesar 143,4%, dan net stable funding ratio (NSFR) sebesar 128,4%.
Sementara itu, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) berada di level 19,2%, memberikan ruang bagi perseroan untuk melanjutkan ekspansi bisnis sekaligus mengantisipasi potensi risiko.
(ayh/ayh) [Gambas:Video CNBC]