Bos BI Bicara Soal Hilirisasi RI, Beri Saran Penting Ini!

Dovana Hasiana, CNBC Indonesia
Senin, 26/10/2026 15:05 WIB
Foto: Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti saat menyampaikan Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan Bulan Oktober 2026 Cakupan Triwulanan dan Tahunan di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (21/10/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menilai Indonesia perlu kembali memperkuat industrialisasi dan memperdalam hilirisasi agar mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar dari kekayaan sumber daya alam (SDA) yang dimiliki.

Menurut Destry, Indonesia tidak cukup hanya mengolah bahan mentah hingga tahap tertentu sebelum mengekspornya. Pengembangan rantai pasok yang lebih panjang dan proses pengolahan yang lebih mendalam diperlukan untuk membangun basis manufaktur yang kompetitif serta mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Adapun, hal tersebut disampaikan Destry dalam paparannya bertajuk The Emerging Giant: Indonesia's Next Decade in Asia's Growth Story di Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026.


Destry menilai Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi salah satu kekuatan ekonomi di Asia, mulai dari jumlah penduduk hingga kekayaan sumber daya alam. Namun, perubahan geopolitik dan perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) turut mengubah peta perdagangan, investasi, dan persaingan antarnegara.

Karena itu, dia melihat Indonesia perlu memperkuat fondasi ekonomi dan memiliki perencanaan jangka panjang yang terarah. Kebijakan pembangunan, menurutnya, tidak boleh berjalan secara terpisah-pisah tanpa tujuan yang saling mendukung.

Salah satu pekerjaan rumah utama Indonesia adalah menghidupkan kembali industrialisasi. Destry mengingatkan bahwa Indonesia mulai membangun industri sejak akhir 1980-an hingga awal 1990-an, tetapi kemudian kembali bergantung pada ekspor komoditas.

"Back to basic," ujar Destry, seraya menekankan pentingnya kembali memperkuat sektor industri dan memperdalam hilirisasi.

Ia menyoroti rantai pengolahan sumber daya alam Indonesia yang dinilai belum cukup panjang. Dalam paparannya, Destry menggambarkan bahwa Indonesia masih mengekspor produk setelah melalui sebagian proses pengolahan, sebelum nilai tambah yang lebih besar tercipta dari pengembangan produk turunannya.

"Economic complexity index kita sangat rendah. Kita baru setengahnya, sudah kita ekspor," ujarnya.

Menurut Destry, pengolahan sumber daya alam seharusnya tidak berhenti pada satu tahap. Indonesia perlu mengembangkan industri turunan agar dapat menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi, memperkuat daya saing manufaktur, dan membuka peluang penciptaan lapangan kerja.

Ia juga menekankan pentingnya produktivitas, skala ekonomi, tenaga kerja, serta pemanfaatan teknologi untuk mendukung pengembangan industri bernilai tambah tinggi.

Dengan demikian, agenda hilirisasi tidak hanya berorientasi pada pembangunan fasilitas pengolahan, tetapi juga harus mendorong terbentuknya ekosistem industri yang lebih lengkap dan kompetitif.

Danantara Diminta Jadi Lokomotif Pertumbuhan

Dalam kesempatan tersebut, Destry juga menyoroti peran Danantara dalam mendorong investasi produktif. Menurutnya, Danantara dapat menjadi lokomotif pertumbuhan dengan membuka jalan bagi pelaksanaan proyek-proyek strategis sekaligus meningkatkan kepercayaan sektor swasta untuk ikut berinvestasi.

"Saya berharap Danantara ini bisa menjadi lokomotif buat pertumbuhan ke depan. Danantara ini akan memainkan peran yang sangat penting untuk bisa membuka unlock project-project, kemudian beri private sector itu juga kesempatan dan confidence untuk melakukan investasi bersama," katanya.

Investasi produktif dinilai menjadi salah satu kunci untuk memperkuat kapasitas ekonomi nasional. Karena itu, pengembangan proyek perlu disertai perencanaan yang matang dan koordinasi antarpemangku kepentingan.

Destry menegaskan bahwa pembangunan industri membutuhkan kerja bersama dan tahapan perencanaan jangka menengah hingga panjang. Penguatan industrialisasi, hilirisasi, dan adopsi teknologi perlu berjalan searah agar Indonesia mampu meningkatkan produktivitas dan daya saing di tengah perubahan ekonomi global.

Di sisi lain, BI memiliki mandat menjaga stabilitas rupiah, sistem pembayaran, dan stabilitas sistem keuangan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Menurut Destry, fondasi ekonomi yang kuat diperlukan agar Indonesia dapat memanfaatkan peluang dari perubahan lanskap global dan mengambil peran lebih besar dalam pertumbuhan Asia.


(haa/haa)
Saksikan video di bawah ini:

Danantara Bidik Investasi USD 30 Miliar Lewat New Asia Forum 2026