Rupiah Berbalik Menguat, Dolar AS Turun ke Rp18.040
Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah berhasil menutup perdagangan terakhir pekan ini di zona hijau. Mata uang Garuda menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS), membalikkan pelemahan pada perdagangan sebelumnya.
Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,03% ke posisi Rp18.040/US$ pada Jumat (23/10/2026). Penguatan tersebut terjadi setelah rupiah melemah 0,25% pada penutupan Kamis (22/10/2026).
Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak dalam rentang Rp18.040-Rp18.080/US$. Rupiah berhasil menguat 40 poin dari posisi terlemah hariannya dan berakhir tepat di level terkuat sepanjang perdagangan.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau menguat 0,19% ke posisi 101,802.
Meski berhasil ditutup menguat, rupiah masih menghadapi tekanan dari luar maupun dalam negeri. Bank Indonesia (BI) menilai kedua faktor tersebut masih memengaruhi minat investor untuk menempatkan dananya di pasar keuangan Indonesia.
Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter BI Firman Mochtar menjelaskan, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, terutama tenor 10 tahun, membuat aset berdenominasi dolar semakin menarik bagi investor.
Kondisi tersebut dapat mengurangi minat investor untuk menempatkan dananya di negara berkembang, termasuk Indonesia, sekaligus menopang penguatan dolar AS.
"Dampaknya adalah DXY, indeks mata uang dolar terhadap negara maju sudah menguat. Kemarin sudah tercatat 101," ujar Firman dalam taklimat media di Gedung BI, Jakarta, Jumat (23/10/2026).
Menguatnya dolar terhadap sejumlah mata uang utama dunia turut menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
"Kalau menguat tentunya mata uang negara berkembang akan menjadi lemah, termasuk Indonesia," lanjutnya.
Dari dalam negeri, Firman menyebut perkembangan terkait MSCI turut memengaruhi pergerakan rupiah. MSCI telah membuka konsultasi mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Rencana yang masih dalam tahap konsultasi tersebut memengaruhi persepsi investor terhadap pasar keuangan domestik dan menambah tekanan terhadap arus modal asing.
"Jadi aliran modal keluar, tekanan global dan tekanan domestik. Yang secara umum memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Jadi itu yang terjadi," kata Firman.
(evw/evw)