MARKET DATA
Internasional

Inflasi Jepang Makin Panas, Tertinggi Tahun Ini-Bikin Waswas

sef,  CNBC Indonesia
23 October 2026 11:00
Seorang pembelanja sedang melihat produk segar di sebuah supermarket di Tokyo. (AFP via Getty Images/RICHARD A. BROOKS)
Foto: Seorang pembelanja sedang melihat produk segar di sebuah supermarket di Tokyo. (AFP via Getty Images/RICHARD A. BROOKS)

Jakarta, CNBC Indonesia - Inflasi inti Jepang kembali meningkat pada September 2026 dan mencapai level tertinggi sepanjang tahun ini. Kenaikan tersebut memperkuat kemungkinan Bank of Japan (BOJ) kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun.

Mengutip CNBC International, Jumat (23/10/2026), inflasi inti Jepang yang tidak memasukkan harga pangan segar tercatat sebesar 2,1% secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini naik dari 1,7% pada Agustus dan melampaui perkiraan sejumlah analis.

Sementara itu, inflasi umum Jepang juga mencapai 2,1%. Adapun inflasi inti yang lebih ketat, yang tidak memasukkan harga pangan segar dan energi, tercatat sebesar 2,4%. Indikator terakhir ini menjadi salah satu ukuran yang diperhatikan BOJ untuk menilai tekanan harga yang mendasarinya.

Kenaikan inflasi terjadi meskipun harga beras Jepang mengalami penurunan tajam sebesar 20,6% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, penurunan tersebut belum cukup untuk menahan kenaikan harga barang secara keseluruhan.

Ekonom senior Asia Pasifik di Capital Economics, Abhijit Surya, menilai percepatan inflasi tersebut patut diperhatikan karena terjadi ketika kenaikan harga pangan segar melambat tajam dan harga energi masih mengalami deflasi.

Menurutnya, salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga adalah dampak tidak langsung dari mahalnya energi. Inflasi pada kelompok produk industri lainnya mencapai 3,9%, tertinggi dalam 13 bulan.

Tekanan harga juga berasal dari kenaikan harga barang tahan lama dan tarif layanan utilitas publik. Inflasi jasa meningkat dari 1,2% menjadi 1,5%.

BOJ Berpeluang Kembali Naikkan Suku Bunga

Inflasi yang kembali berada di atas target 2% BOJ memperkuat peluang bank sentral Jepang melanjutkan pengetatan kebijakan moneter. Pada September lalu, BOJ telah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1,25%, level tertinggi dalam sekitar tiga dekade.

Surya memperkirakan BOJ dapat kembali menaikkan suku bunga pada Desember mendatang. Langkah tersebut akan menjadi bagian dari upaya normalisasi kebijakan moneter setelah Jepang bertahun-tahun berjuang mengatasi tekanan deflasi dan mendorong kenaikan harga secara berkelanjutan.

Pelemahan yen turut menambah tekanan inflasi karena membuat barang impor, termasuk energi, menjadi lebih mahal. Jepang juga menghadapi peningkatan biaya impor minyak seiring peralihan sebagian pasokan energi ke Amerika Serikat dan perubahan sumber pasokan dari Timur Tengah di tengah konflik Iran.

Meski demikian, harga energi konsumen Jepang masih turun 0,6% pada September. Penurunan ini antara lain terbantu oleh subsidi energi yang diberikan pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi.

Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama sebelumnya menyatakan bahwa negaranya berada di ambang peralihan menuju periode inflasi berkelanjutan yang didorong kenaikan upah. Namun, ia juga mengakui bahwa kenaikan biaya impor ikut mendorong harga.

Jepang Bahas Pemangkasan Pajak Pangan

Di tengah tekanan harga, parlemen Jepang mulai membahas rancangan kebijakan untuk memangkas pajak konsumsi atas bahan pangan menjadi 1% dari sebelumnya 8% selama dua tahun.

Menurut laporan penyiar publik NHK, rancangan tersebut juga mencakup ketentuan mengenai bantuan bagi pekerja berdasarkan tingkat pendapatan.

Kebijakan ini diharapkan dapat membantu menahan beban biaya hidup masyarakat. Namun, perkembangan inflasi tetap menjadi perhatian karena kenaikan suku bunga untuk meredam harga dapat menambah biaya pinjaman bagi rumah tangga dan pelaku usaha.

Di pasar keuangan, indeks saham Nikkei 225 melemah sekitar 1,6% pada perdagangan Jumat. Sementara itu, yen menguat ke kisaran 156,15 per dolar AS.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Video: Harga Minyak & Inflasi AS Melonjak, Suku Bunga The Fed Naik


Most Popular
Features