Rupiah Melemah Tipis Pagi Ini, Dolar AS Naik ke Rp18.050
Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan terhadap rupiah belum mereda. Pada pembukaan perdagangan Jumat (23/10/2026), mata uang Garuda kembali melemah tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Merujuk data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp18.050/US$, melemah 0,03% atau 5 poin dibandingkan penutupan Kamis (22/10/2026) di posisi Rp18.045/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau relatif stagnan di posisi 101,603.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) memperkirakan penyaluran kredit baru perbankan meningkat pada kuartal IV-2026, seiring dengan standar pemberian kredit yang mulai lebih longgar.
Berdasarkan Survei Perbankan Triwulan III-2026 yang dirilis Kamis (22/10/2026), Saldo Bersih Tertimbang (SBT) penyaluran kredit baru diproyeksikan naik menjadi 91,31%, dari 90,08% pada kuartal sebelumnya.
Prospek tersebut sejalan dengan penurunan Indeks Lending Standard (ILS) dari 0,28 menjadi 0,15, yang menunjukkan standar penyaluran kredit diperkirakan lebih longgar. Perkembangan ini turut mencerminkan upaya mendorong pembiayaan di tengah langkah BI memperbesar ruang likuiditas perbankan.
Dari eksternal, perhatian pasar tertuju pada meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.
Mengutip laporan The New York Times, AS dan Israel disebut telah menyusun rencana untuk kembali melancarkan serangan terhadap Iran setelah pemilu paruh waktu AS pada November mendatang.
Ketidakpastian semakin meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington tidak sedang bernegosiasi dengan Teheran. Trump juga mengisyaratkan kemungkinan adanya perkembangan dalam waktu dekat.
Situasi tersebut turut menjaga harga minyak dunia di level tinggi. Pada awal perdagangan Asia Jumat (23/10/2026), harga minyak mentah Brent berada di sekitar US$112,96 per barel, setelah melonjak sekitar 4% pada perdagangan sebelumnya.
Bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak bersih, tingginya harga minyak berpotensi meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor energi sekaligus memperbesar risiko inflasi domestik.
Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, investor juga beralih ke obligasi pemerintah AS (US Treasury) sebagai aset aman.
Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun lebih dari 17 basis poin menjadi 4,972%, level terendah dalam hampir satu bulan. Sementara itu, yield tenor dua tahun merosot lebih dari 16 basis poin menjadi 4,659%.
Penurunan imbal hasil obligasi AS berpotensi mengurangi tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Namun, tingginya ketidakpastian geopolitik masih membuat investor berhati-hati terhadap aset berisiko, sehingga ruang penguatan rupiah tetap terbatas.
(evw/evw) [Gambas:Video CNBC]