Bos BI Ungkap Prospek Ekonomi Global Suram, Inflasi Tembus 4,6%
Jakarta, CNBC Indonesia - Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan prospek perekonomian global masih lemah dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi. Kondisi ini dipengaruhi oleh meningkatnya tensi perang di Timur Tengah yang membuat harga minyak dunia bertahan tinggi.
Destry menyampaikan, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan berada di kisaran 3%, sementara tekanan inflasi mencapai 4,6%.
"Prospek perekonomian global lemah dengan ketidakpastian tinggi. Kondisi ini makin kuatnya tensi perang timur tengah sehingga harga minyak tetap tinggi. pertumbuhan ekonomi sekitar 3% dan tekanan inflasi 4,6%," ujar Destry dalam paparan RDG, Rabu (21/10/2025).
Ketidakpastian global tersebut juga diperkirakan memengaruhi arah kebijakan moneter negara-negara utama, khususnya Amerika Serikat (AS).
Menurut Destry, kebijakan moneter ketat diperkirakan bertahan lebih lama. Ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter AS turut memengaruhi pergerakan imbal hasil surat utang pemerintah AS atau US Treasury (UST) yang diperkirakan tetap tinggi.
Tekanan juga berasal dari kondisi fiskal AS, seiring dengan defisit anggaran yang semakin besar. Kombinasi faktor tersebut berpotensi mempertahankan daya tarik aset keuangan AS di tengah ketidakpastian global.
Di pasar keuangan internasional, preferensi investor terhadap negara-negara pasar berkembang atau emerging markets juga masih terbatas. Kondisi ini membuat indeks dolar AS (DXY) bertahan kuat.
"Di pasar keuangan global preferensi investor di emerging market terbatas sehingga membuat DXY (indeks dolar AS) tetap kuat," kata Destry.
Penguatan dolar AS dan terbatasnya minat investor terhadap aset pasar berkembang menjadi tantangan bagi negara-negara seperti Indonesia dalam menjaga stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar.
Perkembangan ekonomi global tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati dalam menentukan arah kebijakan ekonomi domestik, terutama di tengah risiko kenaikan harga energi, tekanan inflasi, serta perubahan arus modal global.
Adapun, bagi Indonesia, kondisi tersebut menuntut kewaspadaan terhadap dampak rambatan dari pasar keuangan global, termasuk potensi tekanan terhadap rupiah dan kebutuhan menjaga stabilitas makroekonomi.
"Kondisi ini mengharuskan penguatan respons sinergi fiskal dan moneter," tegas Destry.
(haa/haa)