Akhir Sesi I, IHSG Anjlok 0,84%
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok di zona merah pada akhir sesi I hari ini. IHSG berada di level 5.234,36, turun 44,53 poin atau 0,84%.
Padahal, indeks dibuka menguat di level 5.310,85 dan sempat mencapai titik tertinggi harian di 5.326,96. Namun, tekanan jual pada awal sesi membuat IHSG anjlok hingga menyentuh level terendah di 5.185,36, sehingga rentang pergerakan harian mencapai sekitar 142 poin. Setelah menyentuh titik terendah menjelang pukul 10.00 WIB, indeks perlahan memantul dan bergerak terbatas di kisaran 5.220 hingga 5.240 hingga menjelang tengah hari.
Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi tercatat sebesar 171,51 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp9.133,76 miliar.
Pelemahan IHSG disebabkan oleh 499 saham dan 246 saham tak bergerak. Sementara hanya 218 saham yang bergerak menguat.
Pelaku pasar diperkirakan masih akan mencermati langkah Bursa Efek Indonesia (BEI), pemerintah hingga Danantara dalam merespons pengumuman MSCI, aksi pembelian kembali saham oleh sejumlah emiten konglomerat, serta arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat penegakan aturan di pasar modal.
Pasar keuangan Indonesia pada perdagangan Rabu (21/10/2026) juga masih dibayangi sejumlah sentimen penting dari dalam dan luar negeri. Fokus utama investor tertuju pada pengumuman suku bunga Bank Indonesia (BI) hari ini.
Dari mancanegara, keputusan bank sentral China yang kembali menahan suku bunga serta rilis data ketenagakerjaan Inggris turut mewarnai arah pasar.
Bayang-bayang MSCI belum sepenuhnya hilang. Kekhawatiran bahwa Indonesia bisa diturunkan dari Emerging Market menjadi Standalone Market menjadi pemicu utama aksi jual besar-besaran pekan lalu. Pasar kini menanti realisasi pembelian saham oleh Danantara, sekaligus menguji apakah reli saham BUMN dapat berlanjut.
Bola panas kini berada di tangan BI. Rapat Dewan Gubernur yang digelar sejak Selasa akan mengumumkan keputusan suku bunga hari ini, di tengah rupiah yang sempat kembali menembus Rp18.000 per dolar AS.
Polling CNBC Indonesia Research terhadap 13 institusi menunjukkan 10 responden memperkirakan BI menaikkan suku bunga 25 bps menjadi 6,00%. Tiga responden lainnya memprediksi suku bunga ditahan di 5,75%. Jika terjadi, kenaikan ini menjadi yang pertama setelah BI menahan suku bunga tiga bulan berturut-turut, menyusul kenaikan kumulatif 100 bps pada Mei-Juni 2026.
(rob/rob)