IHSG Lanjutkan Penguatan, Dibuka Naik 0,61% ke Level 5.310
Jakarta,CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali dibuka menguat pada perdagangan Senin (19/10/2026). Indeks acuan bursa RI tersebut mengawali sesi I hari ini naik 0,61% ke level 5.310,85 atau naik 32 poin poin dibandingkan penutupan perdagangan kemarin.
Meski demikian kurang dari lima menit pasar buka, IHSG malah berbalik arah dan bergerak di zona merah.
Kenaikan ini melanjutkan rebound perdagangan kemarin kala IHSG lompat 5,65% setelah ramai-ramai emiten di bursa mengumumkan aksi buyback, serta keterangan dari SRO, regulator hingga pemerintah yang kompak mau berbenah menyelesaikan permasalahan pasar modal.
Sebelumnya IHSG sempat terkoreksi dalam imbas kabar MSCI. Diketahui dalam 3 hari perdagangan (15, 16 dan 18 Oktober) IHSG tercatat sempat anjlok 946 poin (-15,93%).
Adapun total volume perdagangan pada dua menit awal pasar dibuka tercatat 1,72 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 1,21 triliun yang berpindah tangan 101.082 kali. Sebanyak 378 saham menguat, 191 stagnan dan hanya 136 yang melemah.
Pelaku pasar diperkirakan masih akan mencermati langkah Bursa Efek Indonesia (BEI), pemerintah hingga Danantara dalam merespons pengumuman MSCI, aksi pembelian kembali saham oleh sejumlah emiten konglomerat, serta arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat penegakan aturan di pasar modal.
Pasar keuangan Indonesia pada perdagangan Rabu (21/10/2026) juga masih dibayangi sejumlah sentimen penting dari dalam dan luar negeri. Fokus utama investor tertuju pada pengumuman suku bunga Bank Indonesia (BI) hari ini. Dari mancanegara, keputusan bank sentral China yang kembali menahan suku bunga serta rilis data ketenagakerjaan Inggris turut mewarnai arah pasar.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bangkit tajam pada perdagangan Selasa (20/10/2026). Indeks ditutup melesat 5,65% ke level 5.278,89 setelah dua hari sebelumnya terpuruk, yakni anjlok 11,57% pada Jumat (16/10/2026) dan melemah 3,64% pada Senin (19/10/2026). Kebangkitan ini dimotori saham-saham BUMN dan anak usahanya. Sebanyak 20 saham pelat merah kompak menghijau, dipimpin PGEO yang melonjak 19,28%, TLKM yang naik 16,38%, dan WTON yang menguat 11,86%. Bank-bank BUMN juga ikut terbang, dengan BBRI, BMRI, dan BBNI masing-masing menguat hampir 9%-10%. Nilai transaksi 20 saham tersebut mencapai sekitar Rp6,34 triliun.
Optimisme pasar terutama dipicu rencana Danantara menambah kepemilikan di sejumlah BUMN berfundamental kuat. CEO Danantara Rosan Roeslani menilai penurunan harga saham justru membuka peluang investasi jangka panjang. Menurutnya, valuasi saham perbankan kini relatif murah, dengan rata-rata PBV di bawah satu kali, padahal kondisi perbankan masih sehat dan dividennya menarik. Pembelian akan dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan kondisi pasar. Langkah ini diperkuat oleh rencana BEI mengeluarkan saham berkepemilikan terkonsentrasi (HSC) dari perhitungan IHSG, serta arahan Presiden Prabowo agar OJK memperketat penegakan aturan pasar modal.
Meski demikian, bayang-bayang MSCI belum sepenuhnya hilang. Kekhawatiran bahwa Indonesia bisa diturunkan dari Emerging Market menjadi Standalone Market menjadi pemicu utama aksi jual besar-besaran pekan lalu. Pasar kini menanti realisasi pembelian saham oleh Danantara, sekaligus menguji apakah reli saham BUMN dapat berlanjut.
Bola panas kini berada di tangan BI. Rapat Dewan Gubernur yang digelar sejak Selasa akan mengumumkan keputusan suku bunga hari ini, di tengah rupiah yang sempat kembali menembus Rp18.000 per dolar AS. Polling CNBC Indonesia Research terhadap 13 institusi menunjukkan 10 responden memperkirakan BI menaikkan suku bunga 25 bps menjadi 6,00%. Tiga responden lainnya memprediksi suku bunga ditahan di 5,75%. Jika terjadi, kenaikan ini menjadi yang pertama setelah BI menahan suku bunga tiga bulan berturut-turut, menyusul kenaikan kumulatif 100 bps pada Mei-Juni 2026.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengingatkan tekanan pasar mulai merambat dari saham ke obligasi dan nilai tukar. Kenaikan suku bunga dinilai bisa menjaga daya tarik aset rupiah dan menahan arus modal keluar. Namun, langkah tersebut bukan jaminan rupiah langsung menguat. Pasalnya, tekanan saat ini tidak hanya bersumber dari selisih suku bunga, tetapi juga dari meningkatnya persepsi risiko terhadap pasar keuangan Indonesia.
Dari Asia, People's Bank of China (PBOC) kembali menahan Loan Prime Rate (LPR) tenor satu tahun di 3,00% dan tenor lima tahun di 3,50%, sesuai perkiraan pasar. Dengan demikian, kedua suku bunga tidak berubah selama 17 bulan beruntun. Ekonomi China yang tumbuh 4,5% yoy pada kuartal III-2026 memberi ruang bagi PBOC untuk tidak terburu-buru melonggarkan kebijakan. Meski begitu, pemulihan China belum merata karena masih bertumpu pada ekspor, sementara konsumsi, investasi swasta, dan sektor properti masih tertekan. PBOC juga tengah mengkaji penggunaan suku bunga reverse repo overnight sebagai acuan kebijakan utama.
Di Eropa, tingkat pengangguran Inggris turun ke 4,7% pada periode Juni-Agustus 2026, lebih baik dari ekspektasi 4,9% dan menjadi yang terendah sejak pertengahan 2025. Pertumbuhan upah di luar bonus juga naik menjadi 3,7% yoy. Namun, jumlah lowongan kerja merosot ke 691.000, level terendah di luar masa pandemi sejak 2014. Kondisi ini memperkuat ekspektasi Bank of England menaikkan suku bunga 25 bps menjadi 4,00% pada 5 November 2026, di tengah tekanan inflasi akibat mahalnya harga energi imbas konflik Timur Tengah.
(fsd/fsd)