Rupiah Dibuka Menguat Pagi Ini, Dolar AS Turun Tipis ke Rp18.010
Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah beberapa hari berada di bawah tekanan, rupiah akhirnya menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Selasa (20/10/2026).
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka menguat 0,11% ke posisi Rp18.010/US$ dibandingkan penutupan Senin (19/10/2026) di level Rp18.030/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau melemah 0,05% ke posisi 101,930.
Pergerakan rupiah hari ini dibayangi sejumlah sentimen domestik, terutama langkah Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas nilai tukar serta perkembangan terbaru terkait MSCI.
Sehari sebelumnya, Destry Damayanti melaporkan perkembangan inflasi dan nilai tukar rupiah kepada Presiden Prabowo Subianto. Ia menegaskan bahwa BI tetap berfokus menjaga stabilitas rupiah di tengah tingginya volatilitas global.
"Tapi so far dua hari ini, rupiah bisa kami jaga stabilitasnya sehingga terjadi memang sedikit perlambatan dan itu juga sesuai dengan beberapa negara di emerging market," ujar Destry.
BI juga terus menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi di pasar spot, non-deliverable forward (NDF), dan domestic non-deliverable forward (DNDF), serta pemberian insentif biaya lindung nilai (hedging). Menurut Destry, kebijakan tersebut telah mendatangkan aliran dana melalui transaksi FX swap dan DNDF sekitar US$8-9 miliar.
Di tengah upaya menjaga stabilitas rupiah, perhatian pasar juga tertuju pada langkah Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam merespons kekhawatiran MSCI terhadap pasar saham domestik.
Setelah bertemu dengan MSCI pada Senin (19/10/2026), BEI mengumumkan rencana mengeluarkan saham berkategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Saham dengan kepemilikan yang terkonsentrasi pada sejumlah kecil pemegang saham ini memiliki bobot sekitar 18% terhadap indeks.
Selain itu, BEI akan memperluas keterbukaan informasi mengenai hubungan afiliasi pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1%. Kedua langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan transparansi pasar dan membantu memulihkan kepercayaan investor, meskipun waktu penerapannya belum diumumkan.
Upaya meredakan tekanan pasar juga datang dari Danantara yang menyatakan kesiapan menambah kepemilikan saham BUMN berfundamental kuat di tengah gejolak pasar saham domestik.
Sementara itu, investor turut menantikan keputusan suku bunga Bank Indonesia melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 20-21 Oktober 2026. Keputusan yang dijadwalkan diumumkan Rabu (21/10/2026) tersebut menjadi perhatian di tengah tekanan terhadap rupiah dan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan.
(evw/evw) [Gambas:Video CNBC]