IHSG Masih Anjlok, Ini Rekomendasi Saham yang Menarik Buat Dilirik

, CNBC Indonesia
Selasa, 20/10/2026 08:50 WIB
Ilustrasi grafik saham dalam latar belakang hitam

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 3,64% ke level 4.996,61 pada perdagangan Senin (19/10). Di tengah tekanan pasar, BSIM menjadi leading mover dengan kenaikan 24,83%, disusul AADI yang menguat 2,78% dan DSSA naik 2,10%. Sementara itu, BBCA turun 6,86%, BYAN melemah 6,95%, dan BBRI terkoreksi 3,79%.

Investor asing mencatatkan net sell Rp2,28 triliun di pasar reguler dan Rp1,72 triliun di seluruh pasar. Seluruh 11 sektor di BEI berakhir di zona merah, dengan sektor Basic Industry mencatat pelemahan terdalam sebesar 4,57%.

Di bursa Amerika Serikat (AS), pergerakan indeks ditutup variatif. Dow Jones turun tipis 0,07% ke level 51.966, S&P 500 naik 0,41% ke 7.690, sedangkan Nasdaq menguat 1,11% ke 26.430.


Tekanan jual di pasar domestik mulai mereda setelah pemberlakuan kebijakan Auto Rejection Bawah (ARB) 7% serta langkah BEI setelah melakukan pertemuan dengan MSCI. Meski demikian, ETF EIDO dan MSCI Indonesia masih tercatat turun masing-masing 3,32% dan 4,17%.

Kali ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mengeluarkan seluruh saham yang masuk dalam daftar High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG setelah pertemuan dengan MSCI.

Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan kredibilitas indeks sekaligus memberikan gambaran pergerakan IHSG yang lebih representatif di tengah potensi risiko pada saham-saham HSC.

Kebijakan ini tidak berarti saham HSC akan dihapus dari BEI. Saham-saham tersebut tetap dapat diperdagangkan, tetapi pergerakan harganya tidak lagi diperhitungkan dalam IHSG.

Saat ini, saham yang masuk dalam daftar HSC memiliki bobot sekitar 18% terhadap IHSG. Berdasarkan materi OJK, kapitalisasi pasar saham HSC mencapai Rp3.076,5 triliun atau sekitar 28,8% dari total kapitalisasi pasar BEI per September 2026.

Jumlah saham dalam daftar HSC saat ini mencapai 83 saham setelah BEI menambahkan 19 saham pada 12–13 Oktober 2026.

Selain perubahan perhitungan IHSG, BEI juga akan menambahkan informasi mengenai status afiliasi dalam publikasi pemegang saham dengan kepemilikan 1% atau lebih. Waktu efektif kedua kebijakan tersebut akan diumumkan lebih lanjut, sementara perkembangan terkait sanksi terhadap saham HSC akan diperbarui oleh OJK.

Dari sisi emiten, ada PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) yang menaikkan target marketing sales 2026 sebesar 41,83% menjadi Rp2,95 triliun dari sebelumnya Rp2,08 triliun.

Kenaikan target tersebut didorong oleh meningkatnya permintaan lahan industri, terutama dari segmen data center. Hingga sembilan bulan pertama 2026, DMAS telah membukukan marketing sales sebesar Rp2,61 triliun atau 88,57% dari target terbaru dan 125,91% dibandingkan target awal.

Segmen data center menjadi salah satu kontributor utama penjualan lahan industri DMAS sepanjang periode tersebut.

Kinerja keuangan DMAS pada semester I 2026 juga mencatat pertumbuhan. Pendapatan meningkat 193,64% secara tahunan menjadi Rp1,80 triliun, dari Rp613 miliar pada semester I 2025. Sementara itu, laba bersih naik 154,04% menjadi Rp1,10 triliun dari Rp433 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, tiga emiten sekaligus yakni PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menyiapkan aksi pembelian kembali saham atau buyback di tengah kondisi pasar yang mengalami fluktuasi signifikan.

Mengacu pada POJK No. 13/2023 dan SOJK 112/2026, aksi tersebut dapat dilakukan tanpa memerlukan persetujuan RUPS. CUAN menyiapkan dana maksimal Rp500 miliar, sedangkan BREN dan DSSA masing-masing mengalokasikan maksimal Rp1 triliun. Seluruh dana buyback berasal dari kas internal perusahaan.

Secara proforma, buyback CUAN akan menurunkan total aset dari USD 2.65bn menjadi USD 2.62bn dan total ekuitas dari USD 638.37mn menjadi USD 610.37mn. 

Buyback BREN akan menurunkan total aset dari USD 4.04bn menjadi USD 3.99bn dan total ekuitas dari USD 944.99mn menjadi USD 889.27mn.

Sementara itu, DSSA menyatakan aksi buyback tidak akan menurunkan pendapatan perusahaan dan dapat meningkatkan laba per saham.

Ketiga emiten menyebut aksi buyback tersebut ditujukan untuk menjaga stabilitas harga saham dan meningkatkan nilai bagi pemegang saham. Periode buyback CUAN dan BREN berlangsung mulai 19 Oktober hingga 31 Desember 2026, sedangkan DSSA akan melakukan buyback pada 19 Oktober 2026 hingga 18 Januari 2027.

Rekomendasi Saham Hari Ini

Disclaimer: Ingat, bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. 


(ayh/ayh)